<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3493988676080638915</id><updated>2012-02-16T14:57:29.800+07:00</updated><category term='Sejarah'/><category term='Sirah Rasul SAW'/><category term='Kisah Shahabat-Shahabiyah'/><category term='Biografi Tokoh'/><category term='Renungan'/><category term='Kuliah Ramadlan'/><category term='wawasan'/><category term='Fikrah Islam'/><category term='about me'/><category term='What Picture Tell Us'/><category term='gender'/><category term='Tsaqafah'/><category term='Renunganku'/><category term='baiti jannati'/><category term='Dapur Halal'/><category term='News'/><category term='Tarikh Islam'/><category term='liberalisme'/><title type='text'>Islam for Hope and Life</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hilyathasan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hilyathasan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Hilyat Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04153284808943762507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/SoiPx06Vm7I/AAAAAAAAADU/BEKY3rsSXO8/S220/Image0112.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>60</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3493988676080638915.post-8370067113597571610</id><published>2011-05-30T15:52:00.000+07:00</published><updated>2011-05-30T15:52:33.466+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fikrah Islam'/><title type='text'>Antara Rezeki, Jodoh, dan Ajal/Kematian</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Banyak  mungkin diantara kita yang masih berpendapat bahwa Rezeki, Ajal, serta  jodoh telah ditetapkan oleh Allah semenjak kita masih di dalam  kandungan. Pemikiran seperti ini mungkin telah mentajasad atau seolah  telah mendarah daging di dalam diri kita (red = pemikiran). Apalagi  kiranya sejak kecil mungkin orang tua, guru, dan lingkungan masyarakat  dimana tempat kita hidup pun kalimat ini sampai sekarang masih sangat  familiar diulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membahas ini, maka mari kita  coba untuk urai masalah ini sehingga kita bisa menyimpulkan tentang  hakikat dari ketiga kata tersebut, yakni seputar Rezeki, Ajal, dan  Jodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. REZEKI &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ar-Rizqu  (rezeki) secara bahasa berasal dari akar kata razaqa–yarzuqu–razq[an] wa  rizq[an]. Razq[an] adalah mashdar yang hakiki, sedangkan rizq[an]  adalah ism yang diposisikan sebagai mashdar. Kata rizq[an] maknanya  adalah marzûq[an] (apa yang direzekikan); mengunakan redaksi fi’l[an]  dalam makna maf’ûl (obyek) seperti dzibh[an] yang bermakna madzbûh  (sembelihan).&lt;br /&gt;Secara bahasa razaqa artinya a’thâ (memberi) dan  ar-rizqu artinya al-‘atha’ (pemberian). 1 Menurut ar-Razi dan  al-Baydhawi, secara bahasa ar-rizqu juga berarti al-hazhzhu  (bagian/porsi), yaitu nasib (bagian) seseorang yang dikhususkan untuknya  tanpa orang lain. Karena itu, Abu as-Saud mengartikan ar-rizqu dengan  al-hazhzhu al-mu’thâ (bagian/porsi yang diberikan).2 Menurut Ibn Abdis  Salam dalam tafsirnya, asal dari ar-rizqu adalah al-hazhzhu  (bagian/porsi). Karena itu, apa saja yang dijadikan sebagai bagian/porsi  (seseorang) dari pemberian Allah adalah rizq[an]. Selain itu, ar-rizqu  juga diartikan apa saja yang bisa dimanfaatkan. Dari semuanya itu,  ar-rizqu bisa diartikan sebagai: bagian/porsi dari pemberian Allah  kepada seorang hamba berupa apa saja yang bisa dimanfaatkan sebagai  bagian/porsi yang dikhususkan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat tentang  rezeki lebih banyak menunjuk pada harta baik berupa barang maupun jasa  yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi aneka kebutuhan manusia. Konteks  ayat-ayat bahwa Allah meluaskan dan menyempitkan rezeki juga lebih  menunjuk pada konotasi harta. Itu pula yang diindikasikan oleh ayat-ayat  yang mengaitkan rezeki dengan konsumsi dan infak (pembelanjaan), karena  konsumsi dan infak hanya terkait dengan harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rezeki  berbeda dengan kepemilikan. Kepemilikan adalah penguasaan sesuatu dengan  tatacara yang diperbolehkan syariah untuk menguasai harta. Jadi, rezeki  itu mencakup rezeki yang halal maupun yang haram. Inilah yang menjadi  pendapat Ahlus Sunnah sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam al-Qurthubi.  Semuanya dikatakan sebagai rezeki. Harta yang diambil penjudi dari  lawannya dalam perjudian adalah rezeki. Sebab, rezeki yang halal ataupun  haram itu adalah harta yang diberikan oleh Allah ketika seseorang  berbuat untuk melangsungkan kondisi yang di dalamnya bisa diperoleh  rezeki.3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rezeki bukan hanya yang secara riil dimanfaatkan  (dinikmati) oleh seseorang. Ayat-ayat al-Quran menunjukkan bahwa rezeki  manusia adalah apa saja yang ia kuasai baik yang ia manfaatkan maupun  tidak (Lihat QS al-Baqarah [2]: 57, 60; an-Nisa’ [4]: 5; ar-Ra’d [13]:  26; al-Hajj [22]: 34). Ayat-ayat itu jelas memutlakkan rezeki untuk  menyebut semua yang dikuasai baik dimanfaatkan (secara riil) maupun  tidak. Tidak bisa dikhususkan pada apa yang dimanfaatkan (secara riil)  saja tanpa ada ayat yang mengkhususkannya, karena ayat-ayat tersebut  bersifat umum dan penunjukannya juga umum. Jika orang mencuri, menilap  atau merampas harta orang lain, tidak dikatakan ia mengambil rezeki  orang itu. Namun, ia mengambil rezkinya dari orang itu. Tidak ada  seorang pun yang mengambil rezeki orang lain, melainkan seseorang  mengambil rezekinya dari pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rezeki dan Usaha&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Banyak  orang menduga, merekalah yang mendatangkan rezeki mereka sendiri.  Mereka menganggap kondisi-kondisi mereka meraih harta—barang atau  jasa–sebagai sebab datangnya rezeki; meskipun mereka menyatakan, bahwa  Allahlah Yang memberikan rezeki. Profesi atau usaha yang dicurahkan  mereka anggap sebagai sebab datangnya rezeki.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fakta  yang ada sebenarnya cukup jelas menunjukkan kesalahan anggapan itu.  Banyak orang yang telah berusaha dengan segenap tenaga dan pikirannya,  tetapi rezeki tidak datang, bahkan tidak jarang justru merugi.  Sebaliknya, sangat banyak fakta bahwa rezeki datang kepada seseorang  tanpa dia melakukan usaha apapun. Ini menunjukkan bahwa usaha bukan  sebab bagi datangnya rezeki. Rezeki tidak berada di tangan manusia.  Allahlah yang menentukan rezeki itu datang kepada manusia dan Dia  memberinya kepada manusia menurut kehendak-Nya.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak  ayat al-Quran menegaskan secara pasti bahwa rezeki semata ada di tangan  Allah dan Allahlah yang memberi rezeki (QS al-Baqarah [2]: 172, 212,  254; Ali Imran [3]: 27, 37; al-An’am [6]: 142; al-‘Ankabut [29]: 60;  ar-Rum [30]: 40; dsb). Dia meluaskan dan menyempitkan rezeki seseorang  sesuai dengan kehendakNya (QS ar-Ra’d [13]: 26; al-Isra’ [17]: 30;  al-Qashshash [28]: 82; al-‘Ankabut [29]: 62; ar-Rum [30]: 37; Saba’  [34]: 36; az-Zumar [39]: 52; asy-Syura [42]: 12). Sesuai kehendak-Nya,  Dia memberi rezeki kepada seseorang dari arah yang tidak  disangka-sangka. Karena itu, Allah SWT berfirman (artinya): Mintalah  rezeki itu di sisi Allah (TQS al-‘Ankabut [29]: 17). Jadi, rezeki semata  di tangan Allah dan hanya Allahlah yang memberi rezeki. Ini adalah  keyakinan yang harus diimani dan mengingkarinya berarti kufur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun  dari sisi amal, Allah SWT mewajibkan hamba-Nya untuk berusaha dan  berikhtiar melangsungkan kondisi-kondisi yang di dalamnya rezeki bisa  datang. Namun, pada saat yang sama, ia harus paham bahwa usaha, ikhtiar  dan kondisi itu bukan sebab bagi datangnya rezeki. Allah tidak  menanyakan tentang datang dan tidaknya rezeki, tetapi Allah akan  menanyakan usaha dan amal hamba untuk mencari rezeki. Karenanya, Allah  menjelaskan mana yang halal dan yang tidak.&lt;br /&gt;Rezeki setiap hamba  telah dijamin oleh Allah. Allah pun telah menetapkan kadar dan takaran  bagian atau porsi rezeki tiap hamba (Lihat: QS Hud [11]: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Imam  Muslim meriwayatkan dari Ibn Mas’ud bahwa pada usia kandungan 120 hari,  Allah mengutus malaikat untuk menuliskan beberapa ketetapan atas janin  itu, termasuk ketetapan rezeki dan ajalnya. Para ulama menjelaskan,  yaitu ketetapan sedikit dan banyaknya rezeki. Sedikit dan banyaknya  rezeki atau kaya dan miskinnya seorang hamba tidak akan dihisab oleh  Allah karena itu semata adalah ketetapan Allah.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Allah  SWT meluaskan dan menyempitkan rezeki seorang hamba sesuai  kehendak-Nya. Itu adalah ujian bagi hamba (QS al-Fajr [89]: 15-16). Kaya  dan miskin tidak bersifat baik atau buruk dengan sendirinya; juga tidak  menentukan mulia dan hinanya seseorang. Namun, kaya dan miskin itu  menjadi baik atau buruk, memuliakan atau menghinakan, ditentukan oleh  penyikapan terhadapnya.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rezeki seorang  hamba telah dijamin oleh Allah. Porsi dan takarannya juga telah  ditetapkan. Jika hamba itu memintanya dengan jalan yang halal ataupun  dengan jalan yang haram, Allah berikan. Namun, Allah akan menanyai  tatacara perolehan dan pembelanjaan harta itu.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;لاَ  تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ  عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ  مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا  أَبْلاَهُ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua kaki seorang hamba tidak akan  bergeser pada Hari Kiamat hingga ia ditanya: umurnya dia habiskan untuk  apa; ilmunya diamalkan untuk apa; hartanya dari mana ia peroleh dan  dibelanjakan untuk apa’;dan tubuhnya digunakan untuk apa (HR  at-Tirmidzi).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seret atau tertundanya rezeki  hendaknya tidak membuat seseorang tergesa-gesa lalu memintanya kepada  Allah dan mencarinya dengan jalan yang haram. Rasul saw. berpesan:&lt;br /&gt;إِنَّ  رُوْحَ الْقُدْسِ نَفَثَ فِيْ رَوْعِيْ: إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتُ  حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِيْ  الطَّلَبِ وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ  تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِيْ اللهِ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرَكُ مَا عِنْدَهُ  إِلاَّ بِطَاعَتِهِ&lt;br /&gt;Malaikat Jibril membisikkan di dalam hatiku,  bahwa suatu jiwa tidak akan mati hingga telah sempurna rezekinya. Karena  itu, bertakwalah kepada Allah dan carilah (rezeki) dengan cara yang  baik—halal, proporsional dan tidak tersibukkan dengannya—dan hendaklah  tertundanya (lambatnya datang) rezeki tidak mendorong kalian untuk  mencarinya dengan kemaksiatan kepada Allah, karena sesungguhnya  keridhaan di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan ketaatan  kepada-Nya (HR Abu Nu’aim, al-Baihaqi dan al-Bazar dari Ibn Mas’ud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Keimanan  tentang rezeki itu menjadi salah satu kunci seorang tidak akan  tersibukkan dengan dunia, tidak menjadi pemburu harta, bisa bersikap  zuhud, giat beramal, berdakwah amar makruf nahi mungkar dan ketaatan  pada umumnya. Imam Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang rahasia  zuhudnya. Beliau menjawab, “Aku tahu rezekiku tidak akan bisa diambil  orang lain. Karena itu, hatikupun jadi tenteram. Aku tahu amalku tidak  akan bisa dilakukan oleh selainku,. Karena itu, aku pun sibuk beramal.  Aku tahu Allah selalu mengawasiku. Karena itu, aku malu jika Dia  melihatku di atas kemaksiatan. Aku pun tahu kematian menungguku. Karena  itu, aku mempersiapkan bekal untuk berjumpa dengan-Nya.”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. JODOH &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lafadz  “jodoh” adalah kata yang dipakai dalam bahasa Indonesia untuk menunjuk  makna tertentu. Lafadz ini berbeda dengan lafadz suami, istri, pasangan  hidup atau yang semisal dengannya. Lafadz jodoh menurut kamus bahasa  Indonesia adalah “pasangan yang cocok” baik bagi laki-laki maupun  perempuan. Oleh karena itu lafadz jodoh memiliki makna yang lebih  spesifik dari lafadz suami, istri, atau pasangan hidup, sebab di sana  terdapat penjelasan sifat lebih khusus dari sekedar pasangan hidup.  Dalam bahasa Arab, kata yang bermakna “jodoh” seperti yang terdapat  dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan. Para Fuqaha’ ketika membahas  hukum pernikahan hanya menyebut istilah ( زَوْجٌ ) atau( بَعْلٌ ) untuk  suami, dan ( زَوْجَةٌ ) atau ( امْرَأَةٌ ) untuk istri, yakni  istilah-istilah yang berkonotasi “netral” tanpa ada penekanan sifat  tertentu sebagaimana kata suami, istri, atau pasangan hidup dalam bahasa  Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun makna jodoh yang menjadi topik diskusi  di sini adalah “orang atau individu tertentu yang akan menjadi pasangan  hidup kita”, dengan titik diskusi: Apakah Allah telah menentukan dalam  Lauhul Mahfudz, sebelum manusia dilahirkan bahwa ia akan dipasangkan  dengan individu tertentu ataukah tidak? Artinya apakah Allah sudah  mentakdirkan dalam Azal bahwa A akan dipasangkan dengan B, C dipasangkan  dengan D, ataukah tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawab pertanyaan ini,  tentu harus dilakukan studi yang mendalam terhadap nash-nash yang  terkait dengan topik tersebut berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah atau  dalil yang ditunjuk keduanya seraya mengesampingkan semua dasar yang  tidak terkait dengan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah baik ia berupa adat,  tradisi, pameo, peribahasa, dsb.&lt;br /&gt;Hanya saja, pembahasan tentang  jodoh termasuk perkara Qadha’ atau bukan tidak boleh dicampur adukkan  dengan pembahasan keimanan bahwa Allah adalah ( اْلمُدَبِّرُ ) (Maha  Pengatur). Sebab, pembahasan “jodoh termasuk perkara Qadha’ atau bukan”  adalah satu hal, sementara pembahasan tentang keimanan bahwa Allah  bersifat ( اْلمُدَبِّرُ ) adalah hal yang lain. Masing-masing adalah  topik tersendiri yang harus dibahas berdasarkan nash-nash yang terkait  dengan topik itu. Mencampur adukkan dua topik pembahasan ini adalah  langkah keliru karena bertentangan dengan fakta pembahasan, sebagaimana  bisa berakibat kekacauan terhadap pemahaman. Dengan demikian dua macam  pembahasan itu harus dipisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinjauan sekilas terhadap  persoalan jodoh menunjukkan bahwa persoalan ini adalah termasuk masalah  aqidah, sebab kepercayaan bahwa Allah mentakdirkan A berpasangan dengan  B, C berpasangan dengan D, atau Allah tidak mentakdirkan itu adalah  jenis keyakinan, bukan amal. Efek pembahasan yang paling akhir adalah  membentuk keyakinan tertentu seputar persoalan tersebut, bukan membahas  apa yang harus dikerjakan oleh seorang mukallaf. Dengan demikian masalah  jodoh adalah masalah aqidah, bukan syariat dan dalam masalah ini  pambahasan tersebut tidak ada bedanya dengan pembahasan tentang rezeki,  ajal, Dajjal, siksa kubur, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persoalan aqidah,  seorang Muslim harus mendasarkan semua kepercayaannya atas dalil yang  shohih. Tidak diperkenankan seorang Muslim memiliki keyakinan tanpa ada  dalil., yakni sekedar menduga-duga atau mengikuti umumnya kata orang.  Dalil itupun harus bersifat ( قَطْعِيٌّ ) (pasti), tidak boleh bersifat (  ظَنِّيٌّ ) (dugaan). Meskipun ada Qorinah (indikasi) yang menunjukkan  pada keyakinan tertentu, selama dalil itu bersifat ( ظَنِّيٌّ ) tidak  boleh seorang Muslim mengambilnya sebagai aqidah. Allah telah mencela  keras orang-orang kafir yang memiliki keyakinan bahwa para Malaikat itu  berjenis kelamin wanita:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang tiada  beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan Malaikat  itu dengan nama perempuan. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu  pengetahuanpun tentang itu. mereka tidak lain hanyalah mengikuti  persangkaan sedang persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap  kebenaran.”(An-Najm;27-2&lt;br /&gt;artinya orang-orang kafir itu punya  keyakinan bahwa Malaikat berjenis kelamin wanita tetapi mereka tidak  memiliki bukti (dalil) atau argumentasi untuk menguatkan keyakinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan  mereka hanya didasarkan pada dugaan ( ظَنٌّ ), padahal dzon itu sama  sekali tidak ada nilainya untuk membuktikan ( الْحَقُّ )&lt;br /&gt;Dari sini  bisa difahami, bahwa langkah yang harus dilakukan untuk menjawab  persoalan jodoh adalah mencari dalil yang menunjukkan bahwa Allah telah  menetapkan pasangan hidup manusia sebelum mereka diciptakan. Dalil  itupun harus bersifat ( قَطْعِيٌّ ) baik ( قَطْعِيُّ الثُّبُوْتِ )  (pasti sumbernya) maupun ( قَطْعِيُّ الدَّلاَلَةِ ) (pasti penunjukan  maknanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Setelah dilakukan kajian terhadap  persoalan ini, nyatalah bahwa tidak ada nash baik dalam al-Qur’an mapun  as-Sunnah, juga Ijma’ sahabat dan Qiyas yang menunjukkan bahwa Allah  menetapkan calon pasangan seseorang. Bahkan nash-nash yang ada  menunjukkan bahwa persoalan ini adalah masalah mu’amalah biasa yang  berada dalam area yang dikuasai manusia. Artinya persoalan menentukan  pasangan hidup adalah hal yang bersifat pilihan, yang manusia  bertanggung jawab di dalamnya dan dihisab atasnya. Dalil yang  menunjukkan bahwa menentukan pasangan hidup adalah pilihan manusia  adalah:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat (An-Nisa;4).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lafadz  ( فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ ) begitu jelas menunjukkan bahwa setiap  Muslim dipersilahkan memilih calon istrinya. Alasannya, ketika Allah  memubahkan untuk menikahi wanita-wanita yang ( طَابَ ) (manis, enak,  lezat, menyenangkan) bagi mereka, dan tidak mencela lelaki yang tidak  mau menikahi wanita karena merasa kurang mantap, baik karena fisik  maupun sifatnya, ini semua menunjukkan bahwa persoalan ini adalah  persoalan pilihan ( اخْتِيَارِيٌّ ) bukan Qadha’.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalil  lain yang mendukung adalah kenyataan bahwa syara’ memberikan hak  menentukan calon suami sebagai hak penuh kaum wanita, yang tidak boleh  ada intervensi dari siapapun meski itu ayah, ibu, paman, musyrif, atau  khalifah sekalipun.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;عن بن بريدة عن أبيه قال جاءت  فتاة إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقالت ثم إن أبي زوجني بن أخيه ليرفع بي  خسيسته قال فجعل الأمر إليها فقالت قد أجزت ما صنع أبي ولكن أردت أن تعلم  النساء أن ليس إلى الآباء من الأمر شيء. (رواه ابن ماجه)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dari  Ibnu Buraidah dari ayahnya dia berkata: Seorang gadis datang kepada  Nabi Saw. Kemudian ia berkata: Sesungguhnya ayahku menikahkan aku dengan  putra saudaranya untuk mengangkat derajatnya melalui aku. Maka Nabipun  menyerahkan keputusan itu pada gadis tersebut. Maka gadis itu berkata:  Aku telah mengizinkan apa yang dilakukan ayahku, akan tetapi aku hanya  ingin agar para wanita tahu bahwa para ayah tidak punya hak dalam urusan  ini. (H.R.Ibnu Majah dan An-Nasa’i)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalam hadis  di atas, Nabi memberi kebebasan penuh pada gadis tersebut untuk  memutuskan apakah melanjutkan pernikahannya ataukah membatalkannya. Ini  menunjukkan bahwa menentukan calon suami adalah hak penuh bagi wanita  dan merupakan pilihan dia semata-mata.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil lain  yang mendukung adalah adanya syari’at talak. Talak adalah pembubaran  akad nikah. Syari’at talak memungkinkan seseorang yang menjadi pasangan  hidup orang lain untuk berpisah pada satu waktu tertentu dengan  sebab-sebab tertentu. Karena itu mustahil dikatakan bahwa seseorang  sudah dipasangkan dengan orang tertentu jika ternyata syara’ memberikan  suatu mekanisme untuk membubarkan akad nikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari  itu studi terhadap akad-akad yang diatur dalam syari’at Islam  menunjukkan bahwa semua akad yang disana terdapat Ijab dan Qabul adalah  mu’amalah yang berada dalam area yang dikuasai manusia. Dengan demikian  jual-beli, Ijarah, Wakalah, Syirkah, dan semisalnya adalah termasuk  perkara mu’amalah yang berada dalam area yang dikuasai manusia. Manusia  akan dimintai pertanggung jawaban dalam aktivitas itu. Jika ia melakukan  jual-beli, Ijarah, Wakalah, dan Syirkah, dengan cara yang syar’i maka  ia bebas dari hukuman, tetapi jika ia melakukannya dengan cara batil  maka ia akan dijatuhi hukuman. Demikian pula masalah menentukan pasangan  hidup. Jika seorang wanita Muslimah memutuskan menikah dengan orang  kafir maka ia akan dihukum, sebaliknya jika ia menikah dengan lelaki  yang dihalalkan syara’ maka ia bebas dari hukuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ayat yang berbunyi&lt;br /&gt;Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri (Ar-Rum; 21)&lt;br /&gt;“Dan Kami menciptakan kalian berpasang-pasangan” (An-Naba’:&lt;br /&gt;juga  termasuk ayat-ayat yang semisal dengannya, maka ayat ini sama sekali  tidak terkait dengan masalah jodoh, dan tidak ada Qorinah apapun yang  menunjukkan bahwa Allah menetapkan A menikah dengan B, C menikah dengan  D, baik secara ( صَرَاحَةٌ ) (jelas) maupun ( دَلاَلَةٌ ) (penunjukan  makna). Tidak hanya itu, secara Manthuq dan Mahfum ayat ini tidak bisa  difahami sebagai ayat jodoh, sebab Sighot (redaksional) ayat serta (  مَوْضُوْعٌ ) (topik pembahasan) memang tidak menunjuk ke arah sana.  Maksud dari diciptakannya manusia berpasang-pasangan tidak lain adalah  bahwa manusia terdiri dari jenis laki-laki dan perempuan yang dengannya  Allah memperkembangbiakkan spesies manusia di muka bumi, bukan  ditetapkannya bahwa A akan menikah dengan B atau C akan menikah dengan  D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ayat yang berbunyi Khobitsat adalah untuk  Khobitsun, dan Khobitsun adalah buat Khobitsat (pula), dan Thoyyibat  adalah untuk Thoyyibun dan Thoyyibun adalah untuk Thoyyibat (pula).  Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka  (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)  (An-Nur; 26)&lt;br /&gt;maka ayat ini juga bukan ayat jodoh. Sebab As-babun  Nuzul dari ayat ini adalah terkait dengan (حَدِيْثُ اْلإِفْكِ ) yakni  peristiwa tuduhan atas Aisyah yang diisukan berbuat serong dengan  seorang sahabat yang bernama Shofwan bin Mu’ath-thol. Karena itulah para  mufassirin ketika menafsirkan ayat ini, mereka menukil penafsiran Ibnu  Abbas yang mengatakan bahwa yang dimaksud ( الْخَبِيْثَات ) dalam ayat  ini adalah ucapan-ucapan yang buruk. Artinya ucapan-ucapan yang buruk  (diantaranya adalah memfitnah wanita baik-baik berbuat zina) hanya akan  muncul dari orang-orang yang buruk, yakni orang-orang munafik atau  orang-orang yang hatinya ada penyakit. Bukannya orang shalih pasti akan  menikah dengan wanita shalih dan lelaki shalih akan menikah dengan  wanita shalihah. Karena itu wajar jika diceritakan dalam al-Qur’an bahwa  Nabi Luth a.s beristri wanita yang tidak shalihah sebagaimana istri  Fir’aun yang shalihah bersuami Fir’aun yang kafir. Hal ini dikarenakan  urusan pernikahan adalah mu’amalah biasa bukan sesuatu yang telah  ditetapkan sebagai mana rizki dan ajal. Jadi ayat ini tidak sah  digunakan sebagai dalil bahwa persoalan jodoh adalah sesuatu yang  ditakdirkan, atau Allah telah menentukan “kaidah umum” dalam pengaturan  jodoh seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini bisa difahami, bahwa jodoh  bukanlah perkara yang sudah ditetapkan di Lauhul Mahfudz, tetapi ia  adalah mu’amalah biasa sebagaimana mu’amalah yang lain, yang berada di  area yang dikuasai manusia dan manusia dihisab atasnya.&lt;br /&gt;Namun  pemahaman bahwa jodoh adalah sesuatu yang berada dalam area yang  dikuasai manusia bukan berarti pengingkaran bahwa Allah adalah (  اْلمُدَبِّرُ ) yang bersifat Maha Mengatur dan ( الْحَاكِمُ ) yang Maha  Memutuskan. Setiap Mukmin ketika melaksanakan suatu aktivitas dalam area  yang dikuasainya kemudian ternyata apa yang terjadi di luar harapannya  dan di luar dugaannya, maka ia harus ridlo terhadap hal itu dan  mengimani bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Mengatur.&lt;br /&gt;Sebagai  contoh: Seorang Muslim hendak naik haji dan sudah menyiapkan semua biaya  dan bekal kemudian secara tiba-tiba Allah memberinya sakit. Pada  kondisi ini, harus difahami bahwa melaksanakan ibadah haji adalah  wilayah yang dikuasai manusia, tetapi pemahaman ini harus disertai  keyakinan bahwa Allah bersifat ( اْلمُدَبِّرُ ). Dengan demikian ia  menjadi ridlo terhadap segala apa yang menimpanya, karena semua itu  berada diluar kuat kuasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dalam persoalan  pasangan hidup. Memilih siapapun yang akan menjadi pasangan hidup  semuanya adalah perkara (اخْتِيَارِيٌّ), akan tetapi terkait dengan  kesepakatan, ini adalah masalah lain. Seorang dalam memutuskan sesuatu  boleh jadi Allah mencondongkan pada suatu keputusan tertentu, boleh jadi  membiarkannya. Sebab Allah adalah Dzat yang kuasa membolak-balikkan  hati manusia. Namun ketika Allah mencondongkan pada suatu keputusan,  bukan berarti Allah memasangkan X dengan Y atau P dengan Q sejak zaman  Azali, alasannya orang masih punya pilihan mutlak untuk memutuskan hatta  terhadap sesuatu yang berlawanan sama sekali dengan kehendaknya. Karena  itu keimanan yang harus dimiliki adalah keimanan bahwa Allah bersifat (  اْلمُدَبِّرُ ) secara mutlak, baik pada area yang dikuasai manusia  maupun yang tidak dikuasai manusia, bukan keimanan bahwa Allah telah  menetapkan dalam Lauhul Mahfudz bahwa A dipasangkan dengan B atau C  dipasangkan dengan D.&lt;br /&gt;Atas dasar ini semua pemahaman yang belum  sesuai dengan nash-nash syara’ sesegera mungkin harus dikoreksi. Tidak  boleh menjadikan alasan kemaslahatan misalnya: “cara ini cukup efektif  untuk menghentikan orang dari pacaran” untuk mengadopsi pemahaman yang  keliru tentang jodoh. Alasannya hal ini adalah persoalan hukum syara’  bukan persoalan uslub dakwah yang masih mungkin dipilih uslub yang  paling tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. AJAL/KEMATIAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara  bahasa kata ajal berasal dari kata: ajila–ya‘jalu–ajal[an]. Menurut  al-Khalil al-Farahidi dalam Kitâb al-‘Ayn dan ash-Shahib ibn ‘Abad di  dalam Al-Muhîth fî al-Lughah, dikatakan ajila asy-syay‘u ya‘jalu wahuwa  âjilun artinya naqîdu al-‘âjil (lawan dari segera). Dengan demikian,  al-ajal (bentuk pluralnya al-âjalu) secara bahasa artinya terlambat atau  tertunda.&lt;br /&gt;Selain itu, secara bahasa, kata ajal juga memiliki beberapa makna sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;●  Ghâyah al-waqti fî al-mawti wa mahalu ad-dayn wa nahwuhu (akhir waktu  pada kematian dan jatuh tempo utang dan semacamnya) (Al-Azhari, Tahdzîb  al-Lughah).&lt;br /&gt;● Muddah asy-syay‘i (jangka waktu sesuatu) (Ibn Manzhur, Lisân al-‘Arab; al-Jauhari, Ash-Shihah fî al-Lughah).&lt;br /&gt;● Muddatuhu wa waqtuhu al-ladzî yahillu fîhi (jangka waktunya dan waktu saat sesuatu itu berlalu) (Al-Fayumi, Mishbâh al-Munîr).&lt;br /&gt;● Jangka waktu yang ditetapkan untuk sesuatu atau perbuatan (Rawas Qal’ahji, Mu’jam Lughah al-Fuqahâ’).&lt;br /&gt;● Waktu yang ditetapkan untuk habisnya sesuatu (Abu Hilal al-‘Askari, al-Furûq al-Lughawiyah).&lt;br /&gt;Dari  sini ajal al-insân (ajal manusia) adalah akhir kehidupan seseorang atau  habisnya umur seseorang. Artinya, saat ajal seseorang itu tiba, saat  itu pulalah kematian datang menjemputnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam  al-Quran kata ajal dan bentukannya disebutkan sekitar 55 kali. Di  antaranya dalam arti jangka waktu (misal: QS al-Baqarah [2]: 231, 232,  234, 235; al-A’raf [7]: 135); umur (misal; QS al-A’raf [7]: 34; Yunus  [10]: 11, 49); akhir umur/akhir kehidupan (misal: QS an-Nahl [16]: 61;  Fathir [35]: 45).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sebab Kematian: Berakhirnya Ajal &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat  al-Quran yang qath’i tsubut dan qath’i dilalah menyatakan secara pasti  bahwa Allah SWT sajalah Zat Yang menghidupkan dan mematikan. Allah SWT  berfirman:&lt;br /&gt;وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ&lt;br /&gt;Allah menghidupkan dan mematikan (QS Ali Imran [3]: 156).&lt;br /&gt;Al-Quran  juga menegaskan hal ini pada banyak ayat lainnya (lihat: QS al-Baqarah  [2]: 73, at-Tawbah [9]: 116, Yunus [10]: 56, al-Hajj [22]: 6,  al-Mu’minun [23]: 80, al-Hadid [57]: 2).&lt;br /&gt;Allah SWT telah  menetapkan ajal bagi tiap-tiap umat maupun individu. Kematian, yaitu  datangnya ajal, telah ditentukan waktunya sebagai suatu ketetapan dari  Allah yang tidak bisa dimajukan maupun dimundurkan. Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا&lt;br /&gt;Sesuatu  yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai  ketetapan yang telah ditentukan waktunya (QS Ali Imran [3]: 145).&lt;br /&gt;مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ&lt;br /&gt;Tidak  ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak pula dapat  memundurkannya (QS al-Hijr [15]: 5; al-Mu’minun [23]: 43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan  senada antara lain terdapat dalam: QS Yunus [10]: 49; an-Nahl [16]: 61  dan QS al-Munafiqun [63]: 11. Jadi, habisnya ajal atau datangnya  kematian adalah sesuatu yang pasti (QS al-‘Ankabut [29]: 5). Karena  kematian adalah pasti datangnya maka manusia tidak akan bisa lari  menghindar darinya. Allah SWT menegaskan:&lt;br /&gt;قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ&lt;br /&gt;Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya tetp akan menemui kalian.” (QS al-Jumu’ah [62]: 8).&lt;br /&gt;Allah SWT juga menegaskan:&lt;br /&gt;أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ&lt;br /&gt;Di  mana saja kalian berada, kematian akan menjumpai kalian kendati kalian  berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh (QS an-Nisa’[4]: 78).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat  ini menegaskan, jika orang berupaya menghindar dari kematian—dengan  jalan membentengi diri dari apa saja yang dia sangka menjadi sebab  datangnya kematian seakan dia berlindung dalam benteng yang tinggi lagi  sangat kokoh sekalipun—maka hal itu tidak akan bisa menghindarkannya  dari kematian. Sebab, semua yang disangka sebagai sebab maut itu baik  berupa sakit, perang, dsb, sejatinya bukanlah sebab maut. Semua itu  hanyalah kondisi yang didalamnya kadang terjadi kematian, namun kadang  juga tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa  satu-satunya sebab kematian adalah habisnya ajal, yaitu habisnya jangka  waktu yang ditetapkan untuk manusia; atau datangnya ajal, yaitu  datangnya batas akhir umur manusia. Ketika itulah, Allah SWT  mematikannya dengan mengutus Malaikat Maut untuk mencabut ruh dari jasad  (QS as-Sajdah [32]: 11).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masalah ajal ini persis  seperti masalah rezeki. Ajal dan umur tiap orang telah ditetapkan oleh  Allah. Allah SWT juga menegaskan tidak akan memajukan atau menangguhkan  ajal seseorang. Allah tidak akan menambah atau mengurangi jatah umur  seseorang. Dalam QS al-Munafiqun [63]: 11, Allah mengungkapkan dengan  kata lan yang merupakan penafian selama-lamanya (Lihat pula: QS Fathir  [35]: 11).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Datangnya ajal adalah pasti,  tidak bisa dimajukan ataupun dimundurkan. Berjihad, berdakwah, amar  makruf nahi mungkar, mengoreksi penguasa, dsb, tidak akan menyegerakan  ajal atau mengurangi umur. Begitu pula berdiam diri, tidak berjihad,  tidak berdakwah, tidak mengoreksi penguasa, tidak beramar makruf nahi  mungkar, dan tidak melakukan perbuatan yang disangka berisiko  mendatangkan kematian, sesungguhnya tidak akan bisa memundurkan kematian  dan tidak akan memperpanjang umur. Semua itu jelas dan tegas dinyatakan  oleh ayat-ayat al-Quran seperti di atas.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Memang, ada sabda Nabi saw. sebagai berikut:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Siapa  saja yang suka dilapangkan rezekinya dan ditambah umurnya hendaklah ia  bersilaturahmi (HR al-Bukhari, Muslim, Abu dan Ahmad).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Juga  ada beberapa hadis semisalnya. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan  pertambahan umur bukanlah penundaan ajal. Yang bertambah tidak lain  adalah keberkahan umurnya dalam ketaatan kepada Allah. Bisa juga  maknanya adalah bukan pertambahan umur biologis, tetapi umur sosiologis,  yakni peninggalan, jejak atau atsar al-‘umri-nya yang terus  mendatangkan manfaat dan pahala setelah kematian biologisnya. Abu Darda  menuturkan bahwa Rasul saw. pernah bersabda:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;إِنَّ  اللهَ لاَ يُؤَخِرُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا، وَإِنَّمَا زِيَادَةُ  الْعُمْرِ بِالذُّرِيَّةِ الصَّالِحَةِ يَرْزُقُهَا الْعَبْدَ،  فَيَدْعُوْنَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ، فَيَلْحِقَهُ دُعَاؤُهُمْ فِيْ قَبْرِهِ،  فَذَلِكَ زِيَادَةُ الْعُمْرِ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sesungguhnya Allah  tidak akan mengakhirkan (kematian) seseorang jika telah datang ajalnya.  Sesungguhnya bertambahnya umur itu dengan keturunan salih yang Allah  karuniakan kepada seorang hamba, lalu mereka mendoakannya sesudah  kematiannya sehingga doa mereka menyusulinya di kuburnya. Itulah  pertambahan umur (HR Ibn Abi Hatim dikutip oleh al-Hafizh Ibn Katsir di  dalam tafsirnya QS Fathir: 11).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain anak  salih, hadis lain menyatakan bahwa ilmu yang bermanfaat, sedekah jariah  dan sunnah hasanah juga akan memperpanjang umur sosiologis seseorang.  Pelakunya, meski telah mati secara biologis, seakan ia tetap hidup dan  beramal dengan semua itu serta mendapat pahala karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  demikian, tidak ada gunanya lari dari maut. Maut juga tidak selayaknya  ditakuti karena pasti datangnya. Sikap takut akan mati dan berupaya lari  dari maut yang pasti datang bisa dikatakan sebagai sikap bodoh dan  upaya yang sia-sia. Yang harus dilakukan adalah mempersiapkan diri  menyongsong datangnya maut dan memelihara diri supaya maut itu datang  dalam kondisi kita sedang menunaikan ketaatan sehingga kita mendapatkan  husnul khatimah. Inilah sikap cerdas dan upaya yang berdaya guna. Orang  yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak dan paling baik  persiapannya dalam menyongsong datangnya maut. Ibn Umar meriwayatkan,  Rasul saw. pernah ditanya, siapakah Mukmin yang paling cerdas? Beliau  menjawab:&lt;br /&gt;أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لَهُ اِسْتِعْدَادًا قَبْلَ أَنْ يَنْزِلَ بِهِمْ أُوْلَئِكَ مِنْ اْلأَكْيَاسِ&lt;br /&gt;Mereka  yang paling banyak mengingat maut dan paling baik persiapannya untuk  menghadapi maut itu sebelum turun kepada mereka. Mereka itulah yang  termasuk Mukmin yang paling cerdas (HR Ibn Majah, al-Hakim, al-Baihaqi,  Abu Nu’aim dan ath-Thabrani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KESIMPULAN &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.  Rezeki merupakan takdir yang telah Allah tetapkan kadarnya. Rezeki  tidak terikat dengan adanya usaha manusia untuk mendapatkannya. Karena  Rezeki yang diperoleh oleh manusia bukanlah hasil dari usaha yang mereka  lakukan, namun karena memang rezeki tersebut telah Allah tetapkan atas  manusia. Rezeki semata di tangan Allah dan hanya Allahlah yang memberi  rezeki. Adapun dari sisi amal, Allah SWT mewajibkan hamba-Nya untuk  berusaha dan berikhtiar melangsungkan kondisi-kondisi yang di dalamnya  rezeki bisa datang. Namun, pada saat yang sama, ia harus paham bahwa  usaha, ikhtiar dan kondisi itu bukan sebab bagi datangnya rezeki. Allah  tidak menanyakan tentang datang dan tidaknya rezeki, tetapi Allah akan  menanyakan usaha dan amal hamba untuk mencari rezeki. Karenanya, Allah  menjelaskan mana yang halal dan yang tidak. Rezeki setiap hamba telah  dijamin oleh Allah. Allah pun telah menetapkan kadar dan takaran bagian  atau porsi rezeki tiap hamba (Lihat: QS Hud [11]:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.  Jodoh merupakan sebuah pilihan, bukan ketetapan dari Allah. Tidak ada  satupun nash-nash di dalam al qur’an maupun di dalam hadist yang  mengindikasikan bahwa Jodoh adalah sebuah takdir/ketetapan dari Allah.  Adapun ketika manusia di dalam kandungan, memang ada hadist yang  menerangkan bahwa Ajal dan Rezeki telah Allah tetapkan, namun tidak ada  kata Jodoh pada isi hadist tersebut. عَنْ عَبْدِاللهِ قَالَ:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;حَدَثَنَا  رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقِ  :إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ  يَوْمًا. ثُمَّ يَكُوْنُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ. ثُمَّ  يَكُوْنُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ. ثُمَّ يُرْسِلُ الْمَلَكَ  فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ. وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكُتُبِ  رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَالَّذِي  لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ! إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ  الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ.  فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ. فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ.  فَيَدْخُلُهَا. وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ.  حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إَلاَّ ذِرَاعٌ. فَيَسْبِقُ  عَلَيْهِ الْكِتَابُ. فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ.  فَيَدْخُلُهُا&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hadis riwayat Abdullah bin Masud  Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam  sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami:  Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam  perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi  segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama  itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke  dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan  rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara  ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia,  sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni  surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta  saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan  ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah  seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai  ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun  karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli  surga maka masuklah dia ke dalam surga.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.  Ajal atau Kematian merupakan suatu ketetapan yang telah Allah takdirkan  kapan waktunya, tidak bisa dimundurkan dan tidak bisa dimajukan.  Masalah ajal ini persis seperti masalah rezeki.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A’lam bishowab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adi Victoria&lt;br /&gt;Al_ikhwan1924@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/06/08/ajal/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://hizbut-tahrir.or.id/2010/06/08/ajal/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/05/02/rezeki/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://hizbut-tahrir.or.id/2010/05/02/rezeki/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://adivictoria1924.wordpress.com/2010/08/15/jodoh-benarkah-sebuah-takdir/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://adivictoria1924.wordpress.com/2010/08/15/jodoh-benarkah-sebuah-takdir/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3493988676080638915-8370067113597571610?l=hilyathasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hilyathasan.blogspot.com/feeds/8370067113597571610/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3493988676080638915&amp;postID=8370067113597571610&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/8370067113597571610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/8370067113597571610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hilyathasan.blogspot.com/2011/05/antara-rezeki-jodoh-dan-ajalkematian.html' title='Antara Rezeki, Jodoh, dan Ajal/Kematian'/><author><name>Hilyat Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04153284808943762507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/SoiPx06Vm7I/AAAAAAAAADU/BEKY3rsSXO8/S220/Image0112.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3493988676080638915.post-1688683545393721538</id><published>2011-05-24T21:14:00.000+07:00</published><updated>2011-05-24T21:14:07.884+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi Tokoh'/><title type='text'>Biografi Singkat Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani.</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;img class="img" src="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc6/228005_10150186952820658_175817530657_7436646_8061595_a.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masa Kecil Beliau&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh   An-Nabhani dilahirkan di daerah Ijzim pada tahun 1909. Beliau   mendapat  pendidikan awal dari ayahnya sendiri seorang alim yang   faqih  fid-din. Ayah beliau seorang pengajar ilmu-ilmu syariah di   Kementerian  Pendidikan Palestin. Ibunya menguasai beberapa cabang   ilmu  syariah, yang diperoleh dari kakeknya, Syeikh Yusuf bin Ismail  bin   Yusuf an-Nabhani. Beliau adalah seorang qadhi (hakim), penyair,    sasterawan, dan salah seorang ulama terkemuka dalam Daulah Utsmaniyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh   Yusuf an-Nabhani adalah termasuk tokoh sejarah masa akhir  Khilafah   Utsmaniyah. Beliau berpendapat bahawa Khalifah Utsmaniyah  merupakan   penjaga agama dan akidah, simbol kesatuan kaum Muslimin, dan    mempertahankan institusi umat. Syeikh Yusuf bertentangan dengan Muhammad    Abduh dalam metode tafsir. Muhammad Abduh menyerukan perlunya    penakwilan nash agar tafsir merujuk pada tuntutan keadaan dan waktu.    Beliau juga bertentangan dengan Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh    dan murid-muridnya yang sering menyerukan reformasi agama. Menurut    beliau, tuntutan reformasi itu meniru Protestan. Dalam Islam tidak ada    reformasi agama (seperti dalam pemahaman Protestan). Beliau juga    menentang gerakan misionaris dan sekolah-sekolah misionaris yang mulai    tersebar pada saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, di samping   seorang ulama yang faqih, Syeikh Yusuf  an-Nabhani juga terkenal sebagai   seorang politikus yang selalu  memperhatikan dan mengurus urusan umat.   Berkenaan Syeikh Yusuf  An-Nabhani, beberapa penulis biografi   menyebutkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Dia adalah) Yusuf bin Ismail bin Yusuf  bin  Hasan bin Muhammad  an-Nabhani asy Syafi’i. Julukan baginya ialah  Abu  al-Mahasin. Dia adalah  seorang penyair, sufi, dan termasuk salah   seorang qadhi yang terkemuka.  Dia menangani peradilan (qadha’) di   Qushbah Janin, yang termasuk  wilayah Nablus. Kemudian beliau berpindah   ke Constantinople (Istanbul)  dan diangkat sebagai qadhi untuk  menangani  peradilan di Sinjiq yang  termasuk wilayah Moshul. Beliau  kemudian memegang jabatan sebagai ketua  Mahkamah Jaza’ di  al-Ladziqiyah, sebelum  berpindah ke al-Quds.  Selanjutnya beliau  menjabat sebagai ketua  Mahkamah Huquq di Beirut.  Beliau mengarang  banyak kitab yang jumlahnya  mencapai hingga 80 buah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kecil Syeikh Taqiyuddin  yang dipenuhi suasana keagamaan seperti itu,  ternyata  mempunyai pengaruh yang  besar dalam pembentukan keperibadian  dan  pandangan hidup beliau. Syeikh  Taqiyuddin telah menghafal Al-Quran dalam   usia yang amat muda, yaitu  sebelum beliau mencapai umur 13 tahun.   Beliau banyak mendapat pengaruh  dari kakeknya, Syeikh Yusuf an-Nabhani   dalam banyak hal. Syeikh  Taqiyuddin juga sudah mulai mengerti   masalah-masalah politik yang  penting, di mana kakek beliau mengalami  peristiwa-peristiwa tersebut secara langsung karena   hubungannya yang  rapat dengan para Khalifah Daulah Utsmaniyah saat  itu.  Beliau banyak  menimba ilmu melalui majlis-majlis dan  diskusi-diskusi  fiqih yang  diselenggarakan oleh kakeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan  dan  kecerdikan Syeikh Taqiyuddin yang menonjol tatkala  mengikuti   majlis-majlis ilmu tersebut telah menarik perhatian Syeikh Yusuf an-Nabhani.  Oleh   sebab itu, beliau begitu memerhatikan Syeikh Taqiyuddin dan    berusaha meyakinkan ayah beliau –Syeikh Ibrahim bin Musthafa– mengenai    perlunya menghantar Syeikh Taqiyuddin ke al-Azhar untuk melanjutkan    pendidikan beliau dalam ilmu syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ilmu dan Pendidikan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh   Taqiyuddin menerima pendidikan dasar mengenai ilmu syariah  dari ayah   dan datuk beliau, yang telah mengajarkan Al-Quran sehingga  beliau  hafal  al-Quran seluruhnya sebelum baligh. Di samping itu, beliau  juga   mendapatkan pendidikan awalnya di sekolah tempatan iaitu di sekolah    awal daerah Ijzim. Kemudian beliau berpindah ke Akka untuk melanjutkan    pendidikannya ke sekolah menengah. Sebelum beliau menamatkan sekolahnya    di Akka, beliau telah bertolak ke Kaherah untuk meneruskan   pendidikannya  di al-Azhar, menyahut saranan dari kakeknya, Syeikh Yusuf   an-Nabhani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Syeikh Taqiyuddin menerima   pendidikan dasar mengenai ilmu syariah  dari  ayah dan kakek beliau,   yang telah mengajarkan Al-Quran sehingga  beliau  hafal al-Quran   seluruhnya sebelum baligh&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Syeikh  Taqiyuddin  kemudian meneruskan pendidikannya di Tsanawiyah  al-Azhar  pada tahun  1928 dan pada tahun yang sama beliau meraih ijazah  dengan  predikat  sangat memuaskan (mumtaz jiddan). Lalu beliau  melanjutkan   pembelajarannya di Kulliyah Darul Ulum yang waktu itu  merupakan cabang   al-Azhar dan secara bersamaan beliau juga belajar di  Universiti   al-Azhar. Beliau banyak menghadiri halqah-halqah ilmiah di  al-Azhar   yang dianjurkan oleh tokoh-tokoh ulama al-Azhar, seperti Syeikh    Muhammad Al-Khidir Husain –rahimahullah– seperti yang pernah disarankan    oleh datuk beliau. Menurut sistem lama al-Azhar, para mahasiswanya    dapat memilih beberapa orang syeikh al-Azhar dan menghadiri    halqah-halqah mereka dalam ilmu bahasa Arab dan ilmu-ilmu syariah    lainnya seperti fiqih, usul fiqih, hadis, tafsir, tauhid dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun   Syeikh Taqiyuddin berada dalam sistem pembelajaran al-Azhar  yang lama   dengan Darul Ulum, akan tetapi beliau tetap menampakkan  keunggulan  dan  keistimewaan dalam setiap pembelajarannya. Syeikh  Taqiyuddin telah   menarik perhatian kawan-kawan dan para gurunya kerana  kedalamannya   dalam berfikir serta kuatnya pendapat serta hujah yang  beliau lontarkan   dalam perdebatan-perdebatan dan diskusi-diskusi ilmiah  yang   diselenggarakan oleh lembaga-lembaga ilmu yang ada pada waktu itu,  baik   di Kaherah mahupun di negeri-negeri Islam lainnya. Syeikh  Taqiyuddin   menamatkan kuliahnya di Darul Ulum pada tahun 1932 dan pada  tahun yang   sama beliau menamatkan pula kuliahnya di al-Azhar asy-Syarif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam   forum-forum halqah ilmiah yang diikuti oleh Syeikh Taqiyuddin,  beliau   amat dikenali oleh kawan-kawan dan sahabat-sahabat terdekatnya  dari   kalangan al-Azhar, sebagai seorang yang berfikiran tajam dan  genius.   Ini kerana, beliau akan memberikan hujah dan pendapat yang  begitu kuat   dan mendalam yang akan membuatkan orang tertarik dan yakin  terhadap   pandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ijazah Yang Dimiliki&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijazah yang diraih oleh Syeikh Taqiyuddin antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ijazah Tsanawiyah al-Azhariyah&lt;br /&gt;2. Ijazah al-Ghuraba’ dari al-Azhar&lt;br /&gt;3. Diploma Bahasa dan Sastera Arab dari Dar al-Ulum;&lt;br /&gt;4. Ijazah dalam Peradilan dari Ma‘had al-Ali li al-Qadha’ (Sekolah Tinggi Peradilan), salah satu cabang al-Azhar.&lt;br /&gt;5.   Pada tahun 1932 beliau meraih Syahadah al-‘Alamiyyah (Ijazah    Internasional) Syariah dari Universiti al-Azhar asy-Syarif dengan mumtaz    jiddan (exelent).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Aktivitas Beliau Setelah Tamat Kuliah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah   menyelesaikan pendidikannya, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani  kembali ke   Palestin, dan kemudian bekerja sebagai seorang guru di sebuah  sekolah   menengah tempatan di Haifa di bawah Kementerian Pendidikan  Palestin.  Di  samping itu, beliau juga mengajar di sebuah Madrasah  Islamiyyah  lain  di Haifa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau sering berpindah-randah lebih dari   satu daerah dan sekolah  semenjak tahun 1932 sehingga tahun 1938.  Beliau  kemudiannya mengajukan  permohonan untuk bekerja di Mahkamah  Syariah,  kerana beliau melihat  pengaruh imperialis Barat  (“westernisasi”) dalam  bidang pendidikan yang  ternyata lebih besar  daripada bidang peradilan.  Dalam hal ini beliau  berkomentar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun  golongan  terpelajar, maka para penjajah di sekolah-sekolah   missionaris mereka  telah menetapkan sendiri kurikulum-kurikulum   pendidikan dan tsaqafah  berdasarkan falsafah dan hadharah (peradaban)   yang khas dari kehidupan  mereka, baik sebelum adanya pendudukan kaum   imperialis tersebut mahupun  sesudahnya. Lalu, tokoh-tokoh Barat   dijadikan sumber tsaqafah  (kebudayaan) sebagaimana sejarah dan   kebangkitan barat dijadikan sumber  asal bagi apa yang merosakkan cara   berfikir kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh  sebab itu, Syeikh Taqiyuddin  an-Nabhani lalu menjauhi bidang   pengajaran dalam Kementerian  Pendidikan, dan mulai mencari pekerjaan   lain dengan pengaruh peradaban  Barat yang relatif lebih sedikit. Beliau   tidak melihat pekerjaan yang  lebih utama selain pekerjaan di Mahkamah   Syariah yang dipandangnya  merupakan lembaga yang menerapkan hukum-hukum   syara’. Dalam hal ini  beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun  an-Nizhamul Ijtima’iy, yang  mengatur hubungan lelaki dan  wanita, dan  segala hal yang terbit  darinya (yakni al-Ahwalu  asy-Syakhshiyyah),  tetap menerapkan syari’at  Islam sehingga sekarang,  meskipun telah  berlaku penjajahan dan  penerapan hukum-hukum kufur. Tidak  diterapkan  sama sekali selain  syariat Islam dalam bidang itu sehingga  saat ini…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka   dari itu, Syeikh Taqiyuddin sangat berkeinginan untuk bekerja di    Mahkamah Syariah. Dan ternyata banyak kawan beliau (yang pernah    sama-sama belajar di al-Azhar) bekerja di sana. Dengan bantuan mereka,    Syeikh Taqiyuddin akhirnya diberi jabatan sebagai setiausaha di  Mahkamah   Syariah Beisan. Beliau kemudian dipindahkan ke Thabriya.  Namun   demikian, kerana beliau mempunyai cita-cita dan pengetahuan  dalam   masalah peradilan, maka beliau mengajukan permohonan kepada  al-Majlis   al-Islami al-A’la, agar menerima permohonannya untuk  mendapatkan   tanggungjawab menangani peradilan. Dalam hal ini, beliau  merasakan   dirinya mempunyai kelayakan yang mencukupi untuk menangani  masalah   peradilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lembaga peradilan menerima   permohonannya, lalu beliau ke  Haifa sebagai ketua setiausaha (Basy   Katib) di Mahkamah Syariah Haifa.  Kemudian pada tahun 1940, beliau   diangkat sebagai Musyawir (Penolong  Qadhi) dan beliau terus memegang   kedudukan ini hingga tahun 1945, yakni  saat beliau dipindah ke Ramallah   untuk menjadi qadhi di Mahkamah  Ramallah sehingga tahun 1948. Setelah   itu, beliau keluar dari Ramallah  menuju Syam setelah Palestin jatuh  ke  tangan Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1948 itu pula, sahabatnya   al-Ustadz Anwar al-Khatib  mengirim surat kepada beliau, yang isinya   meminta beliau agar kembali ke  Palestin untuk diangkat sebagai qadhi di   Mahkamah Syariah al-Quds. &lt;strong&gt; Syeikh Taqiyuddin menerima   permintaan itu dan kemudian beliau diangkat  sebagai qadhi (hakim) di  Mahkamah  Syariah Kota Suci al-Quds pada tahun 1948.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian,   Al Ustadz Abdul Hamid As-Sa’ih iaitu Ketua Mahkamah Syariah  dan Ketua   Mahkamah Isti’naf pada waktu itu, telah mengangkat Syeikh  Taqiyuddin   sebagai anggota Mahkamah Isti’naf, dan beliau tetap memegang  kedudukan   itu sehingga tahun 1950. Pada tahun 1950 inilah, beliau lalu   mengajukan  permohonan mengundurkan diri, kerana beliau mencalonkan diri   untuk  menjadi anggota Majlis Niyabi (Majlis Perwakilan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada   tahun 1951, Syeikh an-Nabhani berkunjung ke kota Amman untuk    menyampaikan ceramah-ceramahnya kepada para pelajar Madrasah Tsanawiyah    di Kulliyah Ilmiyah Islamiyah. Usaha beliau ini berterusan sehingga   awal  tahun 1953, ketika beliau mulai sibuk dengan penubuhan Hizbut   Tahrir,  yang telah beliau rintis antara tahun 1949 hingga 1953.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Aktiviti Dakwah &amp;amp; Politik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak   remaja Syeikh an-Nabhani sudah memulai aktiviti politiknya  kerana   pengaruh datuknya, Syeikh Yusuf an-Nabhani, yang pernah terlibat  dengan   diskusi-diskusi dengan orang-orang yang terpengaruh dengan  peradaban   Barat, seperti Muhammad Abduh, para pengikut idea pembaharuan,    tokoh-tokoh Freemason, dan pihak-pihak lain yang tidak puas hati dan    membangkang terhadap Daulah Utsmaniyah. Sejak usia muda, Syeikh    Taqiyuddin an-Nabhani telah bergelut dengan masalah-masalah politik    ketika dibimbing oleh datuknya. Begitu pula ketika beliau mengikuti    kuliah di Dar al-Ulum dan al-Azhar, Teman-teman beliau semasa kuliah    menceritakan aktiviti beliau yang tidak pernah lelah dalam diskusi    politik dan keilmuan. Mereka juga sangat menghargai sumbangan beliau    dalam sejumlah diskusi politik. Di dalamnya beliau senantiasa mengkritik    kemunduran umat serta mendorong aktiviti politik dan intelektual  untuk   membangkitkan umat dan mewujudkan kembali Daulah Islam. Beliau  juga   menggunakan kesempatan itu untuk mendorong dan mendesak para  ulama   al-Azhar dan lembaganya memainkan peranan aktif dalam  membangkitkan   umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan-perdebatan politik dan  aktiviti dakwah  di antara para  mahasiswa di al-Azhar dan di Kulliyah  Darul Ulum, telah  menyingkapkan  pula keprihatinan Syeikh Taqiyuddin  akan masalah-masalah  politik.  Beberapa orang sahabatnya telah  menceritakan sikap-sikapnya  yang  melaungkan seruan-seruan yang  bersifat menentang, yang mampu  memimpin  situasi al-Azhar saat itu. Di  samping itu, beliau juga  melakukan  berbagai perdebatan dengan para  ulama al-Azhar mengenai apa  yang harus  dilakukan dengan serius untuk  membangkitkan umat Islam.  Setelah kembali  dari pembelajarannya di  al-Azhar, beliau tetap  memerhatikan usaha-usaha  “westernisasi” umat  Islam yang dilakukan oleh  para penjajah seperti  Inggeris dan Perancis.  Beliau juga banyak  menjalin hubungan dan  berdialog dengan para ulama,  tokoh pergerakan dan  tokoh masyarakat  setempat dalam usaha beliau  membangkitkan kembali  umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ketika  Syeikh An-Nabhani kembali  dari Kaherah ke Palestin,  iaitu ketika  beliau menjalankan tugasnya di  Kementerian Pendidikan  Palestin, beliau  sudah melakukan kegiatan yang  cukup menarik perhatian,  yakni  memberikan kesedaran kepada para murid  yang diajarnya dan  orang-orang  yang ditemuinya mengenai situasi yang  ada pada saat itu.  Beliau juga  membangkitkan perasaan marah dan benci  terhadap penjajah  Barat dalam  jiwa muridnya, di samping memperbaharui  semangat mereka  untuk  berpegang teguh terhadap Islam. Beliau  menyampaikan semua ini  melalui  khutbah-khutbah, dialog-dialog, dan  perdebatan-perdebatan yang  beliau  lakukan. Pada setiap topik yang  beliau sajikan. Hujah beliau   senantiasa kuat. Beliau memang dikenal  mempunyai kemampuan yang tinggi   untuk meyakinkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika  beliau berpindah  pekerjaan ke bidang peradilan, lalu beliau  berusaha  menjalin hubungan  dengan para ulama yang beliau kenal dan  beliau temui  di Mesir. Kepada  mereka beliau mengajukan idea untuk  membentuk sebuah  parti politik  yang berasaskan Islam untuk membangkitkan  kaum Muslimin  dan  mengembalikan kemuliaan dan kejayaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  tujuan  ini pula, beliau berpindah-randah dari satu kota ke kota  lain di   Palestin dan mengajukan idea yang sudah mendarah daging dalam  jiwa   beliau itu kepada tokoh-tokoh terkemuka, baik dari kalangan ulama’    mahupun para pemikir. Kedudukan beliau di Mahkamah Isti’naf di al-Quds    sangat membantu aktiviti beliau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan   kelebihannya, beliau dapat menyelenggarakan berbagai seminar  dan   mengumpulkan para ulama dari berbagai kota di Palestin. Dalam    kesempatan itu, beliau mengadakan dialog dengan mereka mengenai metode    kebangkitan yang benar. Beliau banyak berdebat dengan para pendiri    organisasi-organisasi sosial Islam (Jam’iyat Islamiyah) dan parti-parti    politik yang bercorak nasionalis dan patriotik. Beliau menjelaskan    kekeliruan langkah mereka, kesalahan pemikiran mereka, dan rosaknya    kegiatan mereka. Selain itu, beliau juga sering melontarkan pelbagai    masalah politik dalam khutbah-khutbah beliau dan pada majlis-majlis    keagamaan di masjid-masjid, termasuklah di Masjidil Aqsa, masjid    al-Ibrahim al-Khalil (Hebron) dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam   kesempatan seperti itu, beliau selalu menyerang sistem-sistem    pemerintahan di negeri-negeri Arab, dengan menyatakan bahawa semua itu    merupakan rekayasa penjajah Barat, dan merupakan salah satu sarana    penjajah Barat agar dapat terus mencengkam negeri-negeri umat Islam.    Beliau juga sering membongkar strategi-strategi politik negara-negara    Barat dan mengungkap niat-niat jahat mereka untuk menghancurkan Islam    dan umatnya. Selain itu, beliau berpandangan bahawa kaum Muslimin    berkewajiban untuk mendirikan parti politik yang berasaskan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua   ini ternyata membuat Raja Abdullah bin al-Hussain marah, lalu    dipanggillah Syeikh an-Nabhani untuk menghadap kepadanya, terutama    kerana khutbah yang pernah beliau sampaikan di Masjid Raya Nablus.    Beliau diminta hadir di suatu majlis lalu ditanya oleh Raja Abdullah    mengenai apa yang menyebabkan beliau menyerang sistem-sistem    pemerintahan di negeri-negeri Arab, termasuk juga negeri Jordan. Namun    Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani tidak menjawab pertanyaan itu, malah    berpura-pura tidak mendengar. Ini menyebabkan Raja Abdullah mengulangi    pertanyaannya hingga tiga kali. Akan tetapi Syeikh Taqiyuddin tetap    tidak menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Raja Abdullah pun naik marah  dan  berkata kepada beliau, “Apakah  kamu akan menolong dan melindungi  orang  yang kami tolong dan lindungi,  dan apakah kamu juga akan memusuhi   orang yang kami musuhi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, Syeikh Taqiyuddin  berkata  kepada dirinya sendiri, “Kalau aku  lemah untuk mengucapkan  kebenaran  hari ini, lalu apa yang harus aku  ucapkan kepada orang-orang  sesudahku  nanti?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Syeikh Taqiyuddin bangkit  dari tempat  duduknya seraya  berkata, “Aku berjanji kepada Allah, bahawa  aku akan  menolong dan  melindungi agamaNya dan akan memusuhi orang yang  memusuhi  (agama)Nya.  Dan aku amat membenci sikap nifaq dan orang-orang   munafik!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka merah padamlah muka Raja Abdullah   mendengarkan jawaban itu,  sehingga dia lalu mengeluarkan perintah untuk   menangkap Syeikh  Taqiyuddin dan mengusirnya keluar dari majlis   tersebut. Dan kemudian  Syeikh Taqiyuddin benar-benar ditangkap. Namun,   Raja Abdullah  kemudiannya menerima permohonan maaf dari beberapa ulama   atas sikap  Syeikh Taqiyuddin tersebut lalu memerintahkan  pembebasannya,  sehingga  Syeikh Taqiyuddin tidak sempat bermalam di  tahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembentukan Parti Politik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh   Taqiyuddin lalu kembali ke Al-Quds dan sebagai kesan dari  kejadian   tadi, beliau mengajukan pengunduran diri dan menyatakan,  “Sesungguhnya   orang-orang seperti saya sebaiknya tidak bekerja  melaksanakan tugas   pemerintahan apa pun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Taqiyuddin kemudian   mengajukan pencalonan dirinya untuk  menduduki Majlis Perwakilan. Namun,   oleh kerana sikapnya yang tegas,  aktiviti politik serta usahanya yang   bersungguh-sungguh untuk membentuk  sebuah parti politik, dan   keteguhannya berpegang kepada agama, maka  akhirnya hasil undian   menunjukkan bahawa Syeikh Taqiyuddin dianggap  tidak layak untuk duduk   dalam Majlis Perwakilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, aktiviti  politik  Syeikh Taqiyuddin tidak pernah  terkandas dan tekadnya pun tidak   pernah luntur. Beliau terus mengadakan  pertemuan dan diskusi-diskusi,   sehingga akhirnya beliau berhasil  meyakinkan sejumlah ulama dan qadhi   terkemuka serta para tokoh politik  dan pemikir untuk membentuk sebuah   parti politik yang berasaskan Islam.  Setelah itu, beliau memberikan   kepada mereka kerangka organisasi bagi  penubuhan suatu parti dan   konsep-konsep pemikiran yang dapat digunakan  sebagai bekal tsaqafah   bagi parti tersebut. Ternyata,  pemikiran-pemikiran beliau ini dapat   diterima dan dipersetujui oleh para  ulama tersebut. Bermula dari sini,   maka aktiviti beliau mula difokuskan  kepada usaha pembentukan dan   penubuhan Hizbut Tahrir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Taqiyuddin mula  melakukan  persiapan yang sesuai untuk struktur  partai, pemikiran partai  dan  sebagainya. Persiapan awal ini sebenarnya  bermula sejak 1949 lagi   ketika beliau masih menjawat jawatan Qadhi di  al-Quds. Pada tahun 1950   beliau menulis buku beliau yang pertama, iaitu  Inqadz Filisthin   (Membebaskan Palestin) di mana beliau merungkai akar  yang sangat dalam,   bahawa Islam telah hadir di Palestin sejak abad VII  lagi, dan sebab   utama kemunduran yang menerkam masyarakat Arab adalah  kerana mereka   telah menarik diri (dari Islam) dan menyerahkan diri pada  kekuasaan   penjajah. Jatuhnya Palestin ke tangan Yahudi tahun 1948  memberikan   keyakinan kepada beliau, bahawa hanya aktiviti yang  terorganisasi dan   memiliki akar pemikiran Islam yang kuat sahajalah yang  akan dapat   mengembalikan kekuatan dan keagungan umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada   tahun 1950, An-Nabhani berencana menghadiri satu Persidangan  Kebudayaan   Liga Arab di Alexandria, Mesir, namun beliau telah dihalang.  Padahal,   Menteri Pendidikan dan Qadhi Qudhat (Hakim Agung) waktu itu,   Syeikh Muhammad al-Amin as-Sanqaythi, telah mengizinkannya  untuk   hadir. Akhirnya, beliau mengirimkan surat yang sangat panjang  kepada   para peserta persidangan yang kemudian dikenali sebagai Risalah    al-Arab. Beliau menekankan bahawa misi yang benar dan hakiki untuk Arab    adalah Islam. Hanya dengan Islam sahajalah pemikiran dan kebangkitan    kembali politik umat akan boleh dicapai. Malangnya tidak ada respons    sama sekali dari para anggota persidangan terhadap surat ini. Hal ini    lebih menguatkan keyakinan Syeikh Taqiyuddin sebelumnya, bahawa    pendirian parti politik menjadi perkara yang sangat penting dan    mendasar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3493988676080638915-1688683545393721538?l=hilyathasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hilyathasan.blogspot.com/feeds/1688683545393721538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3493988676080638915&amp;postID=1688683545393721538&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/1688683545393721538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/1688683545393721538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hilyathasan.blogspot.com/2011/05/biografi-singkat-syaikh-taqiyuddin.html' title='Biografi Singkat Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani.'/><author><name>Hilyat Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04153284808943762507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/SoiPx06Vm7I/AAAAAAAAADU/BEKY3rsSXO8/S220/Image0112.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3493988676080638915.post-6292450060341738939</id><published>2011-05-24T13:05:00.002+07:00</published><updated>2011-05-24T16:57:13.844+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tsaqafah'/><title type='text'>JILBAB DAN KHIMAR, BUSANA MUSLIMAH DALAM KEHIDUPAN UMUM</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;Salah Kaprah antara "Jilbab" dengan "Khimar"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-GDya9iCUqHQ/TdtROzOnJWI/AAAAAAAAAQk/T8gDgtoFNkQ/s1600/DSCF0025.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-GDya9iCUqHQ/TdtROzOnJWI/AAAAAAAAAQk/T8gDgtoFNkQ/s320/DSCF0025.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;kerudung = khimar, gamis/baju terusan = jilbab&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengantar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak  kesalahpahaman terhadap Islam di tengah masyarakat. Misalnya saja  jilbab. Tak sedikit orang menyangka bahwa yang dimaksud dengan jilbab  adalah kerudung. Padahal tidak demikian. Jilbab bukan kerudung. Kerudung  dalam Al Qur`an surah An Nuur : 31 disebut dengan istilah khimar  (jamaknya : khumur), bukan jilbab. Adapun jilbab yang terdapat dalam  surah Al Ahzab : 59, sebenarnya adalah baju longgar yang menutupi  seluruh tubuh perempuan dari atas sampai bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahpahaman lain yang sering dijumpai adalah anggapan bahwa busana  muslimah itu yang penting sudah menutup aurat, sedang mode baju apakah  terusan atau potongan, atau memakai celana panjang, dianggap bukan  masalah. Dianggap, model potongan atau bercelana panjang jeans oke-oke  saja, yang penting ‘kan sudah menutup aurat. Kalau sudah menutup aurat,  dianggap sudah berbusana muslimah secara sempurna. Padahal tidak begitu.  Islam telah menetapkan syarat-syarat bagi busana muslimah dalam  kehidupan umum, seperti yang ditunjukkan oleh nash-nash Al Qur`an dan As  Sunnah. Menutup aurat itu hanya salah satu syarat, bukan satu-satunya  syarat busana dalam kehidupan umum. Syarat lainnya misalnya busana  muslimah tidak boleh menggunakan bahan tekstil yang transparan atau  mencetak lekuk tubuh perempuan. Dengan demikian, walaupun menutup aurat  tapi kalau mencetak tubuh alias ketat –atau menggunakan bahan tekstil  yang transparan-- tetap belum dianggap busana muslimah yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena  itu, kesalahpahaman semacam itu perlu diluruskan, agar kita dapat  kembali kepada ajaran Islam secara murni serta bebas dari pengaruh  lingkungan, pergaulan, atau adat-istiadat rusak di tengah masyarakat  sekuler sekarang. Memang, jika kita konsisten dengan Islam, terkadang  terasa amat berat. Misalnya saja memakai jilbab (dalam arti yang  sesungguhnya). Di tengah maraknya berbagai mode busana wanita yang  diiklankan trendi dan up to date, jilbab secara kontras jelas akan  kelihatan ortodoks, kaku, dan kurang trendi (dan tentu, tidak seksi).  Padahal, busana jilbab itulah pakaian yang benar bagi muslimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  sinilah kaum muslimah diuji. Diuji imannya, diuji taqwanya. Di sini dia  harus memilih, apakah dia akan tetap teguh mentaati ketentuan Allah dan  Rasul-Nya, seraya menanggung perasaan berat hati namun berada dalam  keridhaan Allah, atau rela terseret oleh bujukan hawa nafsu atau rayuan  syaitan terlaknat untuk mengenakan mode-mode liar yang dipropagandakan  kaum kafir dengan tujuan agar kaum muslimah terjerumus ke dalam limbah  dosa dan kesesatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan itu, Nabi SAW pernah  bersabda bahwa akan tiba suatu masa di mana Islam akan menjadi sesuatu  yang asing –termasuk busana jilbab-- sebagaimana awal kedatangan Islam.  Dalam keadaan seperti itu, kita tidak boleh larut. Harus tetap bersabar,  dan memegang Islam dengan teguh, walaupun berat seperti memegang bara  api. Dan in sya-allah, dalam kondisi yang rusak dan bejat seperti ini,  mereka yang tetap taat akan mendapat pahala yang berlipat ganda. Bahkan  dengan pahala lima puluh kali lipat daripada pahala para shahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Nabi SAW :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Islam  bermula dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi sesuatu yang  asing. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.” (HR. Muslim no.  145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang  memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang  bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan  mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu.  Ada yang berkata,’Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara  mereka ?” Rasululah SAW menjawab,”Bahkan lima puluh orang di antara  kalian (para shahabat).” (HR. Abu Dawud, dengan sanad hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Aurat dan Busana Muslimah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 3 (tiga) masalah yang sering dicampuradukkan yang sebenarnya merupakan masalah-masalah yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, masalah batasan aurat bagi wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, busana muslimah dalam kehidupan khusus (al hayah al  khashshash), yaitu tempat-tempat di mana wanita hidup bersama mahram  atau sesama wanita, seperti rumah-rumah pribadi, atau tempat kost.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, busana muslimah dalam kehidupan umum (al hayah ‘ammah),  yaitu tempat-tempat di mana wanita berinteraksi dengan anggota  masyarakat lain secara umum, seperti di jalan-jalan, sekolah, pasar,  kampus, dan sebagainya. Busana wanita muslimah dalam kehidupan umum ini  terdiri dari jilbab dan khimar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Batasan Aurat Wanita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aurat  wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan dua telapak  tangannya. Lehernya adalah aurat, rambutnya juga aurat bagi orang yang  bukan mahram, meskipun cuma selembar. Seluruh tubuh kecuali wajah dan  dua telapak tangan adalah aurat yang wajib ditutup. Hal ini berlandaskan  firman Allah SWT :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.' (QS An Nuur : 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang  dimaksud “wa laa yubdiina ziinatahunna” (janganlah mereka menampakkan  perhiasannya), adalah “wa laa yubdiina mahalla ziinatahinna” (janganlah  mereka menampakkan tempat-tempat (anggota tubuh) yang di situ dikenakan  perhiasan). (Lihat Abu Bakar Al-Jashshash, Ahkamul Qur`an, Juz III hal.  316).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, “illa maa zhahara minha” (kecuali yang  (biasa) nampak dari padanya). Jadi ada anggota tubuh yang boleh  ditampakkan. Anggota tubuh tersebut, adalah wajah dan dua telapak  tangan. Demikianlah pendapat sebagian shahabat, seperti ‘Aisyah, Ibnu  Abbas, dan Ibnu Umar (Al-Albani, 2001 : 66). Ibnu Jarir Ath-Thabari (w.  310 H) berkata dalam kitab tafsirnya Jami’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur`an  Juz XVIII hal. 84, mengenai apa yang dimaksud dengan “kecuali yang  (biasa) nampak dari padanya” (illaa maa zhahara minha) : “Pendapat yang  paling mendekati kebenaran adalah yang mengatakan,’Yang dimaksudkan  adalah wajah dan dua telapak tangan.” Pendapat yang sama juga dinyatakan  Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur`an, Juz  XII hal. 229 (Al-Albani, 2001 : 50 &amp;amp; 57).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, yang  dimaksud dengan apa yang nampak dari padanya adalah wajah dan dua  telapak tangan. Sebab kedua anggota tubuh inilah yang biasa nampak dari  kalangan muslimah di hadapan Nabi SAW sedangkan beliau mendiamkannya.  Kedua anggota tubuh ini pula yang nampak dalam ibadah-ibadah seperti  haji dan shalat. Kedua anggota tubuh ini biasa terlihat di masa  Rasulullah SAW, yaitu di masa masih turunnya ayat Al Qur`an (An-Nabhani,  1990 : 45). Di samping itu terdapat alasan lain yang menunjukkan  bahwasanya seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan dua  telapak tangan karena sabda Rasulullah SAW kepada Asma` binti Abu Bakar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Wahai  Asma` sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) maka  tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, seraya  menunjukkan wajah dan telapak tangannya.' (HR. Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah  dalil-dalil yang menunjukkan dengan jelas bahwasanya seluruh tubuh  wanita itu adalah aurat, kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Maka  diwajibkan atas wanita untuk menutupi auratnya, yaitu menutupi seluruh  tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Busana Muslimah dalam Kehidupan Khusus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun  dengan apa seorang muslimah menutupi aurat tersebut, maka di sini  syara’ tidak menentukan bentuk/model pakaian tertentu untuk menutupi  aurat, akan tetapi membiarkan secara mutlak tanpa menentukannya dan  cukup dengan mencantumkan lafadz dalam firman-Nya (QS An Nuur : 31) “wa  laa yubdiina” (Dan janganlah mereka menampakkan) atau sabda Nabi SAW  “lam yashluh an yura minha” (tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya)  (HR. Abu Dawud). Jadi, pakaian yang menutupi seluruh auratnya kecuali  wajah dan telapak tangan dianggap sudah menutupi, walau bagaimana pun  bentuknya. Dengan mengenakan daster atau kain yang panjang juga dapat  menutupi, begitu pula celana panjang, rok, dan kaos juga dapat  menutupinya. Sebab bentuk dan jenis pakaian tidak ditentukan oleh  syara’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal ini maka setiap bentuk dan jenis pakaian  yang dapat menutupi aurat, yaitu yang tidak menampakkan aurat dianggap  sebagai penutup bagi aurat secara syar'i, tanpa melihat lagi bentuk,  jenis, maupun macamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian syara' telah mensyaratkan  dalam berpakaian agar pakaian yang dikenakan dapat menutupi kulit. Jadi  pakaian harus dapat menutupi kulit sehingga warna kulitnya tidak  diketahui. Jika tidak demikian, maka dianggap tidak menutupi aurat. Oleh  karena itu apabila kain penutup itu tipis/transparan sehingga nampak  warna kulitnya dan dapat diketahui apakah kulitnya berwarna merah atau  coklat, maka kain penutup seperti ini tidak boleh dijadikan penutup  aurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai dalil bahwasanya syara' telah mewajibkan  menutupi kulit sehingga tidak diketahui warnanya, adalah hadits yang  diriwayatkan dari Aisyah RA bahwasanya Asma` binti Abubakar telah masuk  ke ruangan Nabi SAW dengan berpakaian tipis/transparan, lalu Rasulullah  SAW berpaling seraya bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Wahai Asma` sesungguhnya  seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) tidak boleh baginya  untuk menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini.' (HR. Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi  Rasulullah SAW menganggap kain yang tipis itu tidak menutupi aurat,  malah dianggap menyingkapkan aurat. Oleh karena itu lalu Nabi SAW  berpaling seraya memerintahkannya menutupi auratnya, yaitu mengenakan  pakaian yang dapat menutupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil lainnya juga terdapat  dalam hadits riwayat Usamah bin Zaid, bahwasanya ia ditanyai oleh Nabi  SAW tentang Qibtiyah (baju tipis) yang telah diberikan Nabi SAW kepada  Usamah. Lalu dijawab oleh Usamah bahwasanya ia telah memberikan pakaian  itu kepada isterinya, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Suruhlah  isterimu mengenakan baju dalam di balik kain Qibtiyah itu, karena  sesungguhnya aku khawatir kalau-kalau nampak lekuk tubuhnya.'(HR. Ahmad  dan Al-Baihaqi, dengan sanad hasan. Dikeluarkan oleh Adh-Dhiya’ dalam  kitab Al-Ahadits Al-Mukhtarah, Juz I hal. 441) (Al-Albani, 2001 : 135).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qibtiyah  adalah sehelai kain tipis. Oleh karena itu tatkala Rasulullah SAW  mengetahui bahwasanya Usamah memberikannya kepada isterinya, beliau  memerintahkan agar dipakai di bagian dalam kain supaya tidak kelihatan  warna kulitnya dilihat dari balik kain tipis itu, sehingga beliau  bersabda : 'Suruhlah isterimu mengenakan baju dalam di balik kain  Qibtiyah itu.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian kedua hadits ini merupakan  petunjuk yang sangat jelas bahwasanya syara' telah mensyaratkan apa yang  harus ditutup, yaitu kain yang dapat menutupi kulit. Atas dasar inilah  maka diwajibkan bagi wanita untuk menutupi auratnya dengan pakaian yang  tidak tipis sedemikian sehingga tidak tergambar apa yang ada di  baliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Busana Muslimah dalam Kehidupan Umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan  poin b di atas adalah topik mengenai penutupan aurat wanita dalam  kehidupan khusus. Topik ini tidak dapat dicampuradukkan dengan pakaian  wanita dalam kehidupan umum, dan tidak dapat pula dicampuradukkan dengan  masalah tabarruj pada sebagian pakaian-pakaian wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi,  jika seorang wanita telah mengenakan pakaian yang menutupi aurat, tidak  berarti lantas dia dibolehkan mengenakan pakaian itu dalam kehidupan  umum, seperti di jalanan umum, atau di sekolah, pasar, kampus, kantor,  dan sebagainya. Mengapa ? Sebab untuk kehidupan umum terdapat pakaian  tertentu yang telah ditetapkan oleh syara’. Jadi dalam kehidupan umum  tidaklah cukup hanya dengan menutupi aurat, seperti misalnya celana  panjang, atau baju potongan, yang sebenarnya tidak boleh dikenakan di  jalanan umum meskipun dengan mengenakan itu sudah dapat menutupi aurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang  wanita yang mengenakan celana panjang atau baju potongan memang dapat  menutupi aurat. Namun tidak berarti kemudian pakaian itu boleh dipakai  di hadapan laki-laki yang bukan mahram, karena dengan pakaian itu ia  telah menampakkan keindahan tubuhnya (tabarruj). Tabarruj adalah,  menempakkan perhiasan dan keindahan tubuh bagi laki-laki  asing/non-mahram (izh-haruz ziinah wal mahasin lil ajaanib) (An-Nabhani,  1990 : 104). Oleh karena itu walaupun ia telah menutupi auratnya, akan  tetapi ia telah bertabarruj, sedangkan tabarruj dilarang oleh syara’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaian  wanita dalam kehidupan umum ada 2 (dua), yaitu baju bawah (libas asfal)  yang disebut dengan jilbab, dan baju atas (libas a’la) yaitu khimar  (kerudung) . Dengan dua pakaian inilah seorang wanita boleh berada dalam  kehidupan umum, seperti di kampus, supermarket, jalanan umum, kebun  binatang, atau di pasar-pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah pengertian jilbab ?  Dalam kitab Al Mu’jam Al Wasith karya Dr. Ibrahim Anis (Kairo : Darul  Maarif) halaman 128, jilbab diartikan sebagai “Ats tsaubul musytamil  ‘alal jasadi kullihi” (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), atau “Ma  yulbasu fauqa ats tsiyab kal milhafah” (&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk baju atas,  disyariatkan khimar, yaitu kerudung atau apa saja yang serupa dengannya  yang berfungsi menutupi seluruh kepala, leher, dan lubang baju di dada.  Pakaian jenis ini harus dikenakan jika hendak keluar menuju pasar-pasar  atau berjalan melalui jalanan umum (An-Nabhani, 1990 : 48).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila  ia telah mengenakan kedua jenis pakaian ini (jilbab dan khimar)  dibolehkan baginya keluar dari rumahnya menuju pasar atau berjalan  melalui jalanan umum, yaitu menuju kehidupan umum. Akan tetapi jika ia  tidak mengenakan kedua jenis pakaian ini maka dia tidak boleh keluar  dalam keadaan apa pun, sebab perintah yang menyangkut kedua jenis  pakaian ini datang dalam bentuk yang umum, dan tetap dalam keumumannya  dalam seluruh keadaan, karena tidak ada dalil yang mengkhususkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil  mengenai wajibnya mengenakan dua jenis pakaian ini, karena firman Allah  SWT mengenai pakaian bagian bagian atas (khimar/kerudung) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Hendaklah  mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan  perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.' (QS An Nuur :  31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan karena firman Allah SWT mengenai pakaian bagian bawah (jilbab) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Wahai  Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan  isteri-isteri orang mu'min: 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya.'  (QS Al Ahzab : 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalil bahwa jilbab merupakan  pakaian dalam kehidupan umum, adalah hadits yang diriwayatkan dari Ummu  'Athiah RA, bahwa dia berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Rasulullah SAW memerintahkan  kaum wanita agar keluar rumah menuju shalat Ied, maka Ummu ‘Athiyah  berkata,’Salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab?” Maka  Rasulullah SAW menjawab: 'Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya  kepadanya!'(Muttafaqun ‘alaihi) (Al-Albani, 2001 : 82).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan hadits Ummu ‘Athiyah ini, Syaikh Anwar Al-Kasymiri, dalam kitabnya Faidhul Bari, Juz I hal. 388, mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dapatlah  dimengerti dari hadits ini, bahwa jilbab itu dituntut manakala seorang  wanita keluar rumah, dan ia tidak boleh keluar [rumah] jika tidak  mengenakan jilbab.” (Al-Albani, 2001 : 93).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil-dalil di  atas tadi menjelaskan adanya suatu petunjuk mengenai pakaian wanita  dalam kehidupan umum. Allah SWT telah menyebutkan sifat pakaian ini  dalam dua ayat di atas yang telah diwajibkan atas wanita agar dikenakan  dalam kehidupan umum dengan perincian yang lengkap dan menyeluruh.  Kewajiban ini dipertegas lagi dalam hadits dari Ummu 'Athiah RA di atas,  yakni kalau seorang wanita tak punya jilbab –untuk keluar di lapangan  sholat Ied (kehidupan umum)—maka dia harus meminjam kepada saudaranya  (sesama muslim). Kalau tidak wajib, niscaya Nabi SAW tidak akan  memerintahkan wanita mencari pinjaman jilbab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk jilbab,  disyaratkan tidak boleh potongan, tetapi harus terulur sampai ke bawah  sampai menutup kedua kaki, sebab Allah SWT mengatakan : “yudniina  ‘alaihinna min jalabibihinna” (Hendaklah mereka mengulurkan  jilbab-jilbab mereka.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat tersebut terdapat kata  “yudniina” yang artinya adalah yurkhiina ila asfal (mengulurkan sampai  ke bawah/kedua kaki). Penafsiran ini –yaitu idnaa` berarti irkhaa` ila  asfal-- diperkuat dengan dengan hadits Ibnu Umar bahwa dia berkata,  Rasulullah SAW telah bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang  melabuhkan/menghela bajunya karena sombong, maka Allah tidak akan  melihatnya pada Hari Kiamat nanti.’ Lalu Ummu Salamah berkata,’Lalu apa  yang harus diperbuat wanita dengan ujung-ujung pakaian mereka (bi  dzuyulihinna).” Nabi SAW menjawab,’Hendaklah mereka mengulurkannya  (yurkhiina) sejengkal (syibran)’(yakni dari separoh betis). Ummu Salamah  menjawab,’Kalau begitu, kaki-kaki mereka akan tersingkap.’ Lalu Nabi  menjawab,’Hendaklah mereka mengulurkannya sehasta (fa yurkhiina  dzira`an) dan jangan mereka menambah lagi dari itu.” (HR. At-Tirmidzi  Juz III, hal. 47; hadits sahih) (Al-Albani, 2001 : 89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits  di atas dengan jelas menunjukkan bahwa pada masa Nabi SAW, pakaian luar  yang dikenakan wanita di atas pakaian rumah --yaitu jilbab-- telah  diulurkan sampai ke bawah hingga menutupi kedua kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti  jilbab adalah terusan, bukan potongan. Sebab kalau potongan, tidak bisa  terulur sampai bawah. Atau dengan kata lain, dengan pakaian potongan  seorang wanita muslimah dianggap belum melaksanakan perintah “yudniina  ‘alaihinna min jalaabibihina” (Hendaklah mereka mengulurkan  jilbab-jilbabnya). Di samping itu kata min dalam ayat tersebut bukan min  lit tab’idh (yang menunjukkan arti sebagian) tapi merupakan min lil  bayan (menunjukkan penjelasan jenis). Jadi artinya bukanlah “Hendaklah  mereka mengulurkan sebagian jilbab-jilbab mereka” (sehingga boleh  potongan), melainkan Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka  (sehingga jilbab harus terusan).(An-Nabhani, 1990 : 45-51)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari  penjelasan di atas jelas bahwa wanita dalam kehidupan umum wajib  mengenakan baju terusan yang longgar yang terulur sampai ke bawah yang  dikenakan di atas baju rumah mereka. Itulah yang disebut dengan jilbab  dalam Al Qur`an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang wanita muslimah keluar rumah  tanpa mengenakan jilbab seperti itu, dia telah berdosa, meskipun dia  sudah menutup auratnya. Sebab mengenakan baju yang longgar yang terulur  sampai bawah adalah fardlu hukumnya. Dan setiap pelanggaran terhadap  yang fardlu dengan sendirinya adalah suatu penyimpangan dari syariat  Islam di mana pelakunya dipandang berdosa di sisi Allah. [ ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR BACAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Albani,  Muhammad Nashiruddin. 2001. Jilbab Wanita Muslimah Menurut Al-Qur`an  dan As Sunnah (Jilbab Al-Mar`ah Al-Muslimah fi Al-Kitab wa As-Sunnah).  Alih Bahasa Hawin Murtadlo &amp;amp; Abu Sayyid Sayyaf. Cetakan ke-6. (Solo :  At-Tibyan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------. 2002. Ar-Radd Al-Mufhim Hukum  Cadar (Ar-Radd Al-Mufhim ‘Ala Man Khalafa Al-‘Ulama wa Tasyaddada wa  Ta’ashshaba wa Alzama Al-Mar`ah bi Satri Wajhiha wa Kaffayha wa Awjaba).  Alih Bahasa Abu Shafiya. Cetakan ke-1. (Yogyakarta : Media Hidayah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Baghdadi,  Abdurrahman. 1998. Emansipasi Adakah dalam Islam Suatu Tinjauan Syariat  Islam Tentang Kehidupan Wanita. Cetakan ke-10. (Jakarta : Gema Insani  Press).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali, Wan Muhammad bin Muhammad. Al-Hijab. Alih bahasa Supriyanto Abdullah. Cetakan ke-1. (Yogyakarta : Ash-Shaff).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambarwati, K.R. &amp;amp; M. Al-Khaththath. 2003. Jilbab Antara Trend dan Kewajiban. Cetakan Ke-1. (Jakarta : Wahyu Press).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis, Ibrahim et.al. 1972. Al-Mu’jamul Wasith. Cet. 2. (Kairo : Darul Ma’arif)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An-Nabhani, Taqiyuddin. 1990. An-Nizham Al-Ijtima’i fi Al-Islam. Cetakan ke-3. (Beirut : Darul Ummah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ath-Thayyibiy, Achmad Junaidi. 2003. Tata Kehidupan Wanita dalam Syariat Islam. Cetakan ke-1. (Jakarta : Wahyu Press).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bin  Baz, Syaikh Abdul Aziz et.al. 2000. Fatwa-Fatwa Tentang Memandang,  Berkhalwat, dan Berbaurnya Pria dan Wanita (Fatawa An-Nazhar wa  al-Khalwah wa Al-Ikhtilath). Alih Bahasa Team At-Tibyan. Cetakan ke-5.  (Solo : At-Tibyan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taimiyyah, Ibnu. 2000. Hijab dan  Pakaian Wanita Muslimah dalam Sholat (Hijab Al-Mar`ah wa Libasuha fi  Ash-Shalah). Ditahqiq Oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Alih Bahasa  Hawin Murtadlo. Cetakan ke-2. (Solo : At-Tibyan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://syabab1924.blogspot.com/2009/10/jilbab-dan-khimar-busana-muslimah-dalam.html" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://syabab1924.blogspot&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;.com/2009/10/jilbab-dan-kh&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;imar-busana-muslimah-dalam&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;.html&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3493988676080638915-6292450060341738939?l=hilyathasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hilyathasan.blogspot.com/feeds/6292450060341738939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3493988676080638915&amp;postID=6292450060341738939&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/6292450060341738939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/6292450060341738939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hilyathasan.blogspot.com/2011/05/jilbab-dan-khimar-busana-muslimah-dalam.html' title='JILBAB DAN KHIMAR, BUSANA MUSLIMAH DALAM KEHIDUPAN UMUM'/><author><name>Hilyat Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04153284808943762507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/SoiPx06Vm7I/AAAAAAAAADU/BEKY3rsSXO8/S220/Image0112.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-GDya9iCUqHQ/TdtROzOnJWI/AAAAAAAAAQk/T8gDgtoFNkQ/s72-c/DSCF0025.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3493988676080638915.post-5679839048664201407</id><published>2011-05-20T06:54:00.000+07:00</published><updated>2011-05-20T06:54:58.471+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-8r-ZOm4pU98/TdWp6RbfJtI/AAAAAAAAAQY/-0zGv16NNCc/s1600/227284_1649102758840_1575102119_31254096_5066496_n%25282%2529.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-8r-ZOm4pU98/TdWp6RbfJtI/AAAAAAAAAQY/-0zGv16NNCc/s1600/227284_1649102758840_1575102119_31254096_5066496_n%25282%2529.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ZDe0lf_8D2A/TdWqMlRkb0I/AAAAAAAAAQg/jdvNS6KtliU/s1600/227284_1649102798841_1575102119_31254097_4535065_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-ZDe0lf_8D2A/TdWqMlRkb0I/AAAAAAAAAQg/jdvNS6KtliU/s1600/227284_1649102798841_1575102119_31254097_4535065_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" dir="rtl" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-jYajT7mX0MY/TdWpculL39I/AAAAAAAAAQM/JEpNBHhWASk/s1600/227284_1649102838842_1575102119_31254098_548677_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-jYajT7mX0MY/TdWpculL39I/AAAAAAAAAQM/JEpNBHhWASk/s1600/227284_1649102838842_1575102119_31254098_548677_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ryzT2avBd2s/TdWpHGjgWoI/AAAAAAAAAQI/Ic__gtIWdM4/s1600/227284_1649102878843_1575102119_31254099_591135_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-ryzT2avBd2s/TdWpHGjgWoI/AAAAAAAAAQI/Ic__gtIWdM4/s1600/227284_1649102878843_1575102119_31254099_591135_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-nPFTc3fTGBo/TdWo7CBMpAI/AAAAAAAAAQE/guqtZRcGC-8/s1600/227284_1649102918844_1575102119_31254100_7530907_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-nPFTc3fTGBo/TdWo7CBMpAI/AAAAAAAAAQE/guqtZRcGC-8/s1600/227284_1649102918844_1575102119_31254100_7530907_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3493988676080638915-5679839048664201407?l=hilyathasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hilyathasan.blogspot.com/feeds/5679839048664201407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3493988676080638915&amp;postID=5679839048664201407&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/5679839048664201407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/5679839048664201407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hilyathasan.blogspot.com/2011/05/blog-post.html' title=''/><author><name>Hilyat Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04153284808943762507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/SoiPx06Vm7I/AAAAAAAAADU/BEKY3rsSXO8/S220/Image0112.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-8r-ZOm4pU98/TdWp6RbfJtI/AAAAAAAAAQY/-0zGv16NNCc/s72-c/227284_1649102758840_1575102119_31254096_5066496_n%25282%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3493988676080638915.post-102786950432113067</id><published>2011-05-20T04:30:00.001+07:00</published><updated>2011-05-20T05:46:03.216+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='What Picture Tell Us'/><title type='text'>Hadirilah Konferensi Rajab 1432 H, Di Seluruh Indonesia!!!</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-vcBjFEzn1Bo/TdWdYwVHQbI/AAAAAAAAAPs/RVC58QX4DrQ/s1600/rajab.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="175" src="http://1.bp.blogspot.com/-vcBjFEzn1Bo/TdWdYwVHQbI/AAAAAAAAAPs/RVC58QX4DrQ/s320/rajab.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;Rangkaian Agenda Konferensi Rajab 1432 H, Di Seluruh Indonesia&lt;/h3&gt;Hidup Sejahtera di Bawah Naungan Khilafah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAHAI  ORANG-ORANG YANG BERIMAN, PENUHILAH PANGGILAN ALLAH DAN RASUL-NYA,  KETIKA MEREKA MENYERUKAN KEPADA KALIAN APA YANG BISA MENGHIDUPKAN  KALIAN. TERJEMAH QURAN SURAH AL-ANFAL [08] AYAT 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada Alasan untuk Mendiamkan Umat dalam keterpurukan ..&lt;br /&gt;Sudah  saatnya menyatukan hati, pemikiran, dan langkah untuk mengganti Sistem  yg ada dan mewujudkan kehidupan yg lebih baik dan Diridhoi oleh Allah  SWT. dalam Naungan Khilafah Islam.!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satukan visi, tekad, dan  langkah meraih kehidupan masa depan lebih baik bersama Hizbut Tahrir  Indonesia dalam rangkaian kegiatan Konferensi Rajab 1432 H di berbagai  kota di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut jadwal konferensi Rajab yang dapat diikuti di kota Anda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kalimantan Selatan; Gedung Sultan Suriansyah (Indoor) = Kamis, 2 Juni 2011&lt;br /&gt;2. Kendari, Sulawesi Utara; Monumen MTQ = Ahad, 12 Juni 2011&lt;br /&gt;3. Samarinda, Kalimantan Timur; GOR Segiri = Ahad, 12 Juni 2011&lt;br /&gt;4. Batam, Kepulauan Riau; Aula Poltek Batam = Ahad, 12 Juni 2011&lt;br /&gt;5. Bandar Lampung, Lampung; GOR Sumpah Pemuda = Ahad, 12 Juni 2011&lt;br /&gt;6. Kalimantan Tengah; Aula Bapelkes = Ahad, 12 Juni 2011&lt;br /&gt;7. Palu; Aula SMK 1 = Ahad, 12 Juni 2011&lt;br /&gt;8. Luwuk Banggal; Gedung Koni Luwuk = Ahad, 12 Juni 2011&lt;br /&gt;9. Jaya Pura &amp;amp; Sorong; Hotel Maspaqco Jaya Pura = Ahad, 12 Juni 2011&lt;br /&gt;10. Ketapang; Gedung Pancasila Ketapang = Ahad, 12 Juni 2011&lt;br /&gt;11. Palembang, Sumatera Selatan; Asrama Haji Palembang = Sabtu, 18 Juni 2011&lt;br /&gt;12. Purwokerto, Solo, Semarang, DIY; Jogja Expo Center (JEC) = Ahad, 19 Juni 2011&lt;br /&gt;13. Riau; Grand Ball Room Pangeran Hotel Pekanbaru = Ahad, 19 Juni 2011&lt;br /&gt;14. Tanjung Pinang; Aula Kantor Gubernur Kepulauan Riau = Ahad, 19 Juni 2011&lt;br /&gt;15. Sumatera Barat; Balai Seminar UIN (Padang) = Ahad, 19 Juni 2011&lt;br /&gt;16. Bangka Belitung; GOR Babel = Ahad, 19 Juni 2011&lt;br /&gt;17. Bengkulu; Gd Teater Tertutup Taman Budaya Kota Bengkulu = Ahad, 19 Juni 2011&lt;br /&gt;18. Lubuk Linggau; Eks Gd Bioskop Sindang Lubuk Linggau = Ahad, 19 Juni 2011&lt;br /&gt;19. Jambi; STIKES Baiturrohim Jambi = Ahad, 19 Juni 2011&lt;br /&gt;20. NAD; Aula Dayan Daod = Ahad, 19 Juni 2011&lt;br /&gt;21. Ternate; Hotel Vellya = Ahad, 19 Juni 2011&lt;br /&gt;22. NTB; Auditorium UNRAM (Mataram) = Ahad, 19 Juni 2011&lt;br /&gt;23.  Pasuruan, gresik, Jember, Madura, Malang, Blitar, Kediri, Madiun,  Surabaya, Singaraja, Bali; Deltras Sidoarjo = Ahad, 26 Juni 2011&lt;br /&gt;24. Pontianak; Gd Amphi Teater Fak Kedokteran UNTAN = 26 Juni 2011&lt;br /&gt;25. Gorontalo &amp;amp; Manado; Gedung Serba Guna UNG = Ahad, 26 Juni 2011&lt;br /&gt;26. Sumatera Utara; Selecta (Medan) = Ahad, 26 Juni 2011&lt;br /&gt;27. Sulawesi Selatan; Celebes Covention Center (Makasar) = Ahad, 26 Juni 2011&lt;br /&gt;28. Bandung, Tasikmalaya, Cirebon; Stadion Jalak Harupat (Bandung) = Rabu, 29 Juni 2011&lt;br /&gt;29. Jabodetabek, Purwakarta, Banten; Stadion Lebak Bulus (Jakarta) = Rabu, 29 Juni 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB:&lt;br /&gt;Ikuti  rangkaian kegiatan kami di berbagai kota besar di Indonesia: Forum  Dialog Terbuka, Forum Ulama, Forum Pengusaha, Forum Intelektual, Forum  Mahasiswa, Training, Seminar, Workshop, Kajian dan Diskusi, video dan  radio streaming, dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk informasi lebih lanjut silahkan  menghubungi / Koordinasi dengan Syabab / Syabah (aktivis) Hizbut Tahrir  Indonesia setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantor Pusat HTI: Crown Palace : JL. Prof.Dr.Soepomo No.231 Jakarta Selatan 12790.&lt;br /&gt;Telp (+62-21) 83787370&lt;br /&gt;Fax (+62-21) 83787372&lt;br /&gt;Email : Info@hizbut-tahrir.or.id&lt;br /&gt;Website: www.hizbut-tahrir.or.id&lt;br /&gt;Email: Info@hizbut-tahrir.or.id&lt;br /&gt;Facebook: www.facebook.com/hidupsejahteradibawahnaungankhilafah&lt;br /&gt;Twitter: @ismailyusanto&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3493988676080638915-102786950432113067?l=hilyathasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hilyathasan.blogspot.com/feeds/102786950432113067/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3493988676080638915&amp;postID=102786950432113067&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/102786950432113067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/102786950432113067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hilyathasan.blogspot.com/2011/05/hadirilah-konferensi-rajab-1432-h-di.html' title='Hadirilah Konferensi Rajab 1432 H, Di Seluruh Indonesia!!!'/><author><name>Hilyat Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04153284808943762507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/SoiPx06Vm7I/AAAAAAAAADU/BEKY3rsSXO8/S220/Image0112.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-vcBjFEzn1Bo/TdWdYwVHQbI/AAAAAAAAAPs/RVC58QX4DrQ/s72-c/rajab.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3493988676080638915.post-212784962928522726</id><published>2011-04-09T19:12:00.000+07:00</published><updated>2011-04-09T19:12:17.728+07:00</updated><title type='text'>Khobar Ahad Dalam Aqidah</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Ini adalah makalah yang disampaikan dalam kajian kamis sore di sayap selatan masjid kampus ugm pada 1 maret 2007. Kami sangat mengharapkan kritik dan masukan yang memang perlu disampaikan oleh ikhwaati fillah sekalian. Jazakumullaah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillaahi Rabbil 'aalamiin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wash-sholaatu was-salaamu 'alaa rasuulillaah, wa 'alaa aalihi wa shohbihi ajma'iin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wa ba'd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khobar Ahad Dalam Aqidah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini bicara tentang sebuah pernyataan yang berbunyi "khobar ahad tidak menjadi hujjah dalam perkara-perkara aqidah" yang terdapat dalam buku Asy-Syakhshiyah Al Islamiyah juz I karya Taqiyyuddiin An Nabhaaniy rahimahullaah. Kami terdorong untuk membahas permasalahan ini karena sepenggal pernyataan di atas sering dicomot begitu saja tanpa menyertakan penjelasan yang memadai dari penulisnya. Padahal beliau menulis dua bab tersendiri untuk mempertanggungjawabkan pernyataan tersebut. Kemudian -setelah dicomot- sepotong kalimat itu diangkat dan disyarah sekehendak hati oleh orang yang berkeinginan untuk menyerang, mendiskreditkan, membodoh-bodohkan, dan menyesat-nyesatkan penulisnya. Seringkali serangan mereka tidak berpijak pada apa yang sebenarnya dimaksud oleh penulis. Akibatnya muncul tuduhan-tuduhan yang tidak semestinya terlontarkan. Seperti pernyataan seseorang "Taqiyudiin melarang pengikutnya untuk mempercayai apa yang ditunjukkan oleh hadits ahad". Pernyataan yang berbentuk mutlak tanpa embel-embel dan penjelasan ini sama sekali tidak benar, dan itu akan menjadi suatu perkara besar di pengadilan Allah kelak, yaitu saat siapa saja yang terdzolimi oleh lisan seseorang, maka ia akan mendapat keadilan. Dan kami akan menjadi salah seorang di antara ribuan orang yang akan menuntut keadilan dalam perkara ini. Oleh karena itu, alangkah lebih baiknya jika masalah ini kita selesaikan di dunia saja. Wallaahu Musta'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan Pernyataan Baru Yang "Nyleneh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa saja yang tersentak, terheran-heran, bergeleng-geleng kepala ketika mendengar pernyataan bahwa hadits ahad tidak dijadikan hujjah dalam perkara aqidah, maka dapat dipastikan bahwa ia belum berinteraksi dengan khasanah keilmuan islam mengenai masalah ini, meski hanya sedikit. Terlepas dari setuju atau tidak dengan pernyataan itu, siapa saja yang akrab dengan tsaqofah islam, mengikuti perbincangan para ulama dalam bidang ushuluddiin, ushul fiqh mau pun hadits, dia akan menemukan berbagai pernyataan dan polemik seputar masalah ini, mulai dari apa faedah yang didatangkan oleh hadits ahad, sampai dalam masalah apa dibolehkan untuk ber-istid-laal (berdalil) dengan hadits ahad. Dia akan menemukan nama ulama -yang sehari-hari namanya kita sebut- memiliki pendapat yang sama dengan Taqiyyudiin -seperti Hujjatul Islaam Abu hamid Al Ghozali, Al Amidi, Al Bazdawi, As Sam'aani, Al Qosimi sampai ulama kontemporer seperti syaikh Al Azhaar Mahmud Syaltut, Sayid Qutb, Dr. Muhammad Al Ghozali, Dr. Said Ramadlon Al Buthi, Muhammad Abu Zahrah, Abdul Wahhab Kholaf, dll. Sebagaimana dia juga akan menemukan ulama besar yang menentang pernyataan itu -seperti Syaikhul Islaam, Taqiyyuddiin Ibn Taimiyah, syaikh madzhab dhohiri Ibnu Hazm, As Suyuti, Ibnu Hajjar sampai Nashiruddiin Al Albani. Semoga Allah merahmati mereka semua. Dengan kemampuan seadanya, kami baru bisa menyentuhkan satu ujung jari ke kulit terluar dari lautan ilmu yang luas itu. Yang dengan kelemahan itu kami bertambah cinta kepada para ulama dan bertambah kecil di hadapan Allah Ta'alaa. Tapi alhamdulillaah -dengan karunia yang diberikan Allah- kami bisa merasakan betapa para ulama telah memberi perhatian serius terhadap masalah ini. Dan karena kehendak Allah, melalui ilmu yang mereka uraikan, kita bisa berusaha menentukan sikap dalam masalah pelik yang mereka perdebatkan ini. Allah memberikan pertolongan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, maka hanya kepadaNyalah kita minta pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara-perkara Aqidah Yang Dimaksud Oleh Taqiyyuddiin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum lebih jauh mengurai tentang permasalahan hadits ahad dalam aqidah, kepada siapa saja kita hendak bicara, terlebih dahulu harus dijelaskan tentang apa yang dimaksud dengan "perkara-perkara aqidah" (aqooid) dalam pernyataan Taqiyuddiin. Tentu saja untuk itu kita harus merujuk pada apa yang dimaksud oleh si pembuat pernyataan. Dengan begitu, tidak terjadi respon yang salah dikarenakan perbedaan persepsi mengenai apa yang dimaksud dengan "perkara aqidah" dalam pernyataan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kita tegaskan bahwa istilah aqidah yang kita bicarakan di sini merupakan istilah yang dibuat dan digunakan oleh para ulama ushulud diin. Istilah ini tidak memiliki makna syar'i, tidak seperti kata sholaah, zakaah, jihaad, haj, wudluu', tayammum, islam, dll. Kata-kata yang disebut terakhir telah digunakan oleh Allah dan rasulNya di dalam Al Qur'an dan hadits dengan pengertian baru (syar'i) yang kita harus terikat dengan pengertian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan makna aqidah dalam disiplin ushulud diin sama seperti pembentukan pengertian al hadits dalam disiplin ilmu hadits. Al hadits tidak memiliki makna syar'i. Secara bahasa artinya antara lain adalah "pembicaraan" atau "sesuatu yang baru". Tapi para muhaditsuun rahimahumullaahu membuat kata al hadits memiliki pengertian khusus di dalam disiplin ilmu yang mereka mereka geluti, yaitu sebagai segala macam khobar yang memberitakan tentang kisah kehidupan, perbuatan, perkataan, taqriir, dan sifat-sifat penciptaan (fisik) nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam. Dari mana pengertian al hadits seperti ini muncul? Tentu saja ini hanya istilah yang dibuat oleh para muhaditsuun rahimahumullaahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita berpindah ke disiplin ilmu ushul fiqh, maka akan dapati para ahli ushul fiqh menggunakan istilah al hadits dengan pengertian yang berbeda. Al Hadits dalam ushul fiqh merupakan salah satu sumber hukum syara'. Dalam disiplin yang mereka geluti, al hadits adalah segala informasi mengenai perbuatan, perkataan dan taqriir nabi shollallaahu 'alaihi wa sallama, sementara sifat fisik nabi 'alaihish-sholaatu was-salaam tidak termasuk dalam pengertian hadits -dalam disiplin ushul fiqh, sebab sifat fisik nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam bukan merupakan sumber hukum syara'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan penggunaan istilah dalam disiplin ilmu yang berbeda sebenarnya bukanlah sebuah perbedaan. Ini seperti kata "shooting" yang sering kita dengar. Jika kata shooting digunakan oleh tentara dalam peperangan, maka artinya adalah menembak; jika digunakan oleh pemain bola di lapangan, maka artinya adalah menendang ke arah gawang; jika digunakan oleh fotografer atau kamerawan, maka artinya adalah mengambil gambar. Dengan demikian, jika kita hendak memahami sebuah istilah yang digunakan oleh seseorang dalam pernyataannya, maka kita harus mengacu pada pengertian atau fakta yang dimaksud oleh si pembuat pernyataan. Artinya, kita tidak bisa mengartikan sebuah istilah yang digunakan oleh orang lain dengan imajenasi kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita cermati tulisan Taqiyuddiin dalam Asy-syakhshiyah I dengan seksama, dapat disimpulkan bahwa permasalahan aqidah yang beliau maksud dalam pernyataan di atas adalah hal-hal yang wajib diimani oleh seorang muslim -yang mana apabila seseorang tidak mengimani salah satu dari permasalahan aqidah tersebut maka dirinya tidak dapat disebut sebagai seorang muslim. Keimanan pada hal-hal yang tergolong "wajib untuk diimani" yang memberi batas tegas antara iman dan kufur itulah yang disebut oleh Taqiyyuddiin sebagai aqidah. Untuk menjelaskannya, kita akan mendifinisikan kata iman terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pengertian iman yang dimaksud oleh penulis di sini? Iman yang dimaksud oleh penulis -yakni An Nabhaaniy- adalah "pembenaran/pengakuan (terhadap suatu hal) yang bersifat pasti, sesuai dengan fakta dan didasarkan atas bukti" (tashdiiqul jazm almuthobaqu lil waqii'i 'an daliilin). Definisi iman ini dirumuskan berdasarkan fakta iman itu sendiri. Ini adalah definisi iman menurut ushuliyuun, bukan ahli bahasa mau pun muhaditsuun. Istilah ini mungkin memiliki pengertian yang berbeda jika diucapkan oleh kalangan muhaditsuun atau lughuun -ahli bahasa. Para ahli hadits misalnya, mereka mengatakan bahwa imaan itu bukan sekedar pembenaran pasti di dalam hati, tapi juga mencakup pengikraran secara lisan, dan pengamalan dalam perbuatan. Mereka mengatakan bahwa iman itu bercabang-cabang, ada yang apa bila diingkari menyebabkan kekafiran, tapi ada cabang iman yang bila diingkari tidak menyebabkan kafir, hanya menyebabkan dosa. Mereka juga mengatakan bahwa iman itu ada yang kuat dan ada yang lemah. Iman yang lemah bisa menguat dan iman yang kuat bisa melemah. Iman bisa diperkuat dengan ketaatan dan bisa diperlemah dengan kemaksiatan. Manusia bertingkat-tingkat dalam beriman, dan para nabi 'alaihimus-salaam adalah manusia yang memiliki tingkatan iman tertinggi. Sementara Abu Bakar radliyallaahu 'anhu merupakan manusia yang paling tinggi imannya setelah para nabi 'alaihimus-salaam. Begitulah pendapat sebagian besar ahli hadits. Hal itu dirumuskan berdasarkan kata iman yang digunakan oleh nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam dalam banyak sabda beliau. Sebagian dari mereka mengatakan, barang siapa yang menolak hal-hal di atas, maka mereka bukan ahlu sunah, mereka adalah Khowarij -kelompok ekstrim yang menyatakan bahwa orang yang bermaksiyat adalah orang yang tidak beriman- atau Murji'ah -kelompok ekstrim yang mengatakan bahwa kemaksiyatan tidak berhubungan dengan keimanan dan tidak mengurangi iman, sebagaimana mengamalkan ketaatan tidak akan menambah iman bagi orang kafir, sebab iman sekedar keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa ahli ushul dan ahli hadits berbeda dalam mengidentifikasi masalah keimanan? Menurut kami penyebabnya bukan perbedaan madzhab, melainkan perbedaan konsentrasi disiplin ilmu yang mereka geluti. Muhaditsuun lebih berkonsentrasi untuk menjaga lafadz-lafadz yang digunakan oleh rasuulullaah shollallaahu 'alaihi wa sallam dalam hadits. Sedangkan para ushuliyuun lebih berkonsentrasi pada aspek praktis dari istilah iman itu sendiri. Para ahli ushul menggunakan istilah "iman" untuk mengidentifikasi "faktor pembatas antara keislaman dan kekufuran" yang tidak lain adalah aspek pembenaran atau keyakinan terhadap masalah-masalah ushuluddiin. Sedangkan masalah ikrar dan amal tidak mereka masukkan dalam pengertian iman, tapi mereka anggap sebagai konsekuensi, tanda, dan dampak dari keimanan. Masalah kualitas kuat-lemahnya iman mereka anggap sebagai kuat-lemahnya pengaruh iman tatkala seseorang menjalankan berbagai aktivitas dalam kehidupannya (idrak shilatu billaah). Kemaksiatan mengurangi iman artinya mengurangi hubungan hamba dengan Allah, dan ketaatan menambah iman artinya menambah hubungan hamba dengan Allah. Bagi kami, pendapat sebagian besar ushuliyuun adalah yang lebih tepat. Beriman dengan keberadaan jin, iblis, dan malaikat adalah pengetahuan dan pembenaran secara pasti saja. Orang beriman harus mengatakan "kami percaya sepenuhnya dengan keberadaan jin", perkataan ini adalah konsekuensi dari iman, bukan iman itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang jelas, para ulama yang berpendapat bahwa iman adalah tashdiq, ikrar, dan amal tidak mengkafirkan orang yang mengamalkan kemaksiyatan, sekali pun maksiyat yang termasuk dosa besar, seperti zina dan riba misalnya. Artinya, mereka tidak menjadikan amal sebagai masalah keimanan dalam pengertian yang digunakan ulama ushuluddiin. Sedangkan amal yang berupa kewajiban-kewajiban dan nawaafil (nafilah-nafilah) tidak pula dianggap remeh oleh ushuliyuun, hal ini sesuai dengan harapan ahli hadits. Jadi jelas, perbedaan di antara mereka sebenarnya bukan perbedaan yang hakiki, ini hanya perbedaan dalam pengistilahan, sedang dalam prakteknya mereka tidak berbeda. Kita tidak berharap karena hanya berbeda dalam mengaplikasikan sebuah kata, kaum muslim harus saling membi'ahkan satu dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kita sakarang sedang bicara masalah aqidah, maka kita akan menggunakan istilah iman dalam pengertian yang digunakan oleh ulama ushulud diin. Allah berfirman dalam Ash-Shof : "Tu'minuuna billaahi wa rasuulihi"- kalian beriman kepada Allah dan (kepada) rasulNya-. Jika kita aplikasikan definisi imaan menurut ushuliyuun, maka beriman kepada Allah di sini adalah "membenarkan secara pasti tentang kenyataan bahwa Allah adalah satu-satunya Ilaah -berdasarkan bukti yang pasti"; dan beriman kepada rasulNya adalah "membenarkan secara pasti bahwa Muhammad shollallaahu 'alaihi wa sallam merupakan seorang rasul Allah berdasarkan dalil yang pasti".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu dijelaskan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "pembenaran secara pasti" adalah pembenaran yang tidak mengandung keraguan sedikit pun. Dengan kata lain, sebuah keyakinan yang tidak mengandung kemungkinan/peluang salah walau hanya 1%. Maka batasan ini mengecualikan pembenaran yang tidak bersifat jazm/pasti dari lingkup pengertian iman, seperti pembenaran-kuat (gholabatudz-dzon). Jadi sekedar pembenaran-kuat yang tidak jazm tidak bisa disebut iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud "sesuai dengan fakta" adalah pembenaran tersebut memang sesuai dengan realitas, bukan keyakinan yang membabi-buta. Sebuah keyakinan dikatakan benar tatkala keyakinan itu memang sesuai dengan realitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari "berdasarkan bukti" adalah bukti yang menunjukkan bahwa keyakinan itu memang sesuai dengan realitas. Pembenaran merupakan dampak dari pengetahuan. Jika kita mengetahui bahwa realitas bumi itu bulat, maka kita akan membenarkan bahwa bumi itu bulat. Dan pengetahuan manusia terhadap realitas itu didapat melalui bukti. Jika kita tidak mendapatkan bukti apa pun yang menunjukkan bahwa bumi itu bulat, maka kita tidak akan pernah tahu bahwa bumi itu bulat -seperti manusia pada masa lalu. Tapi adanya perjalanan mengitari bumi membuat orang tahu secara pasti bahwa bumi itu bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti (dalil) bisa berupa aqli mau pun naqli -tergantung objek yang dibahas. Jika objek yang diahas adalah realitas yang empirik, indrawi, atau yang berhubungan pasti dengan hal-hal empirik, maka dalilnya 'aqli. Seperti keberadaan manusia, alam semesta, dan kehidupan sebagai makhluq ciptaan Al Kholiq; kenyataan bahwa Muhammad 'alaihisholaatu was salaam adalah rasulullaah, dan kenyataan bahwa Al Qur'an adalah Kalamullaah. Sedangkan hal-hal non empirik, seperti Nama dan Sifat-sifat Allah, makhluq-makhluq ghoib, peristiwa hari kiamat dll, maka tidak bisa terjangkau realitasnya oleh akal. Tapi, keimanan terhadap hal-hal tersebut bisa dicapai dengan adanya dalil naqli yang qoth'i tsubut (sumber penukilannya qoth'i) sekaligus qoth'i dilalah (aspek maknanya qoth'i), yakni seperti Al Qur'an dan hadits mutawatir yang penunjukkan maknanya muhkam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat kekuatan pembenaran manusia terhadap sesuatu berbeda-beda tergantung kekuatan bukti yang dia dapatkan. Jika bukti yang dia dapat lemah, maka pembenarannya akan lemah (ihtimal). Kadang bukti yang dia dapat hanya menghasilkan peluang pembenaran yang sama kuat dengan peluang pengingkarannya, sehingga dia tidak bisa menentukan kecenderungan untuk membenarkan atau pun mengingkari (ragu-ragu/syak). Kadang dia mendapatkan bukti yang sangat kuat sehingga menghasilkan pembenaran yang kuat pula (gholabatudz-dzon). Dan kadang bukti datang tanpa membawa kemungkinan salah sedikit pun (Qoth'i), ini yang disebut sebagai bukti yang menghasilkan pembenaran yang pasti (tashdiiqul jazm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aqidah merupakan permasalahan dasar-dasar agama (ushuluddiin), maka ia haruslah merupakan suatu pembenaran yang bersifat pasti dan tidak mentolelir kemungkinan salah, meski kemungkinan salah itu hanya sebutir debu. Tentu saja demikian, karena atas dasar aqidah itulah kita membangun seluruh pendirian kita, memisahkan antara yang haq dengan yang bathil, membedakan antara keimanan dengan kekufuran, menentukan mana yang kita bela dan mana yang kita lawan (al wala' wa al bara'). bagaimana mungkin kita akan mendasarkan permasalahan fundamental (ushul) seperti itu kepada asas yang masih mengandung peluang kesalahan -meski hanya kecil. Juga kita semua tahu bahwa aqidah adalah yang wajib diyakini secara penuh. Lantas bagaimana mungkin kita bisa meyakini sesuatu secara penuh jika sesuatu itu tidak diketahui kebenarannya secara pasti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, masalah aqidah mau/tidak mau harus merupakan suatu hal yang pasti kebenarannya. Dan untuk memastikan bahwa sesuatu itu memiliki kebenaran yang pasti, kita membutuhkan dalil/bukti yang pasti kebenarannya pula (qoth'i). Mengapa demikian? Sebab pembenaran yang pasti (tashdiiqul jazm) tidak mungkin dihasilkan dari bukti yang tidak pasti. Ini suatu hal yang rasional bahwa bukti yang pasti menghasilkan kepastian, bukti yang bersifat dugaan menghasilkan dugaan, bukti yang lemah menghasilkan ihtimal (sangkaan yang lemah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sesuatu dalam agama islam telah terbukti benar secara pasti melalui dalil-dalil yang pasti, seperti ke-Esa-an Allah, kerasulan Muhammad shollallaahu 'alaihi wa sallam, bahwa Alqur'an adalah Kalamullaah, kedatangan hari akhir dsb, maka diwajibkan atas manusia untuk membenarkannya secara pasti pula. Siapa saja yang masih memiliki keraguan dalam masalah-masalah yang qoth'i, atau mengingkari permasalahan tersebut, dia tidak bisa dikelompokkan sebagai orang yang beriman (baca: kafir). Sebab, menyatakan keraguan dalam perkara yang pasti dalam agama sudah cukup untuk membuat seseorang menjadi kafir. Apalagi mendustakan perkara yang tergolong qoth'i tersebut, jelas kafir. Ini bukan berarti islam menjadikan masalah-masalah itu sebagai doktrin yang dipaksakan kepada pemeluknya. Tidak dikatakan demikian karena apa yang wajib diyakini dalam islam itu memang merupakan realitas yang dapat dibenarkan secara pasti melalui dalil-dalil yang pasti pula. Dalil-dalil itu telah memberi pengetahuan kepada manusia sehingga siapa saja yang ragu atau mendustakannya bisa dikatakan bebal dan mengkhianati akal sehatnya sendiri. Seperti halnya orang yang meragukan atau mengingkari bahwa matahari itu panas, padahal jelas telah datang bukti yang membawa pengetahuan yang pasti bahwa matahari itu memang panas. Tidak ada orang sehat yang seperti itu kecuali orang yang mengkhianati akalnya sendiri seperti Walid bin Mughirah. -Tentu saja ini berlaku untuk orang yang normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, masalah-masalah yang datang dari dalil yang qoth'i, tidak mungkin salah, yang wajib diimani (baca: dibenarkan secara pasti), yang kalau meragukan atau mendustakannya akan divonis kafir- inilah yang dimaksud dengan masalah-masalah aqidah (aqooid). Atas dasar itu, pendirian penulis tentang aqidah bisa dikemas dengan redaksi: permasalahan yang wajib dibenarkan secara pasti oleh seorang muslim berdasarkan dalil yang pasti, dan jika seseorang tidak membenarkannya secara pasti maka dia kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mafhum mukholafah dari definisi aqidah di atas adalah "segala sesuatu yang tidak dituntut untuk dibenarkan secara pasti -karena tidak dudukung oleh dalil yang pasti- dan tidak menyebabkan kekafiran jika diingkari maka tidak dinamakan sebagai perkara aqidah". Artinya, segala sesuatu yang tidak didukung oleh dalil yang qoth'i maka: tidak wajib bagi manusia untuk membenarkannya-secara-pasti; dan siapa saja yang tidak-membenarkannya-secara-pasti maka dia tidak bisa divonis kafir. Penjelasannya: bagaimana mungkin kita dituntut untuk membenarkan sesuatu dengan pembenaran-yang-pasti sedang sesuatu itu sendiri tidak didukung oleh dalil yang pasti? Dan bagaimana mungkin seseorang divonis kafir hanya karena tidak memastikan sesuatu yang dzonniy (tidak pasti)? Atas dasar itu, aqidah yang wajib diimani (baca: dibenarkan secara pasti), -yang kalau mengingkarinya dianggap kafir- terbatas pada masalah-masalah yang didukung oleh dalil yang qoth'i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang perlu juga dicacat adalah, tidak wajib dibenarkan secara pasti bukan berarti wajib untuk diingkari. Penulis -yakni An Nabhaaniy- tidak bermaksud menyatakan bahwa hadits ahad yang mengandung informasi ghoib harus diingkari. Tidak dibenarkan secara pasti bukan berarti diingkari. Masalah ini akan kita bicarakan pada tempat tersendiri, InsyaaAllaahu ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Hadits Ahad Tidak Bisa Dijadikan Hujjah Dalam "Masalah-Yang-Wajib-Dibenarkan-Secara-Pasti" (baca : Aqidah)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya adalah: karena pembenaran yang pasti itu menuntut dalil yang pasti pula. Dalil yang pasti adalah dalil yang mendatangkan pengetahuan yang meyakinkan, tidak membawa peluang kesalahan walau sekecil apa pun. Jika kita telah sepakat dengan pendefinisian aqidah di dalam uraian sebelumnya, maka berarti anda setuju bahwa selain dalil yang qoth'i tidak bisa digunakan untuk berhujjah dalam aqidah. Karena aqidah adalah masalah yang wajib dibenarkan secara pasti. Masalahnya sekarang : "apakah hadits ahad itu dalil yang qoth'i atau tidak?". Jika jawabnya qoth'i, artinya dapat dipastikan bahwa ia dari Nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam, maka dia digunakan sebagai hujjah dalam aqidah, tapi jika jawabnya tidak qoth'i, maka dia tidak dijadikan hujjah dalam aqidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ahad adalah khobar yang disandarkan kepada Nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh rantai perowi yang jumlah rantai itu belum mencapai derajat hadits mutawatir. Sedangkan hadits mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh banyak perowi yang menurut adat kebiasaan para rowi itu tidak mungkin bersepakat bohong atau tidak mungkin sama-sama salah dalam periwayatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama sepakat bahwa hadits yang diriwayatkan secara tawatur dapat menghasilkan ilmu dloruri, yakni dapat dipastikan tanpa ragu sedikit pun bahwa hadits itu memang dari Nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam. Sedangkan dalam masalah hadits ahad, maka ulama berbeda pendapat. Sebagian mereka menyatakan bahwa hadits ahad yang shahiih dapat menghasilkan ilmu pasti. Di antara yang menyatakan demikian adalah Ibnu Hazm rahimahullaah. Sebagian lagi menyatakan bahwa hadits ahad tidak dapat menghasilkan ilmu pasti kecuali jika disertai qorinah pendukung. Ibnu Sholah rahimahullaah termasuk kelompok ini, beliau menyatakan bahwa hadits ahad itu dzonniy, tapi jika umat telah sepakat (berijma') untuk menerima sebuah hadits ahad maka ia berubah menjadi qoth'i. Sebagian lagi menyatakan bahwa hadits ahad paling jauh hanya akan menghasilkan dzon, yaitu pembenaran kuat, dan tidak akan sampai pada derajat qoth'i (menghasilkan 'ilmu). Pendapat ini disampaikan oleh Al Khotib Al Baghdaadi rahimahullaah dalam Al Kifayah fii 'ilmir Riwaayah dan An Nawaawi rahimahullaah dalam muqodimah kitab syarah shohih muslim -kedua ulama ini otoritatif ketika bicara mengenai hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya, Taqiyuddiin An Nabhaani mengadopsi pendapat terakhir, yang menyatakan bahwa hadits ahad paling jauh hanya menghasilkan pembenaran kuat (gholabatudz dzon), tidak sampai pada pembenaran pasti. Sebab, jika hadist mutawatir dan hadits ahad sama-sama qoth'i lantas buat apa para ulama membuat definisi khusus untuk hadits mutawatir sebagai "hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah bilangan rawi yang banyak dimana secara kebiasaan mustahil bagi mereka untuk sepakat berbohong mengenai hadits yang mereka riwayatkan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu fungsi definisi adalah sebagai pembatas (mani') terhadap sesuatu yang didefinisikan agar tampak perbedaannya dengan sesuatu yang lain. Hadits ahad dan hadits mutawatir sama-sama hadits. Tapi kalimat dalam ta'rif hadits mutawatir yang berbunyi "yang diriwayatkan oleh banyak rawi dimana secara kebiasaan mustahil bagi mereka untuk sepakat berbohong mengenai hadits yang mereka riwayatkan" merupakan sekat pembeda yang dibuat oleh para ulama untuk membedakan antara hadits mutawatir dengan hadits ahad. Dari definisi itu kita bisa tahu bahwa hanya dalam hadits mutawatirlah para ulama memastikan bahwa perowi yang banyak itu mustahil salah maupun berbohong secara bersamaan, tidak dalam hadits ahad. Inilah yang membedakan antara hadits mutawatir dengan hadits ahad. Dengan demikian jelas, bahwa hadits mutawatir itu qoth'i -pasti dari nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam- sedang hadits ahad itu tidak qoth'i -maksimal diduga kuat bahwa ia berasal dari Nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam. Pembenaran kuat ini terwujud setelah hadits-hadits ahad melewati proses penelitian dan terhindar dari sebab-sebab yang melemahkan. Artinya, jika hadits itu shohih maka kemungkinan besar memang itu dari nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam dan kemungkinan salah adalah kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu ditambahkan bahwa hadits shohih tidak diterima kecuali jika diriwayatkan oleh orang-orang yang adil. Orang yang adil adalah orang islam yang tidak terkenal suka melakukan perbuatan dosa atau hal-hal yang sia-sia, tidak pernah tertuduh bohong, dan diketahui kehati-hatiannya dalam beramal (wara'). Hadits shohih juga harus diriwayatkan oleh orang-orang yang dlobit, yakni orang yang akurat dalam periwayatan, kuat dalam hafalan dan paham mengenai apa yang dia riwayatkan. Oleh karena itu ulama tidak menerima periwayatan orang yang bodoh, pelupa, pernah gila, sudah tua, orang cacat yang bisa mengganggu tingkat akurasi dalam penukilan -seperti buta dan tuli, atau orang yang periwayatannya kacau -suka berubah-ubah dalam redaksi. Jika dua kualitas itu -adil dan dlobit- terkumpul pada diri seorang rawi, maka orang itu secara umum disebut tsiqoh -terpercaya. Demikianlah, hadits shohih harus diriwayatkan oleh orang-orang yang adil dan dlobit dengan jalur yang bersambung dari satu generasi (thobaqot) ke generasi berikutnya sampai Nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, dengan syarat tersebut para ulama terkadang masih menemukan hadits yang saling berlawanan sehingga mengharuskan mereka untuk melakukan proses tarjih -menguatkan dan memilih salah satu dari dua dalil yang bertentangan. Untuk bisa melakukan tarjih terhadap hadits yang secara dzohir bertentangan dan tidak bisa dikompromikan, maka para ulama membuat tingkatan-tingkatan kualitas perowi dan juga kualitas jalurnya. Jika ada dua hadits yang bertentangan, maka mereka akan memilih hadits yang diriwayatkan oleh jalur yang terdiri dari orang-orang yang lebih kuat, baik dari segi keadilan maupun dari segi kedlobitan. Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullaahu mengklasifikasikan kualitas ketsiqohan para rowi dalam dua belas kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, para ulama sering berbeda pendapat mengenai kualitas seorang rawi. Kadang ulama berpendapat bahwa si A lebih kuat dari B, sedang yang lain menyatakan sebaliknya. Karena itu mereka juga tidak senada mengenai jalur periwayatan mana yang paling kuat. Dalam hal ini ulama memiliki pandangan yang berbeda-beda. Hal itu mempengaruhi proses pentarjihan yang mereka lakukan. Sebagian ulama menguatkan hadits yang diriwayatkan melalui jalur A dari pada hadits yang diriwayatkan melalui jalur B. Tapi sebagian lain justru memiliki pendapat yang sebaliknya. Bahkan ada hadits yang disebut mudlthorib, yaitu dua hadits yang didapat dari dua jalur yang sama-sama kuat tapi bertentangan satu sama lain dengan pertentangan yang tidak bisa dikompromikan atau pun ditarjih. Yang disebut sama-sama kuat adalah kondisi dimana para ulama sudah kehabisan akal untuk mengkompromikan atau untuk memilih salah satunya, karena memang pertentangannya total dan kualitasnya benar-benar sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sebenarnya ingin saya tunjukkan adalah, bahwa ternyata metode yang digunakan untuk menerima hadits dengan menetapkan syarat adil dan dlobit saja belum bisa menjamin kepastian bahwa hadits itu benar-benar dari nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam tanpa keraguan sebutir debu pun. Buktinya, sebuah hadits yang diriwayatkan secara bersambung sampai nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam (muttashil-marfu') oleh para rawi yang seluruhnya adil dan dlobit masih bisa bertentangan dengan hadits lain yang juga diriwayatkan secara muttashil oleh orang-orang yang juga tsiqoh. Jika periwayatan dari orang-orang yang adil dan dlobit itu sudah 100 % menjamin kebenaran sebuah hadits, seharusnya tidak mungkin terjadi pertentangan antara dua hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang tsiqoh. Sebab, dua hal yang bertentangan tidak mungkin sama-sama benar. Salah satu dari keduanya dapat dipastikan salah atau palsu. Contohnya adalah hadits-hadits yang bertentangan mengenai cara menempatkan tangan saat turun untuk sujud dan bangkit dari sujud. Kita berani memastikan salah satu pihak dari hadits-hadits yang bertentangan itu pasti salah, meskipun keduanya diriwayatkan oleh orang-orang yang adil dan dlobit. Hanya saja kita tidak bisa mematikan mana yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya masih ada celah dalam metode. Syarat adil dan dlobit masih bisa kebobolan sehingga meloloskan hadits yang salah. Ibarat filter, jaringnya masih kurang rapat, meskipun sudah begitu ketat. Dengan demikian jelas, hadits yang diterima oleh para ulama secara ahad dari orang-orang yang tsiqoh dan musnad (muttashil-marfu') belum menjamin bahwa hadits itu qoth'i 100% dari rasulullaah shollallaahu 'alaihi wa sallam. Kita hanya bisa mengatakan, jika sebuah hadits diriwayatkan secara ahad, oleh para rawi yang adil dan dlobit secara bersambung, dan tidak ada pertentangan dengan riwayat lain, maka hadits itu kita duga kuat benar-benar dari nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam, dan kita jadikan hujjah dalam berarmal. Tapi tetap saja dia dzon, seperti yang ditegaskan An Nawawi rahimahullah dalam muqodimah syarh muslim. (lihat, Syarah Shohih Muslim, Jilid I, Penerbit Mustaqim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hadits ahad itu tidak qoth'i dari Nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam, maka hadits ahad tidak bisa menghasilkan pembenaran yang pasti. Padahal, aqidah yang dibicarakan oleh Taqiyuddiin adalah hal-hal yang wajib (harus) dibenarkan secara pasti dan siapa yang tidak membenarkannya secara pasti maka dia kafir. Sekali lagi kita bertanya: bagaimana mungkin kita bisa mewajibkan manusia untuk membenarkan secara pasti terhadap apa yang datang dari hadits ahad -sedang hadits ahad sendiri bersifat dzonniy? Dan bagaimana mungkin kita bisa mengkafirkan seseorang karena dia tidak memberi pembenaran secara pasti terhadap sesuatu yang datang dari dalil dzonniy -yang hanya mengahsilkan dugaan kuat? Wallaahu a'lamu bish showaab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahpahaman Yang Perlu Ditepis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Tidak Dijadikan Hujjah Dalam "Perkara Yang Wajib Dibenarkan Secara Pasti" (baca: aqidah) Bukan Berarti Diingkari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah uraian di atas yang panjang-lebar, kami ingin memberi klarifikasi bahwa tidak menjadikan hadits ahad dalam perkara Aqidah bukan berarti menolak atau mengingkari kandungan makna yang dibawa oleh hadits ahad. Yang benar adalah bahwa hadits ahad tetap harus dibenarkan sesuai dengan kapasitas dalil yang datang kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada sementara orang yang mengatakan "bukankah mengatakan bahwa iman tidak dibangun berdasarkan hadits ahad di satu sisi dan mengatakan hadits ahad tetap harus dibenarkan pada sisi yang lain merupakan pernyataan yang bodoh dan kontradiktif? Seperti seseorang yang mengatakan bahwa "kita harus turun" tapi pada saat bersamaan ia juga mengatakan "kita juga harus naik", apakah itu bukan mustahil namanya? Bagaimana mungkin seseorang bisa "tidak mengimani" tapi sekaligus "membenarkan"? Bagaimana mungkin hadits ahad itu "ditolak" dalam aqidah tapi pada saat yang sama dia juga dibenarkan?". Itulah perkataan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab: Sesungguhnya pernyataan ini hanya muncul pada orang-orang yang tidak mau menelaah pendapat kami dengan cermat dan sabar. Jika dia mengikuti uraian kami dengan baik tentang apa yang kami maksud dengan tasqiiqul jazm (pembenaran pasti), imaan dan aqiidah, niscaya pertanyaan seperti itu tidak akan muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali kami tegaskan bahwa yang kami maksud dengan iman adalah pembenaran yang pasti-tashdiiqul jazm, yang tidak mengandung keraguan sebutir debu pun. Tashdiiqul jazm itu bukan sembarang pembenaran, ia adalah salah satu jenis pembenaran di antara pembenaran-pembenaran yang ada. Lebih tepatnya adalah tingkat pembenaran yang paling tinggi dan sempurna. Pembenaran yang pasti hanya bisa dicapai dengan adanya dalil yang pasti (qoth'i). Kok bisa? Ya, karena bagaimana mungkin dalil yang tidak pasti akan menghasilkan pembenaran yang pasti? Jadi kesimpulannya, karena iman itu adalah tashdiiqul jazm, maka iman itu bukan sembarang pembenaran, tapi ia adalah pembenaran berdasarkan dalil yang pasti. Pembenaran yang tidak berlandaskan dalil yang bersifat pasti tidak bisa dikatakan iman. Jadi tidak mengimani artinya adalah tidak membenarkannya secara pasti, bukan tidak membenarkannya sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalil-dalil syara' yang qoth'i (wurut/tsubut) menunjukkan kebenaran sesuatu secara pasti (dalam dilalahnya), maka wajib bagi siapa saja untuk membenarkannya secara pasti (baca = mengimani). Masalah yang wajib dibenarkan secara pasti itu yang disebut sebagai masalah-masalah aqidah. Ada perlakuan khusus bagi orang yang tidak membenarkan secara pasti terhadap masalah aqidah, yakni dia akan dikatakan kafir. Jika dia sebelumnya seorang muslim, maka saat dia tidak-membenarkan-secara-pasti salah satu masalah di antara masalah-masalah yang didalili dengan dalil yang qoth'i, maka dia akan dianggap murtad. Contohnya seperti tidak membenarkan secara pasti bahwa Muhammad shollallaahu 'alaihi wa sallam adalah rasul terakhir, maka dia murtad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan hal-hal yang tidak datang dari dalil-dalil yang qoth'i, seperti hadits tsumma takuunu khilaafatan 'alaa minhaajin nubuwwah -kemudian akan ada khilafah yang tegak di atas manhaj kenabian. Hadits ini hadits ahad yang aspek tsubutnya (sumber pengambilan) dzonniy. Kita membenarkan dan tidak mengingkari isi hadits ini, yaitu bahwa besok akan ada khilafah yang berdiri di atas manhaj kenabian. Kami sering menggunakan hadits ini untuk menyemangati kaum muslimin agar mereka terlibat dalam usaha mengembalikan khilafah. Akan tetapi, karena hadits ini hadits ahad, maka kita tidak bisa membenarkannya dengan pembenaran yang pasti. Dengan demikian masalah akan adanya khilafah ini tidak bisa dimasukkan ke dalam perkara aqidah, dimana kaum muslimin tidak dituntut untuk membenarkannya secara pasti dan siapa saja yang menolaknya maka tidak kita anggap kafir. Maka, siapa saja yang meragukan akan adanya khilafah di masa datang tidak jatuh dalam kekafiran. Hanya saja, dia jatuh pada kesalahan. Yakni menolak sesuatu yang kebenarannya diduga kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasannya begini: Kami telah tegaskan pendirian kami tentang hadits ahad, bahwa ia bersifat dzonniy -dugaan kuat. Maka dia tidak bisa menghasilkan pembenaran yang pasti. Akan tetapi adalah sebuah kesalahan jika kita mengingkari apa yang dibawa oleh hadits ahad. Mengingkari apa yang telah terbukti kuat kebenarannya -walau pun tidak 100%- adalah sebuah kebodohan yang jelas. Sebab yang disebut dugaan kuat adalah kecenderungan kuat ke arah pembenaran dari pada ke arah pengingkaran. Itu artinya lebih mudah menerima dari pada menolaknya, dan lebih mudah membenarkannya dari pada mendustakannya. Lebih dari itu, sesuatu yang didasarkan pada dalil yang tidak sampai derajat pasti bukan berarti pasti ketiadaannya. Sebab dibutuhkan dalil pengingkaran yang qoth'i untuk memastikan ketiadaan sesuatu yang telah diduga kuat keberadaannya. Sebagai ilustrasi, kembalinya khilafah adalah sesuatu yang tidak pasti/qoth'i, tidak bisa dibenarkan secara jazm, dia hanya gholabatudz-dzon-kepercayaan yang kuat. Akan tetapi tidak bisa dikatakan bahwa karena informasi kembali berdirinya khilafah itu tidak qoth'i maka disimpulkan bahwa khilafah itu tidak akan pernah berdiri. Kesimpulan ini justru merupakan keyakinan yang tidak berdasarkan dalil sama sekali. Contoh lain, pertanyaan dalam kubur didasarkan pada hadits ahad, dan dia tidak qoth'i. Tapi seseorang tidak bisa sama sekali mengingkari adanya pertanyaan dalam kubur hanya dengan alasan bahwa dalil tentang pertanyaan dalam kubur itu tidak qoth'i. Ini salah. Sebab jika seseorang mempercayai pertanyaan kubur sebagai pembenaran yang kuat -meski tidak sampai jazm-, maka pembenaran itu merupakan suatu tindakan yang berdasarkan dalil dzonniy yang memang menghasilkan pembenaran yang kuat (gholabatudz-dzon). Tapi seseorang yang memastikan bahwa pertanyaan dalam kubur itu tidak ada -hanya dengan alasan dalilnya tidak qoth'i- maka orang ini justru tidak mendasarkan keyakinannya pada suatu dalil pun. Orang yang mengingkari apa yang didasarkan pada hadits ahad yang shohih tanpa dalil adalah orang yang salah dan dia berdosa karena kesalahannya itu. Kecuali jika pengingkarannya itu didasarkan pada suatu dalil yang lebih kuat (seperti hadits yang lebih shohih atau mutawatir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Masalah turunya Isa Al Masih 'alaihis salam, munculnya Dajjal, Imam Mahdi, berdirinya khilafah kembali, pertanyaan dalam kubur, dan lain-lain, adalah masalah-masalah yang didasarkan pada khobar ahad, maka kami membenarkannya sesuai kualitas dalil yang datang kepada kita. Hanya saja masalah-masalah itu tidak termasuk perkara yang wajib untuk "dibenarkan-dengan-pembenaran-yang-pasti", dimana siapa saja yang ragu atau mendustakannya tidak bisa dihukumi murtad. Mengapa demikian? Karena memang tidak ada jalan untuk membenarkannya dengan pembenaran yang pasti. Demikianlah, sekarang apakah pernyataan "kami membenarkan apa yang dibawa oleh hadits ahad, tapi kami tidak menganggapnya sebagai perkara keimanan" masih terlihat kontradiktif? wa billaahit taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tidak Menjadikan Hadits Ahad Sebagai Hujjah Dalam Aqidah Bukan Berarti Menentang Apa Yang Disabdakan Nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan, perbuatan dan taqriir Nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam adalah hujjah dalam aqidah dan amal perbuatan. Ini adalah masalah qoth'i, ma'luumun minaddiini bidhorurah -suatu hal yang jelas-jelas jelas dalam agama islam. Perkataan, perbuatan dan taqriir Nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam itulah yang diistilahkan sebagai as-sunah dalam disiplin ilmu ushul. Menolak as-sunah secara umum sebagai hujjah dalam agama, baik dalam masalah ushul mau pun furu' merupakan kekafiran. Sebab banyak ayat dalam Al Qur'an Al Kariim yang menegaskan dengan penunjukkan yang qoth'i bahwa As-sunah juga merupakan wahyu. Disamping itu, Al Qur'an juga memerintahkan kita secara tegas untuk mentaati, meneladani dan berhukum kepada Nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam -maksudnya berhukum kepada risalah yang beliau bawa. Oleh karena itu, pengakuan atas keharusan mengambil as sunah sebagai dalil dalam aqidah dan amal merupakan permasalahan i'tiqod. Menolak ini berarti keluar dari islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, umat islam wajib ber-istidlaal dengan as-sunah, baik dalam perkara aqidah mau pun amal. Taqiyuddiin An Nabhaaniy rahimahullah sudah menegaskan hal itu sebelum beliau memasuki pembahasan masalah berhujjah dengan khobar ahad (lihat bab As-sunnatu daliilun syar'iyyun ka-Al-Qur'aan dan Al Istidlaalu bi As Sunnah dalam Asy-syakhshiyyah juz I). Beliau menjelaskan masalah ini dengan cukup berikut dalil-dalilnya yang qoth'i. Alhamdulillaah perkara ini sangat jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian jika ada yang menanyakan: kenapa Taqiyuddiin An Nabhaani mengatakan bahwa hadits nabi yang mutawatir itu qoth'i, memberi faedah ilmu, harus dibenarkan secara pasti, sedang hadits nabi yang ahad itu tidak qoth'i, hanya menghasilkan dzon (pembenaran yang tidak sampai pasti), dan tidak boleh dibenarkan secara pasti? Padahal, apakah ada shahabat yang mendengar sabda nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam kemudian mengatakan: "sabda nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam yang kita dengar barusan ini qoth'i, ia harus kita benarkan secara pasti dan harus kita gunakan sebagai dalil aqidah, sedangkan sabda nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam yang kita dengar tadi pagi maka itu dzonny, tidak bisa kita gunakan sebagai hujjah untuk perkara yang menuntut kepastian (aqidah)!". Apakah ada shohabat yang membagi-bagi sabda nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam menjadi qothi-dzonniy, kemudian menolak yang dzonniy dalam aqidah seperti yang dilakukan Taqiyuddiin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya: memang benar, jika kita mendengar langsung apa yang disabdakan Nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam, maka kita harus membenarkan dengan pasti seluruh apa yang beliau sabdakan, jika itu menyangkut perkara aqidah dan hukum syara'. Sabda Nabi yang kita dengar dalam aqidah dan hukum itu merupakan wahyu dari Allah, bukan ijtihad beliau sendiri. Sehingga semuanya pasti benar, mendustakannya adalah kafir kepada kerasulan Muhammad shollallaahu 'alaihi wa sallam. Dengan begitu sabda nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam yang kita dengar secara langsung itu tidak dibagi-bagi menjadi qoth'i dan dzonniy. Tidak juga dibagi menjadi dlo'if, hasan dan shohih. Tidak pula menjadi ghorib, 'aziz, mustafidl dan mutawatir. Tidak ada yang áliy tidak ada yang nazil. Tidak ada pula yang berta'arudl (bertentangan) sehingga harus ada yang rajih (dipilih) dan yang marjuh (dikalahkan). Tidak ada yang muttashil, munqothi', mu'allaq, maupun mursal. Tidak seorang shohabat pun yang mendengar sabda Nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam secara langsung membagi-bagi sunah menjadi banyak macam seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenapa para ulama membagi-bagi hadits yang mereka dengar dari para guru mereka menjadi bermacam-macam? Kemudian mereka menolak hadits yang mereka anggap maudlu', munkar, syadz, mudlthorob, munqothi', mu'allaq, mu'allal, dan jenis-jenis hadits dlo'if yang lain? Hal itu telah kita ketahui bersama. Lantas kenapa tidak ditanyakan kepada para ulama itu: "kenapa kalian menolak sabda Nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya kita sudah tahu, bahwa mengimani sunah sebagai hujjah itu berbeda dengan mengambil as sunah dari orang yang meriwayatkannya. Para ulama tidak mendengar sunah langsung dari nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam. Mereka mendengarnya dari orang lain, yang mana orang itu juga mendengarnya dari orang lain. Maka mereka menyeleksi mana orang-orang yang pantas diterima periwayatannya dan mana yang tidak dengan metode yang ketat. Dengan begitu, mereka mengambil sebagian hadits yang mereka anggap kuat dan menolak yang dianggap lemah. Yang mereka terima pun ada yang tergolong hasan, dan ada yang shohih. Hadits shohih lebih kuat dari hadits hasan. Hadits dari keenam kitab induk lebih kuat dari hadits-hadits yang lain. Hadits shohih yang diriwayatkan bersama antara Al Bukhori dan Muslim lebih kuat dari semua hadits shohih yang bukan diriwayatkan oleh keduanya. Hadits shohih dari Al Bukhori lebih kuat dari hadits Muslim. Lebih dari itu, semua hadits ahad yang shohih tidak lebih kuat dari hadits mutawaatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, kekuatan hadits itu bertingkat-tingkat. Jika hadits ahad itu semuanya qoth'i, niscaya dia tidak bertingkat-tingkat. Dan jika dia qoth'i, niscaya dia tidak lebih lemah dari hadits mutawaatir. Mana ada sesuatu yang telah qoth'i bisa dianggap lebih lemah dari yang lain? Dan ingat, yang dianggap memiliki kelemahan bukanlah as sunah, melainkan periwayat, atau metode periwayatan. wallaahu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tidak Menjadikan Hadits Ahad Sebagai Hujjah Dalam Aqidah Bukan Berarti Menentang Orang Yang Meriwayatkannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang yang bertanya: "anda tidak menjadikan hadits ahad sebagai hujjah dalam aqidah, padahal anda ini bukan ahli hadits. Sedangkan Imam Al Bukhori yang jelas jauh lebih tahu tentang hadits dari pada anda, telah mencantumkan hadits-hadits yang tidak anda pakai dalam aqidah itu. Apakah anda merasa bahwa diri anda lebih paham dari pada Imam Al Bukhori?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jawabnya tidak. Kami tidak lebih alim dari Imam Besar itu. Tapi kami hanya mengatakan bahwa apa yang mereka riwayatkan secara ahad tidak qoth'i, tidak bisa dipastikan bahwa nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam memang mengatakan seperti apa yang beliau terima. Tapi kami juga tidak mendustakan apa yang beliau terima. Dengan metode yang beliau gunakan, hadits yang didapat maksimal menghasilkan gholabatudz-dzon, yakni kearah pembenaran yang kuat, kecuali yang mutawaatir maka dia qoth'i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berpendapat beliau tidak menyatakan bahwa apa yang beliau riwayatkan adalah 100% benar dari Nabi shollallaahu 'alaihi wa sallam. Pernyataan seperti ini telah diriwayatkan dari Imam Ahmad -menurut salah satu dari dua riwayat (lihat buku Al Qorodlowi: Sunah Nabi Sumber Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, Gema Insani Press).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, kebanyakan para pemilik kitab hadits belum melakukan istidlaal dengan hadits-hadits yang mereka riwayatkan. Mereka hanya menyajikan hadits yang mereka anggap shohih dengan apa adanya tanpa syarah dan tanpa menunjukkan aspek pendalilannya. Mereka belum berhujjah dengan hadits-hadits itu untuk menunjukkan sikap mereka dalam masalah aqidah maupun hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, kami tidak berpendapat bahwa meriwayatkan hadits ahad yang mengandung aspek aqidah itu tidak boleh (yang biasanya berupa khobar ghoib). Boleh-boleh saja meriwayatkan hadits tentang Dajjal, Imam Mahdi, atau turunya Isa 'alaihis salam. Yang tidak bisa dilakukan adalah menjadikan masalah Dajjal ini sebagai bagian dari masalah yang harus dibenarkan secara pasti, sehingga menganggap kafir siapa saja yang meragukannya. Padahal, dalilnya hadits ahad, yang hanya bisa dibenarkan dengan pembenaran yang kuat tapi tidak sampai pasti. Tapi juga tidak boleh mengingkarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, jika hadits ahad yang mengandung masalah aqidah itu tidak boleh diriwayatkan, maka tidak akan pernah ada hadits aqidah yang mutawaatir, seperti tentang adanya syafaat. Sebab hadits mutawaatir pada hakekatnya tersusun dari hadits ahad, yang diriwayatkan dari orang ke orang. Hanya saja riwayat-riwayat yang masing-masing ahad itu jumlahnya banyak sehingga tidak mungkin perowinya sepakat berbohong atau jatuh pada kesalahan yang sama. Wallaahu Al muwaffiq ilaa aqwamith thoriiq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shollallaahu 'alaa sayyidinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa ash-haabihi wa sallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;walhamdulillaahi Rabbil 'aalamiin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja, 1 Maret 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titok Priastomo&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3493988676080638915-212784962928522726?l=hilyathasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hilyathasan.blogspot.com/feeds/212784962928522726/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3493988676080638915&amp;postID=212784962928522726&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/212784962928522726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/212784962928522726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hilyathasan.blogspot.com/2011/04/khobar-ahad-dalam-aqidah.html' title='Khobar Ahad Dalam Aqidah'/><author><name>Hilyat Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04153284808943762507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/SoiPx06Vm7I/AAAAAAAAADU/BEKY3rsSXO8/S220/Image0112.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3493988676080638915.post-8139738194053141806</id><published>2011-03-15T13:14:00.000+07:00</published><updated>2011-03-15T13:14:37.720+07:00</updated><title type='text'>Islam for Hope and Life: ~Demonstrasi dalam pandangan Islam~</title><content type='html'>&lt;a href="http://hilyathasan.blogspot.com/2010/07/demonstrasi-dalam-pandangan-islam.html"&gt;Islam for Hope and Life: ~Demonstrasi dalam pandangan Islam~&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3493988676080638915-8139738194053141806?l=hilyathasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://hilyathasan.blogspot.com/2010/07/demonstrasi-dalam-pandangan-islam.html' title='Islam for Hope and Life: ~Demonstrasi dalam pandangan Islam~'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hilyathasan.blogspot.com/feeds/8139738194053141806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3493988676080638915&amp;postID=8139738194053141806&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/8139738194053141806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/8139738194053141806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hilyathasan.blogspot.com/2011/03/islam-for-hope-and-life-demonstrasi.html' title='Islam for Hope and Life: ~Demonstrasi dalam pandangan Islam~'/><author><name>Hilyat Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04153284808943762507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/SoiPx06Vm7I/AAAAAAAAADU/BEKY3rsSXO8/S220/Image0112.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3493988676080638915.post-8088209909415093563</id><published>2011-01-30T15:18:00.000+07:00</published><updated>2011-01-30T15:18:51.281+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Shahabat-Shahabiyah'/><title type='text'>BELAJAR PSIKOLOGI WANITA DARI UMMI KHADIJAH RADHIALLAHU ANHA: POTRET SEORANG MUSLIMAH SEJATI</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="clearfix"&gt;&lt;div class="mbs mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;by &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1406577036"&gt;Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi&lt;/a&gt; on Wednesday, March 31, 2010 at 10:50pm&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;Oleh Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi, Konselor Muslim&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Psikologi Wanita adalah keteladanan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konten psikologi Islami, semangat dari psikologi wanita adalah keteladanan. Cara ini dengan mudah untuk dipahami, karena kita dapat melihat realitas yang ada dari tokoh muslimah yang memberikan contoh berakhlak yang baik sebagai wanita. Dalam kesempatan ini, penulis coba akan mengangkat Ummi Khadijah binti Khuwailid RA sebagai jalan menemukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;img class="img" src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs471.ash1/25861_1400939309291_1406577036_1067402_6855543_a.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Istri nabi Muhammad yang pertama ini diangkat semata-mata telah memberikan tafsiran ulang mengenai arti seorang wanita bagi kita semua. Wanita yang tersudutkan terhadap definisi kecantikan dan muda secara empirik, namun terlempar dari fakta keteladanan bagi dinamika kehidupan. Ummi Khadijah bagai dahaga bagi kaum muslim, karena walaupun secara umur jauh diatas Nabi Muhammad dan dapat dibilang sedang melewati masa tua, namun api jiwa enerjiknya terus menyala walau telah dihantam berbagai ujian. Ini penting bagi kita yang justru menaruh makna masa tua sebagai menurunnya aktivitas dan spirit.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Asam Garam seorang Istri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah seorang sayyidah wanita sedunia pada zamannya. Dia adalah putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Dijuluki ath-Thahirah yakni yang bersih dan suci. Sayyidah Quraisy ini dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat kira-kira 15 tahun sebelum tahun fill (tahun gajah). Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya berkembang menjadi wanita cerdas dan agung. Ummi Khadijah RA juga dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena itulah, tak heran banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya. Tidak hanya berhenti pada fase mengagumi, tapi juga menikahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, pada mulanya beliau dinikahi oleh Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi dan membuahkan dua orang anak yang kemudian diberi nama Halah dan Hindun. Tatkala Abu Halah wafat, Ummi Khadijah kemudian dinikahi oleh Atiq bin 'A'id bin Abdullah al-Makhzumi hingga beberapa waktu lamanya namun akhirnya mereka cerai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu babak abru dijalani. Banyak dari para pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan beliau, tetapi Ummi Khadijah RA lebih memprioritaskan perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya. Pun saat itu Ummi Khadijah berada pada basis waktu yang sibuk mengurusi perniagaan dimana beliau melambung menajdi wanita kaya raya berkat kesuksesan bisnisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu ketika, beliau hendak mencari orang yang dapat menjual dagangannya, maka tatkala beliau mendengar tentang Muhammad sebelum bi'tsah (diangkat menjadi Nabi), yang memiliki sifat jujur, amanah dan berakhlak mulia, maka beliau meminta kepada Muhammad untuk menjualkan dagangannya bersama seorang pembantunya yang bernama Maisarah. Akhirnya, beliau memberikan barang dagangan kepada Muhammad melebihi dari apa yang dibawa oleh selainnya. Sejak itu Muhammad memasuk fase baru dalam karir niaga pada konteks Arab waktu itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad al-Amin pun menyetujuinya dan berangkatlah beliau bersama Maisarah, dan Allah menjadikan perdagangannya tersebut menghasilkan laba yang begitu melimpah. Sontak Ummi Khadijah merasa gembira dengan hasil yang banyak tersebut karena usaha dari Muhammad. Akan tetapi disamping itu semua, pada kenyataannya ketakjuban Ummi Khadijah RA terhadap kepribadian Muhammad lebih besar dan lebih mendalam dari sekedar kumpulan harta yang ada. Maka mulailah muncul perasaan dan biduk aneh yang berbaur dibenaknya, yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Dalam pandangan Ummi Khadijah, pemuda ini yang tak lain Muhammad, tidak sebagamana kebanyakan laki-laki lain yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kepercayaan Diri seorang Wanita&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali Ummi Khadijah merasa pesimis; apa mungkin pemuda tersebut mau menikahinya? Mengingat umurnya sudah renta, bayangkan 40 tahun? Apa kata orang-orang nantinya karena Ummi Khadijah sendiri telah menutup pintu bagi para pemuka Quraisy yang sebelumnya telah gigih melamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka disaat Beliau bingung dan gelisah karena problem yang menggelayuti pikirannya itu, tiba-tiba muncullah seorang temannya bernama Nafisah binti Munabbih. Selanjutnya dia ikut duduk dan berdialog hingga kecerdikan Nafisah mampu menyibak rahasia yang disembuyikan oleh Khodijah tentang problem yang dihadapi dalam kehidupannya. Nafisah layaknya konselor mencoba membesarkan hati Ummi Khadijah RA dan menenangkan perasaannya dengan mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki martabat, keturunan orang terhormat, memiliki harta dan berparas cantik. Terbukti dengan banyaknya para pemuka Quraisy yang melamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, tatkala Nafisah keluar dari rumah Khadijah, dia langsung menemui Muhammad al-Amin hingga terjadilah dialog yang menunjukan kelihaian dan kecerdikannya seorang Nafisah melempar dadu cinta Ummi kepada lelaki terpercaya itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafisah : Apakah yang menghalangimu untuk menikah wahai Muhammad?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad : Aku tidak memiliki apa-apa untuk menikah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafisah : (Dengan tersenyum berkata) Jika aku pilihkan untukmu seorang wanita yang kaya raya, cantik dan berkecukupan, maka apakah kamu mau menerimanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad : Siapa dia ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafisah : (Dengan cepat dia menjawab) Dia adalah Khadijah binti Khuwailid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad : Jika dia setuju maka akupun setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafisah pergi menemui Khadijah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut, sedangkan Muhammad al-Amin memberitahukan kepada paman-paman beliau tentang keinginannya untuk menikahi sayyidah Khadijah. Kemudian berangkatlah Abu Tholib, Hamzah dan yang lain menemui paman Khadijah yang bernama Amru bin Asad untuk melamar Khadijah bagi putra saudaranya, dan selanjutnya menyerahkan mahar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jadilah Sayyidah Quraisy sebagai istri dari Muhammad al-Amin dan jadilah dirinya sebagai contoh yang paling utama dan paling baik dalam hal mencintai suami dan mengutamakan kepentingan suami dari pada kepentingan sendiri. Manakala Muhammad mengharapkan Zaid bin Haritsah, maka dihadiahkanlah oleh Khadijah kepada Muhammad. Demikian juga tatkala Muhammad ingin mengembil salah seorang dari putra pamannya, Abu Tholib, maka Khadijah menyediakan suatu ruangan bagi Ali bin Abi Tholib radhiallâhu 'anhu agar dia dapat mencontoh akhlak suaminya, Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinlah letak keberanian dan bentuk PD seorang wanita yang tidak harus dipusingkan dengan kecantikkan dan melulu ingin merasa muda secara fisik. Karena bagi Ummi segalanya adalah kedewasaan hati dan keikhlasan atas potensi diri yang membuatnya yakin bahwa Muhammad adalah pilihan terbaik dan mau meminangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sebuah Komitmen Teguh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Sternberg memberi sinyal komitmen adalah bagian inti dari cinta sejati, namun tak ada orang selain Khadijah yang memberikan komitmen melebihi garis yang didefinisikan Sternberg. Suatu ketika Allah Ta'ala menjadikan Muhammad al-Amin ash-Shiddiq menyukai Khalwat (menyendiri), bahkan tiada suatu aktifitas yang lebih ia sukai dari pada menyendiri. Beliau menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah di Gua Hira' sebulan penuh pada setiap tahunnya. Beliau tinggal didalamnya beberapa malam dengan bekal yang sedikit jauh dari perbuatan sia-sia yang dilakukan oleh orang-orang Makkah yakni menyembah berhala dan lain –lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyidah ath-Thahirah tidak merasa tertekan dengan tindakan Sang Suami yang terkadang harus berpisah jauh darinya, tidak pula beliau mengusir kegalauannya dengan banyak pertanyaan maupun mengobrol yang tidak berguna, bahkan beliau mencurahkan segala kemampuannya untuk membantu suaminya dengan cara menjaga dan menyelesaikan tugas yang harus dia kerjakan dirumah. Apabila dia melihat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pergi ke gua, kedua matanya senantiasa mengikuti suaminya terkasih dari jauh. Bahkan dia juga menyuruh orang-orang untuk menjaga beliau tanpa mengganggu suaminya yang sedang menyendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasullullah mulai mendekam di Gua Hira dan mendapatkan wahyu yang membuat Rasululah ketakutan dengan minta untuk diselimutkan. Maka Istri yang dicintainya dan yang cerdas itu menghiburnya dengan percaya diri dan penuh keyakinan, berkatalah ia: "Allah akan menjaga kita wahai Abu Qasim, bergembiralah wahai putra pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, sugguh aku berharap agar anda menjadi Nabi bagi umat ini. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya, sesungguhnya anda telah menyambung silaturahmi, memikul beban orang yang memerlukan, memuliakan tamu dan menolong para pelaku kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menjadi tentramlah hati Nabi berkat dukungan ini dan kembalilah ketenangan beliau karena pembenaran dari istrinya dan keimanannya terhadap apa yang beliau bawa. Sebagai istri, Ummi Khadijah tahu betul psikologis Rasulullah SAW dan apa yang diinginkan sang suami jika mendalami situasi mencekam yaitu sifat menghibur dan memberi situasi nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummi Khadijah akhirnya merubah mindset bagi kita, jika istri tidak lantas menjadi redup jika sang suami mengalami kesulitan. Akan tetapi, situasinya harus melengkapi danUmmi Khadijah melalukan itu dengan terkesan menjadi “suami” bukan istri dalam definisi sempit. Inilah sebuah pencerdasan paradigma perempuan untuk bersama-sama kontrukstif dalam bingkai rumah tangga. Tidiak lantas surut ketika situasi sang suami ditimpa musibah. Karena suami bukanlah segala-galanya, ia juga makhluk lemah, bisa sakit, dan sewaktu-waktu bisa meninggalkan kita semua. Sudah siapkah para perempuan? Belajarlah dari Ummi Khadijah RA.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3493988676080638915-8088209909415093563?l=hilyathasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/hilyatbundaaysyahumayro#!/note.php?note_id=382160534647&amp;id=1406577036' title='BELAJAR PSIKOLOGI WANITA DARI UMMI KHADIJAH RADHIALLAHU ANHA: POTRET SEORANG MUSLIMAH SEJATI'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hilyathasan.blogspot.com/feeds/8088209909415093563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3493988676080638915&amp;postID=8088209909415093563&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/8088209909415093563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/8088209909415093563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hilyathasan.blogspot.com/2011/01/belajar-psikologi-wanita-dari-ummi.html' title='BELAJAR PSIKOLOGI WANITA DARI UMMI KHADIJAH RADHIALLAHU ANHA: POTRET SEORANG MUSLIMAH SEJATI'/><author><name>Hilyat Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04153284808943762507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/SoiPx06Vm7I/AAAAAAAAADU/BEKY3rsSXO8/S220/Image0112.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3493988676080638915.post-343085511026400563</id><published>2010-12-17T09:19:00.001+07:00</published><updated>2010-12-17T09:19:25.565+07:00</updated><title type='text'>KHILAFAH MENURUT AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;h2 class="uiHeaderTitle"&gt;KHILAFAH MENURUT AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH &lt;/h2&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Telaah kitab kali ini akan mengupas kitab berharga tentang Khilafah. Judulnya &lt;em&gt;Al-Imamah al-‘Uzhma ‘Inda Ahl As-Sunnah wa&amp;nbsp; al-Jama’ah&lt;/em&gt;,  karya Abdullah bin Umar Sulaiman Ad-Dumaiji (terbit 1987). Kitab  setebal 718 halaman ini ditulis Ad-Dumaiji sebagai tesis untuk meraih  gelas magister di Universitas Ummul Quro Mekah tahun 1983. Setelah  diadakan ujian (&lt;em&gt;munaqasyah&lt;/em&gt;) oleh Dewan Penguji, Ad-Dumaiji pun&amp;nbsp; dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude (&lt;em&gt;mumtaz&lt;/em&gt;). Di antara Dewan Penguji itu adalah Syaikh Sayyid Sabiq, seorang ulama yang terkenal dengan kitabnya &lt;em&gt;Fiqih Sunnah.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi  para pejuang Khilafah, dan juga umat pada umumnya, kitab ini sangatlah  penting. Karena di samping memberikan wawasan ilmiah yang luas mengenai  Khilafah, juga akan semakin menambah keyakinan dan kemantapan dalam  berjuang. Betapa tidak, karena kitab ini membuktikan Khilafah adalah  sangat penting bagi tegaknya Islam dalam kehidupan. Khilafah juga mutlak  adanya untuk mengembalikan kemulian umat. Dalam salah satu butir  kesimpulannya, Ad-Dumaiji mengatakan,”Tidak ada kemuliaan dan ketinggian  derajat bagi umat Islam, kecuali dengan kembali berhukum kepada  Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, serta berjuang menegakkan Khilafah  Islamiyah yang akan menjaga agama Islam dan mengembalikan kemuliaan dan  kehormatan umat Islam.” (hal. 516-517)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Garis Besar dan Latar Belakang Kitab&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab  ini secara garis besar ingin membahas isu-isu terpenting dalam  Khilafah, seperti definisi Khilafah dan wajibnya Khilafah, walaupun  tidak semua aspek dalam Khilafah terbahas, misalnya lembaga-lembaga  negara dalam Khilafah secara lengkap. Ad-Dumaiji membagi kitabnya dalam  sebuah mukaddimah, dua bab isi, dan sebuah bab kesimpulan. Dua bab isi  itu, yang pertama, mengenai Imamah (Khilafah) menurut Ahlus Sunnah. Yang  kedua, mengenai Imam (Khalifah) menurut Ahlus Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab  yang pertama dirinci lagi menjadi empat sub-bab, yaitu : (1) definisi  Imamah, (2) wajibnya Imamah dan dalil-dalilnya, (3) tujuan-tujuan  Imamah, dan (4) metode pengangkatan Imam. Bab yang kedua juga dirinci  lagi, menjadi empat sub-bab, yaitu : (1) syarat-syarat Imam, (2) hak dan  kewajiban Imam, (3) pemberhentian Imam, (4) berbilangnya Imam. Bab  kesimpulan berisikan 26 butir-butir kesimpulan dari keseluruhan uraian  kitab yang panjang lagi lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum dilanjutkan, perlu  klarifikasi dulu mengenai istilah Khilafah dan Imamah. Kedua istilah ini  sebenarnya sama saja maknanya alias sinonim. Dalam kitabnya &lt;em&gt;Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu &lt;/em&gt;Juz  9 hal. 881, Wahbah Az-Zuhaili berkata, “Patut diperhatikan, bahwa  Khilafah, Imamah Kubra, dan Imaratul Mu`minin merupakan istilah-istilah  yang sinonim (mutaradif) dengan makna yang sama.”&amp;nbsp; Jadi, Imamah sama  dengan Khilafah, dan Imam sama dengan Khalifah. Ad-Dumaiji sendiri dalam  kitabnya hal. 34 juga mengutip pendapat senada dari Muhammad Najib  Al-Muthi’i. Dalam &lt;em&gt;takmilah&lt;/em&gt; (catatan pelengkap) yang dibuatnya untuk kitab &lt;em&gt;Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab &lt;/em&gt;karya Imam Nawawi (Juz 17/517), Al-Muthi’i berkata,”Khilafah, Imamah, dan Imaratul Mu`minin adalah sinonim.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu  apa latar belakang Ad-Dumaiji menulis kitabnya ini? Ad-Dumaiji  menerangkan dalam Mukadimah (hal. 7-10), bahwa yang mendorongnya adalah  adanya upaya-upaya jahat berupa &lt;em&gt;tasywih&lt;/em&gt; (pencitra-burukan) dan &lt;em&gt;tadnis&lt;/em&gt;  (pencemaran) terhadap ajaran Khilafah yang telah ada sejak masa awal  Islam hingga masa modern kini. Ad-Dumaiji memberikan beberapa contohnya  (hal. 8-9). Misalnya pendapat Abdul Hamid Mutawalli dalam &lt;em&gt;Mabadi` Nizham Al-Hukm&lt;/em&gt;  hal. 162, yang menyatakan bahwa berdirinya Khilafah seperti yang  digambarkan para fukaha, adalah mustahil untuk masa sekarang. Contoh  lain adalah pendapat Syaikh al-Maraghi (penulis &lt;em&gt;Tafsir Al-Maraghi&lt;/em&gt;)  yang berkata,”Dimungkinkan sebuah pemerintahan Islam keluar dari agama  Islam lalu menjadi sebuah pemerintahan sekuler. Tidak ada larangan untuk  itu…seperti halnya negara Turki yang baru.”&amp;nbsp; (Musthofa Shabri, &lt;em&gt;Mauqif Al-‘Aql wa Al-‘Ilm wa Ad-Din&lt;/em&gt;, Juz 4/285).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar  belakang inilah yang membuat Ad-Dumaiji sangat prihatin dan sekaligus  menentukan tujuan penulisan tesisnya. Ad-Dumaiji menyatakan bahwa  kitabnya bertujuan untuk membersihkan konsep Imamah dari segala macam  debu dan kotoran yang menempel sehingga konsep Imamah menjadi jelas bagi  siapa saja yang hendak mencari kebenaran (&lt;em&gt;thalibul haq&lt;/em&gt;) (hal. 10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Beberapa Keunggulan Kitab&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap  kitab punya keterbatasan dan keunggulan. Oleh Ad-Dumaiji sendiri,  diakuinya bahwa kitabnya tidaklah membahas Khilafah secara komprehensif,  sebagaimana tujuan awalnya (hal. 10-11). Setelah mengumpulkan sekitar  260 referensi dan menelitinya selama dua tahun, Ad-Dumaiji, akhirnya  “menyerah” dan membatasi cakupan pembahasannya. Ad-Dumaiji akhirnya  hanya menulis dua bab untuk delapan sub-bab sebagaimana sudah diuraikan  di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu Ad-Dumaiji “hanya” menulis sebanyak 718  halaman, yang sebenarnya itu pun sudah lumayan tebal. Bandingkan dengan  kitab-kitab fiqih siyasah sejenis, semisal kitab &lt;em&gt;Muqaddimah fi Fiqh An-Nizham As-Siyasi Al-Islami&lt;/em&gt; karya Muhammad Syakir Asy-Syarif&amp;nbsp; (61 halaman). Atau kitab &lt;em&gt;An-Nizham As-Siyasi fi Al-Islam&lt;/em&gt; karya Dr. Mazin bin Shalah Mathbaqani (63 halaman). Juga kitab &lt;em&gt;Hablul I’tisham fi Wujub Al-Khilafah fi Din Al-Islam&lt;/em&gt; karya Sayyid Muhammad Habib al-Mushili (139 halaman). Atau kitab &lt;em&gt;Fiqh Al-Ahkam As-Sulthoniyah&lt;/em&gt; karya Abdul Karim Muhammad Muthi' Al-Hamdawi (363 halaman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun  demikian, bagaimana pun juga, di balik keterbatasan cakupannya, kitab  Ad-Dumaiji ini patut mendapat pujian. Selain ditulis dengan penuh  kesungguhan dan kecermatan, kitab ini juga mempunyai beberapa  keunggulan. Di antaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Kesadaran Akan Situasi Kontemporer&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Ad-Dumaiji  menunjukkan kesadaran yang tinggi akan situasi kontemporer umat Islam,  khususnya setelah hancurnya Khilafah di Turki tahun 1924. Ad-Dumaiji  misalnya berkata dengan tajam,”Ketika ‘orang sakit’ (Daulah Utsmaniyah)  ini mati, anjing-anjing dunia (&lt;em&gt;kilaab al-dunya&lt;/em&gt;) membagi-bagi harta warisannya, dan tertancaplah perpecahan dan permusuhan di antara putera kaum muslimin. Loyalitas (&lt;em&gt;wala`&lt;/em&gt;)  pun lalu diberikan kepada tanah air, nenek moyang, atau suku, sebagai  ganti dari loyalitas dan kecintaan kepada Allah dan karena Allah.” (hal.  7-8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya mempunyai kesadaran politik, Ad-Dumaiji  juga mempunyai wawasan pemikiran politik modern yang memadai. Karenanya  dia dapat menilai bahwa,”Sistem pemerintahan dalam Islam berbeda dengan  seluruh sistem-sistem&amp;nbsp; pemerintahan buatan manusia, baik yang dahulu  maupun sekarang. Perbedaan di antaranya terdapat dalam tujuan, sarana,  dan target…” (hal. 575) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bagaikan bumi dan langit,  kalau kita bandingkan kesadaran itu dengan kesadaran sebagian ulama  negeri ini yang terpengaruh oleh sistem demokrasi yang ada.&amp;nbsp; Mereka  gagal memahami perbedaan mendasar antara sistem Khilafah dengan sistem  demokrasi yang kufur. Sebagai contoh, ada ulama yang menganggap bahwa  lembaga demokrasi sekarang (DPR dan MPR) adalah sepadan dengan &lt;em&gt;Ahlul Halli wal Aqdi &lt;/em&gt;sebagaimana uraian oleh Imam Mawardi dalam &lt;em&gt;Al-Ahkam As-Sulthoniyah&lt;/em&gt;.  Padahal Imam Mawardi bicara dalam konteks sistem Imamah (Khilafah),  yang berprinsip kedaulatan di tangan syariah. Bukan dalam sistem  demokrasi-sekular, yang berprinsip kedaulatan di tangan rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Metode Penulisan Yang Adil&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ad-Dumaiji  dalam kitabnya sering kali harus membahas dan menilai berbagai  pendapat, baik pendapat yang memang khilafiyah maupun pendapat asing  yang lahir dari ideologi kapitalisme-sekular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  menghadapi masalah khilafiyah, Ad-Dumaiji senantiasa memaparkan hujjah  (dalil) masing-masing pendapat, lalu melakukan tarjih untuk memilih  pendapat yang terkuat. Jadi tidak sepihak langsung menyatakan pendapat  yang dipilih. Sebagai contoh, ada khilafiyah mengenai hukum wajibnya  Khilafah, apakah wajibnya itu berdasarkan syara’ (pendapat Ahlus Sunnah)  atau berdasarkan akal (pendapat Mu’tazilah). Ad-Dumaiji pun memaparkan  dalil masing-masing lalu mentarjih yang terkuat, yaitu wajibnya Khilafah  itu adalah berdasarkan syara’ bukan akal (hal. 65-71).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  menghadapi pendapat asing pun Ad-Dumaiji juga bersikap adil. Terhadap  sebagian intelektual yang menolak wajibnya Khilafah, seperti Ali Abdur  Raziq (dalam kitabnya &lt;em&gt;Al-Islam wa Ushul al-Hukm&lt;/em&gt;), Abdul Hamid Mutawalli (dalam kitabnya &lt;em&gt;Mabadi` Nizham Al-Hukm fi Al-Islam&lt;/em&gt;), dan Khalid Muhammad Khalid (dalam kitabnya &lt;em&gt;Min Huna Nabda`&lt;/em&gt;),  Ad-Dumaiji tetap berusaha menelusuri dan menampilkan hujjah mereka,  lalu membantahnya dengan telak. Yang menarik, Ad-Dumaiji juga secara  jujur menyebutkan “pertobatan intelektual” di antara penentang Khilafah  itu. Tentang Khalid Muhammad Khalid, Ad-Dumaiji menulis secara objektif  bahwa semula Khalid menolak wajibnya Khilafah. Lalu Khalid "bertobat"  dan menarik pendapatnya serta menulis sebuah kitab &lt;em&gt;Ad-Daulah fi al-Islam&lt;/em&gt; untuk menasakh kitab sebelumnya yakni &lt;em&gt;Min Huna Nabda` &lt;/em&gt;(hal. 74-75). Cara penulisan yang adil dan objektif dari Ad-Dumaiji ini memang patut diteladani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Memperluas Wawasan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun  yang membaca buku Ad-Dumaiji ini, akan memperoleh tambahan wawasan ilmu  keislaman khususnya fiqih siyasah yang tidak sedikit. Maklum saja,  karena karya Ad-Dumaiji ini disajikan sebagai hasil olahan dari 260  kitab rujukan. Dan sebagaimana lazimnya penulisan ilmiah, kitab  Ad-Dumaiji ini penuh dengan catatan kaki yang memudahkan pembacanya  memeriksa dan meneliti rujukan aslinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, ketika membicarakan dalil-dalil wajibnya Khilafah, Ad-Dumaiji ternyata menemukan enam macam dalil. &lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalil pertama&lt;/strong&gt;,  Al-Qur`an : yaitu QS An-Nisaa` : 59, QS Al-Ma`idah : 48-49, QS Al Hadid  : 25, dan ayat-ayat hudud qishash, zakat, dan lain-lain yang  pelaksanaannya dibebankan kepada khalifah. &lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalil kedua&lt;/strong&gt;, As-Sunnah, baik sunnah qauliyah maupun sunnah fi’liyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalil ketiga&lt;/strong&gt;, Ijma’ Shahabat setelah wafatnya Rasul dan menjelang wafatnya Umar. &lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalil keempat&lt;/strong&gt;, kaidah syar’iyah berbunyi &lt;em&gt;maa laa yatimmul waajibu illa bihi fahuwa waajib &lt;/em&gt;(suatu  kewajiban yang tidak terlaksana kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu  itu wajib juga hukumnya). Menegakkan syariah secara total (sebagai suatu  kewajiban) tidak mungkin terwujud kecuali dengan adanya Khilafah, maka  Khilafah wajib hukumnya. &lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalil kelima&lt;/strong&gt;, kaidah dharar, yaitu hadits &lt;em&gt;laa dharara wa laa dhiraara &lt;/em&gt;(tidak  boleh menimbulkan kemudharatan pada diri sendiri maupun orang lain).  Bahwa tanpa Khilafah, umat berada dalam kemudharatan, maka Khilafah  wajib ada untuk menghilangkan kemudharatan. &lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalil keenam&lt;/strong&gt;, bahwa khilafah termasuk perkara yang dituntut oleh fitrah dan adat manusia (Lihat Ad-Dumaiji, &lt;em&gt;al-Imamah Al-‘Uzhma&lt;/em&gt;, hal. 49-64).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh,  penjelasan hampir 20 halaman untuk dalil-dalil wajibnya Khilafah ini  sudah barang tentu akan memperluas cakrawala wawasan keilmuan muslim.  Kita patut berterima kasih kepada penulisnya. Syukron ya Al-Akh  Ad-Dumaiji...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Maka akan terasa aneh bin ajaib,  kalau ada yang mengatakan, ”Khilafah tidak ada dalilnya (nash) dari  al-Qur`an dan Hadits. Khilafah hanya ijtihad para shahabat dan ulama.”  Sesungguhnya akan lebih sopan dan akan bisa dimaklumi kalau mereka  mengatakan,”Kami belum menemukan dalil wajibnya Khilafah.”&amp;nbsp; Tapi kalau  mengklaim Khilafah tidak ada dalilnya, sungguh ini adalah suatu  kesombongan yang besar sekaligus pembodohan yang keji kepada umat Islam.  Allah Azza wa Jalla akan meminta pertanggungjawaban atas perkataan  batil itu di Hari Kiamat nanti. [&amp;nbsp; KH. &lt;strong&gt;&lt;strong&gt;M. Shiddiq al-Jawi&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;] &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.khilafah1924.org/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=471&amp;amp;Itemid=47" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://www.khilafah1924.org/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=471&amp;amp;Itemid=47&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Raih amal shalih, sebarkan informasi ini&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;(Klik share/bagikan/kongsi)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Silahkan beri komentar.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;REFERENSI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Al-Hamdawi, Abdul Karim Muhammad Muthi', Fiqih Al-Ahkam Al-Sulthaniyah, (&lt;a href="http://www.saaid.net/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;www.saaid.net&lt;/a&gt;)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Al-Mushili,  Sayyid Muhammad Habib Al-Ubaidi, Hablul I’tisham fi Wujub Al-Khilafah  fi Din Al-Islam, (Al-Mushili : Tanpa Penerbit), 2003&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Asy-Syarif, Muhammad bin Syakir, Muqaddimah fi Fiqh An-Nizham As-Siyasi Al-Islami, (&lt;a href="http://www.saaid.net/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;www.saaid.net&lt;/a&gt;)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Az-Zuhaili, Wahbah, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Juz 9 (Al-Istidrak), (Damaskus : Darul Fikr), 1996&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mathbaqaniy, Mazin bin Shalah, An-Nizham As-Siyasi fi Al-Islam, (&lt;a href="http://www.saaid.net/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;www.saaid.net&lt;/a&gt;)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;img class="img" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs692.snc4/63203_469811245657_175817530657_6232570_1527884_n.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3493988676080638915-343085511026400563?l=hilyathasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hilyathasan.blogspot.com/feeds/343085511026400563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3493988676080638915&amp;postID=343085511026400563&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/343085511026400563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/343085511026400563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hilyathasan.blogspot.com/2010/12/khilafah-menurut-ahlus-sunnah-wal.html' title='KHILAFAH MENURUT AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH'/><author><name>Hilyat Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04153284808943762507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/SoiPx06Vm7I/AAAAAAAAADU/BEKY3rsSXO8/S220/Image0112.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3493988676080638915.post-2823665246848436897</id><published>2010-12-12T17:45:00.002+07:00</published><updated>2010-12-12T18:00:24.311+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>15 Hal yang Hilang Akibat Ketiadaan Khilafah</title><content type='html'>Syaikh Issam Amirah, Imam Masjid Al Aqsha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/TQSrFft220I/AAAAAAAAAOk/fvsLsINs18Y/s1600/syaikh+issam+ameera.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/TQSrFft220I/AAAAAAAAAOk/fvsLsINs18Y/s320/syaikh+issam+ameera.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dengan nama Allah SWT. Semoga shalawat dan salam tercurah pada  Rasulullah saw., keluarga dan kepada para sahabatnya. Saya bersaksi  bahwa tiada yang layak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah  utusan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hadirin yang saya hormati,&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Dan  Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di muka  bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka  orang-orang yang mewarisi (bumi). Dan akan Kami teguhkan kedudukan  mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Hamaan  beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu.” &lt;/em&gt;(TQS. Al Qashash, 5-6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Saudara-saudara sekalian,&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa  menggembirakan seperti itu yang akan datang pada Anda dari Bait-ul  Maqdis, tempat yang telah ditunggu untuk dibebaskan Islam setelah sekian  lama. Tempat ini juga di mana akan segera dikuasai Khilafah, Insya  Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Saudara-saudara sekalian, &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menemukan dalam Al Quran,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kemudian  berteriaklah seseorang yang menyerukan, ’Hai Kafilah, sesungguhnya Kamu  adalah orang-orang yang mencuri. Mereka menjawab sambil menghadap  kepada penyeru-penyeru itu, ’ Barang apa yang hilang daripada Kamu ?’  Penyeru-penyeru itu berkata, ‘Kami kehilangan piala raja dan siapa yang  dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban  unta dan akan menjamin terhadapnya.’”&lt;/em&gt; (TQS.Yusuf : 70-72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Saudara-saudara sekalian,&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah  menjadi hal yang umum jika seseorang kehilangan sesuatu, ia tidak akan  ragu memberitahukan semua hal yang berkaitan dengan sesuatu yang hilang  itu. Jadi kami perlu berteriak hari ini di depan semua penguasa dunia  Islam sambil berkata,” Hai Raja, Presiden, Amir dan Sultan ! Kamu  pencuri !” dengan tanpa ragu-ragu. Jika mereka bertanya pada apa yang  hilang ? Kita akan menjawab dengan jelas dan yakin bahwa sejak mereka  mengambil kekuasaan umat Islam dengan mengikuti leluhurnya yang telah  berkonspirasi dengan Inggris dan terakhir AS. Kita kehilangan sesuatu  yang sangat berharga. Merasa kehilangan sejak runtuhnya Turki Utsmani  sekitar delapan puluh tahun yang lalu. Kita merasa kehilangan ayang amat  sangat dan di luar yang kita bayangkan. Kami percaya bahwa itu akan  berguna bagi kaum muslim agar mengetahui dirinya telah kehilangan  sehingga akan mendorong dirinya untuk secara langsung berusaha dengan  orang-orang yang bersungguh-sungguh mengembalikan khilafah dan memulai  jalan hidup Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menghitung ada 15 hal penting yang  hilang dalam umat Islam akibat mereka menyerahkan dirinya pada rejim  kufur dan berhenti berhukum dengan syariat Islam. Kehilangan itu adalah :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Keridhaan  Allah SWT. Keridhaan Allah SWT dapat dicapai dengan mengikuti seluruh  hukum dan aturan-Nya dengan penuh ketaatan sebagaimana dipraktikan oleh  nabi kita Muhammad saw. Dengan kata lain menegakkan negara Islam yang  merujuk pada syariat baik urusan di dalam maupun luar negeri pada setiap  aspek kehidupan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hilangnya Imam atau Khalifah atau Amirul  Mukminin, di mana bai’at kepadanya merupakan suatu yang amat vital bagi  setiap muslim. Rasulullah saw bersabda, ” Barangsiapa yang mati  sedangkan di pundaknya tidak ada bai’at maka matinya jahiliyah.” Saya  ingin Anda membayangkan bagaimana berdosanya kaum muslim sejak runtuhnya  Khilafah Ustmani tahun 1924 yang merupakan khilafah terakhir . Akhirnya  secara spontan banyak yang hilang ketika kaum muslim kehilangan  legitimasi kepemimpinan ini dan kehilangan lainnya menyusul seperti bola  salju.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hilangnya rasa aman dan jaminan keamanan yang menyebabkan ketakutan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hilangnya  ilmu pengetahuan, pendidikan dan kepedulian yang lahir dari kepibadian  Islam. Hal ini disebabkan oleh begitu dominannya kebodohan dan buta  hurup yang diakibatkan oleh kemiskinan dan kepribadian yang goyah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hilangnya kekuatan dan Jihad yang disebabkan kelemahan dan kekalahan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hilangnya kekayaan yang disebabkan kemiskinan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hilangnya pencerahan dan pedoman yang benar yang disebabkan kegelapan dan pedoman yang salah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hilangnya kehormatan dan martabat yang disebabkan penghinaan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hilangnya  kedaulatan dan ketergantungan dalam membuat keputusan politik akibat  ketundukan kepada negara-negara penjajah kafir barat dan timur.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hilangnya keadilan yang disebabkan penindasan dan ketidakadilan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hilangnya keimanan dan keikhlasan yang disebabkan pengkhianatan penempatan orang yang salah pada tempat yang salah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hilangnya sikap dan moral yang terpuji yang menyebabkan kejahatan dan sikap yang tercela.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hilangnya  negeri-negeri Islam dan tempat tinggal, tidak hanya Palestina tetapi  juga Andalusia (sekarang yang disebut Portugal dan Spanyol), wilayah  yang luas di Asia Tengah dan Timur Jauh, Kosovo, Bosnia, Kashmir dan  yang lainnya, yang menyebabkan jutaan imigran, gelombang pengungsi dan  pendeportasian.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hilangnya tempat suci dan akibatnya adalah kaum  muslim dilarang shalat di Masjid Al-Aqsa selama 50 tahun sampai saat  ini. Kami juga menyesalkan untuk mengatakannya pada Anda bahwa dua  masjid lainnya pun yaitu Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Nabawi tidak di  dalam kondisi yang diinginkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hilangnya kesatuan dan integritas  yang diakibatkan terpecahnya negeri kaum muslim menjadi 56 bagian yang  tidak sah, dan AS tengah bekerja keras menciptakan bagian ke 57 di  Palestina, ke 58 di gurun Afrika barat dan ke 59 di Timor Timur.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Itulah  kehilangan yang besar untuk disampaikan pada Anda bahwa semua telah  lepas dari tangan kita setelah kita banyak kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Saudara-saudara sekalian, &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah  yang ditawarkan oleh raja Mesir kuno pada masa nabi Yusuf adalah  seberat beban unt, tetapi hadiah bagi siapa saja yang mengembalikan  semua kehilangan kita adalah jauh lebih berharga dari pemberian raja  mesir itu. Hal ini sebagaimana dikatakan Rasulullah saw. ketika utusan  suku Aus dan Khajzraj bertanya pada saat bai’at aqabah kedua, “Apa  imbalannya bagi Kita jika Kami mengabulkan janji untuk mendukung dan  melindungi Anda dan pengikut Anda (sahabat) ? Beliau berkata, “Surga.”  Mereka menjawab, “Ulurkan tanganmu pada Kami untuk membuat kesepakatan.  Kami akan melewati kesepakatan kita dan Kami tidak akan mundur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Saudara-saudara sekalian,&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya  masa seperti itu terjadi lagi, kita serukan kepada semua penguasa dan  kaum muslim yang berpengaruh, terutama petinggi militer, kepala suku -  kepala suku terkemuka dan anggota-anggota parlemen, agar mereka bekerja  sama dengan kaum muslim yang bersungguh-sungguh mengembalikan khilafah.  Kemudian segera meminta mereka utnuk memberikan dukungan untuk  menggulingkan para penguasa Arab saat ini yang tidak sah dan mengaku  negara Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan menegakan kembali sudah sepantasnya  berpedoman pada khilafah yang berdasar pada jalan kenabian di tempat  yang paling memungkinkan di dunia Islam. Kemudian menggabungkan  secepatnya negeri-negeri kaum muslim yang memungkinkan dalam  kekhilafahan. Umat Islam akan bisa bersatu dan Islam akan diterapkan  secara penuh. Kemudian menyebarluaskan Islam kepada seluruh manusia  dengan dakwah dan jihad. Negara Khilafah akan menjadi satu-satunya  negara yang memiliki kekuatan terhebat. Memberikan harapan berdirinya  kembali khilafah menjadi budaya Kita dan mengembalikan khilafah  merupakan kewajiban setiap muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Saudara-saudara sekalian&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al  Tabarani meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,” Jihad terbaikmu  adalah ribat dan ribat terbaikmu adalah di Asqalan.” Asqalan adalah  suatu kota Palestina di Mediterania. Arti ribat adalah tinggal tepat di  perbatasan dengan tujuan untuk menakut-nakuti musuh dan secara  terus-menerus mengharapkan musuh takut olehnya. Para ulama berkata tidak  ada seorang muslimpun saat ini melakukan ribat baik di Asqalan maupun  tempat lainnya karena yang biasanya dideklarasikan oleh khalifah. Dengan  kata lain tidak ada seorang muslim yang bisa berhak secara praktis  melakukan ribat karena ketadaan negara khilafah. Kaidah syara  berbunyi,”Apabila suatu kewajiban tidak terlaksana kecuali dengan suatu  perbuatan, maka perbuatan itu menjadi wajib.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu,  Kita memerlukan sebuah negara Khilafah yang akan membuat garis  perbatasan dengan orang-orang kafir dan seorang khalifah yang akan  mendeklarasikan jihad melawan mereka, menggunakan seluruh sumber umat  Islam termasuk kemampuan-kemampuan militer non aktif yang sangat  melimpah. Keputusan seperti itu tidak mungkin bisa diharapkan dari  pertemuan pemimpin-pemimpin Arab atau pemimpin-pemimpin muslim saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Saudara-saudara sekalian, &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran  itu sangat jelas dan sepengetahuan saya upaya penegakan khilafah lebih  kuat sejak itu dan mereka menyebarkannya lebih luas lagi. Tanah yang  subuh ditaburi benih perubahan seperti umat yang lebih siap untuk  menerima khilafah dari masa sebelumnya. Khilafah menjadi sebuah  permintaan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dan munculnya sangat  cepat. Ditambah dengan para pendukung khilafah yang diperkirakan puluhan  –mungkin ratusan juta di seluruh dunia Islam. Yang merefleksikan sebuah  kekuatan opini publik pada persoalan sensitif ini. Dengan kata lain,  perlawanan hebat dan penindasan yang dilakukan rejim kufur beserta  kroninya melawan upaya penegakan khilafah di dalam maupun dari luar  justru sebagai kabar gembira untuk menerangi umat ini.Oleh karena itu  saya ingin Anda yakin bahwa suatu saat nanti akan menjadi khilafah.Insya  Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. “&lt;/em&gt; (TQS Yusuf: 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah SWT memberi Kita kesabaran dan kekompakan serta memungkinkan A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga  Allah SWT memberi Kita kesabaran dan kekompakan serta memungkinkan Anda  untuk memainkan peran yang penting dalam menegakkan dan memperjuangkan  datangnya negara Khilafah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Maka Allah adalah sebaik-baiknya penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang”&lt;/em&gt; (TQS Yusuf: 64])&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Issam Amireh Abu Abdullah - Baitul Maqdis Palestina (Ahmad Saheed /Khilafah Magazine Desember 2000)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3493988676080638915-2823665246848436897?l=hilyathasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hilyathasan.blogspot.com/feeds/2823665246848436897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3493988676080638915&amp;postID=2823665246848436897&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/2823665246848436897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/2823665246848436897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hilyathasan.blogspot.com/2010/12/15-hal-yang-hilang-karena-ketiadaan.html' title='15 Hal yang Hilang Akibat Ketiadaan Khilafah'/><author><name>Hilyat Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04153284808943762507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/SoiPx06Vm7I/AAAAAAAAADU/BEKY3rsSXO8/S220/Image0112.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/TQSrFft220I/AAAAAAAAAOk/fvsLsINs18Y/s72-c/syaikh+issam+ameera.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3493988676080638915.post-69418470079832456</id><published>2010-11-03T18:14:00.000+07:00</published><updated>2010-11-03T18:14:34.016+07:00</updated><title type='text'>No More Dreaming: Bualan Seputar Perubahan Iklim</title><content type='html'>&lt;a href="http://kafihidonis.blogspot.com/2009/10/bualan-seputar-perubahan-iklim.html?spref=bl"&gt;No More Dreaming: Bualan Seputar Perubahan Iklim&lt;/a&gt;: "Pembahasan mengenai global warming dan perubahan iklim hingga saat ini masih menjadi agenda penting bagi politisi  di dunia. Baru-baru ini  ..."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3493988676080638915-69418470079832456?l=hilyathasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://kafihidonis.blogspot.com/2009/10/bualan-seputar-perubahan-iklim.html?spref=bl' title='No More Dreaming: Bualan Seputar Perubahan Iklim'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hilyathasan.blogspot.com/feeds/69418470079832456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3493988676080638915&amp;postID=69418470079832456&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/69418470079832456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/69418470079832456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hilyathasan.blogspot.com/2010/11/no-more-dreaming-bualan-seputar.html' title='No More Dreaming: Bualan Seputar Perubahan Iklim'/><author><name>Hilyat Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04153284808943762507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/SoiPx06Vm7I/AAAAAAAAADU/BEKY3rsSXO8/S220/Image0112.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3493988676080638915.post-5451806251236417427</id><published>2010-10-18T09:31:00.000+07:00</published><updated>2010-10-18T09:31:14.018+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='What Picture Tell Us'/><title type='text'>NEED HEAD!!!!!....................</title><content type='html'>&lt;div class="text_exposed_root text_exposed" id="id_4cbba333243906427503697"&gt;Not funny if body without a head...&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/TLum6F9eX7I/AAAAAAAAAOY/Z2DGBZO0AkY/s1600/71614_1427390201618_1138702625_30986568_8258319_s.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/TLum6F9eX7I/AAAAAAAAAOY/Z2DGBZO0AkY/s1600/71614_1427390201618_1138702625_30986568_8258319_s.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="text_exposed_root text_exposed" id="id_4cbba333243906427503697"&gt;So strange body without a head.&lt;br /&gt;Impossible it can life without the head.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh muslims in the world...&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;WHERE IS YOUR HEAD????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No dignity without Islam&lt;br /&gt;No Islam without system&lt;br /&gt;No system without Khilafah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That is  THE HEAD !&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3493988676080638915-5451806251236417427?l=hilyathasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hilyathasan.blogspot.com/feeds/5451806251236417427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3493988676080638915&amp;postID=5451806251236417427&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/5451806251236417427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/5451806251236417427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hilyathasan.blogspot.com/2010/10/need-head.html' title='NEED HEAD!!!!!....................'/><author><name>Hilyat Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04153284808943762507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/SoiPx06Vm7I/AAAAAAAAADU/BEKY3rsSXO8/S220/Image0112.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/TLum6F9eX7I/AAAAAAAAAOY/Z2DGBZO0AkY/s72-c/71614_1427390201618_1138702625_30986568_8258319_s.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3493988676080638915.post-7654838360788886635</id><published>2010-10-13T07:56:00.000+07:00</published><updated>2010-10-13T07:56:37.752+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarikh Islam'/><title type='text'>MENGUNGKAP PERSEKONGKOLAN WAHABI DAN PENGUASA SAUDI DALAM MENGHANCURKAN KHILAFAH</title><content type='html'>&lt;div class="mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;&lt;strong&gt;Oleh KH. M. Shiddiq Al-Jawi&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengantar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Wahabi (&lt;em&gt;al-harakah al-wahhabiyyah&lt;/em&gt;)  dapat dianggap salah satu gerakan reformasi Islam yang berpengaruh  besar terhadap umat Islam sejak abad ke-18. (Al-Ja'bari, 1996). Gerakan  yang dirintis oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792) memang dinilai  banyak pakar memberi kontribusi positif bagi umat Islam, misalnya  membuka pintu ijtihad, memurnikan tauhid sesuai pahamnya, dan memerangi  apa yang dianggapnya bid'ah dan khurafat. Bahkan Wahbah Zuhaili dalam  kitabnya &lt;em&gt;Mujaddid Ad-Din fi Al-Qarn Ats-Tsani 'Asyar&lt;/em&gt;, menganggap Muhammad bin Abdul Wahhab adalah mujaddid abad ke-12 H. Syekh Abdul Qadim Zallum dalam kitabnya &lt;em&gt;Kaifa Hudimat Al-Khilafah&lt;/em&gt; hal. 14, juga mengakui Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang mujtahid dalam mazhab Hambali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun  sisi gelap dari gerakan ini juga harus diungkap, khususnya dalam aspek  politik. Menurut Abdul Qadim Zallum, gerakan Wahabi telah dimanfaatkan  oleh Muhammad bin Saud (w. 1765) untuk memukul Khilafah Utsmaniyah dari  dalam. Namun tindakan yang sudah dapat disebut pemberontakan ini,  menurut Zallum terjadi tanpa disadari oleh para penganut gerakan Wahabi,  meski disadari sepenuhnya oleh Muhammad bin Saud. (Zallum, &lt;em&gt;Kaifa Hudimat Al-Khilafah&lt;/em&gt;, hal. 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini hendak mengkaji kitab &lt;em&gt;Kaifa Hudimat Al-Khilafah&lt;/em&gt;  (hal. 13-20) yang mengungkapkan upaya Muhammad bin Saud memanfaatkan  gerakan Wahabi untuk mengguncangkan Khilafah Utsmaniyah dari dalam.  Kajian akan dilengkapi dengan berbagai referensi lain yang relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Persekongkolan Negara-Negara Eropa&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Gerakan  Wahabi dan penguasa Saudi muncul pertama kali pada abad ke-18 di tengah  kondisi yang kurang menguntungkan bagi Khilafah Utsmaniyah, baik  internal maupun eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara internal, kelemahan  Khilafah mulai menggejala pada abad ke-18 ini, disebabkan oleh buruknya  penerapan hukum Islam, adanya paham-paham asing --seperti nasionalisme  dan demokrasi-- yang mengaburkan ajaran Islam dalam benak umat Islam,  dan lemahnya pemahaman Islam yang ditandai dengan vakumnya ijtihad.  (An-Nabhani, &lt;em&gt;Ad-Daulah Al-Islamiyyah&lt;/em&gt;, hal. 177).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara  eksternal, negara-negara Eropa seperti Inggris, Perancis, dan Italia  telah dan sedang berkonspirasi untuk menghancurkan Khilafah Utsmaniyah.  Negara-negara Eropa itu berkali-kali berkumpul dan bersidang membahas  apa yang disebutnya Masalah Timur (&lt;em&gt;al-mas'alah al-syarqiyyah, eastern question&lt;/em&gt;)  dengan tujuan untuk membagi-bagi wilayah Khilafah. Meski tidak berhasil  mencapai kata sepakat dalam pembagian ini, namun mereka sepakat bulat  dalam satu hal, yaitu Khilafah harus dihancurkan. (El-Ibrahimy, &lt;em&gt;Inggris dalam Pergolakan Timur Tengah&lt;/em&gt;, hal. 27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar Khilafah hancur, negara-negara Eropa itu melakukan serangan politik (&lt;em&gt;al-ghazwuz siyasi&lt;/em&gt;)  dengan menggerogoti wilayah-wilayah Khilafah. Selain Rusia yang yang  telah mencaplok wilayah Turkistan tahun 1884 dari wilayah Khilafah,  Perancis sebelumnya telah mencaplok Syam (Ghaza, Ramalah, dan Yafa)  tahun 1799. Perancis juga telah merampas Al-Jazair tahun 1830, Tunisia  tahun 1881, dan Marakesh tahun 1912. Italia tak ketinggalan menduduki  Tripoli (Libya) tahun 1911. Sementara Inggris menguasai Mesir tahun 1882  dan Sudan tahun 1898. (An-Nabhani, &lt;em&gt;Ad-Daulah Al-Islamiyyah&lt;/em&gt;, hal. 206-207).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah  serangan militer telah dilancarkan Eropa untuk menghancurkan Khilafah  dengan cara melakukan disintegrasi wilayah-wilayahnya satu demi satu.  (Jamal Abdul Hadi Muhammad, &lt;em&gt;Akhtha` Yajibu an Tushahhah fi Tarikh Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah&lt;/em&gt;, Juz II/9).&lt;br /&gt;Selain  upaya langsung dari luar, berbagai cara juga ditempuh oleh Eropa untuk  menghancurkan Khilafah dari dalam. Menurut Zallum ada empat cara yang  digunakan, yaitu : &lt;em&gt;pertama&lt;/em&gt;, menghembuskan paham nasionalisme&lt;em&gt;. Kedua&lt;/em&gt;, mendorong gerakan separatisme. &lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, memprovokasi umat untuk memberontak terhadap Khilafah. &lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;, memberi dukungan senjata dan dana untuk melawan Khilafah. (Zallum, &lt;em&gt;Kaifa Hudimat Al-Khilafah&lt;/em&gt;, hal. 13; Abdur Rauf Sinnu, &lt;em&gt;An-Naz'at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah&lt;/em&gt;, hal. 91).&lt;br /&gt;Di  sinilah Inggris menggunakan cara-cara tersebut untuk memukul Khilafah  dari dalam, melalui antek-anteknya Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud (w.  1830) yang memanfaatkan gerakan Wahabi. Upaya ini mendapat dukungan dana  dan senjata dari Inggris. (&lt;em&gt;Kaifa Hudimat Al-Khilafah&lt;/em&gt;, hal. 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan  konspiratif segitiga antara Inggris, Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud,  dan gerakan Wahabi ini diuraikan secara detail oleh Abul As'ad dalam  kitabnya &lt;em&gt;As-Su'udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun &lt;/em&gt;(hal. 15). Menurutnya, Abdul Aziz membangun ambisi politiknya atas dasar dua basis. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, adanya dukungan internasional dari Inggris. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, adanya dukungan milisi bersenjata dari gerakan Wahabi.&lt;br /&gt;Dukungan  Inggris terhadap Abdul Aziz ini terbukti misalnya dengan adanya  berbagai perjanjian rahasia antara Inggris dan Abdul Aziz tahun 1904.  Abul As'ad mengatakan,"Hubungan ini [Inggris dan Abdul Aziz] semakin  kuat dengan berbagai perjanjian rahasia antara dua pihak tahun 1904, di  mana Abdul Aziz menerima dukungan materi, politik, dan militer dari  Inggris yang membantunya untuk meluaskan pengaruhnya di Nejed serta  menguasai kota Ihsa` dan Qathif tahun 1913." (Abu Al-As'ad, &lt;em&gt;As-Su'udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun&lt;/em&gt;, hal. 16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun  dukungan milisi dari gerakan Wahabi kepada Abdul Aziz, telah terbentuk  sebelumnya sejak tahun 1744 ketika terjadi kontrak politik antara  ayahnya (Muhammad bin Saud) dengan Muhammad bin Abdul Wahhab. Kontrak  politik ini berlangsung di kota Dir'iyyah, sehingga sering disebut  "Baiah Dir'iyyah" (&lt;em&gt;Tarikh Al-Fakhiri&lt;/em&gt;, tahqiq Abdullah bin Yusuf Asy-Syibl, hal. 25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  kontrak politik itu, Muhammad bin Saud mendeklarasikan dukungannya  terhadap paham gerakan Wahabi dan menerapkannya dalam wilayah  kekuasaannya. Sedang gerakan Wahhabi yang sebelumnya hanya gerakan  dakwah kelompok, berubah menjadi gerakan dakwah kekuasaan. Implikasinya,  paham Wahabi yang semula hanya disebarkan lewat dakwah murni, kemudian  disebarkan dengan paksa menggunakan kekuatan pedang kepada penganut  mazhab lain, antara lain penganut mazhab Syafi'i. (&lt;em&gt;Kaifa Hudimat Al-Khilafah&lt;/em&gt;, hal. 16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pemberontakan Penguasa Saudi dan Wahabi Terhadap Khilafah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dengan  dukungan dana dan senjata dari Inggris, penguasa Saudi dan kaum Wahabi  bahu membahu memerangi dan menduduki negeri-negeri Islam yang berada  dalam kekuasaan Khilafah. Dengan ungkapan yang lebih tegas, sebenarnya  mereka telah memberontak kepada Khalifah dan memerangi pasukan Amirul  Mukminin dengan provokasi dan dukungan dari Inggris, gembongnya kafir  penjajah. (&lt;em&gt;Kaifa Hudimat Al-Khilafah&lt;/em&gt;, hal. 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasa  Saudi dan Wahabi telah menyerang dan menduduki Kuwait tahun 1788, lalu  menuju utara hingga mengepung Baghdad, menguasai Karbala dan kuburan  Husein di sana untuk menghancurkan kuburan itu dan melarang orang  menziarahinya. Pada tahun 1803 mereka menduduki Makkah dan tahun  berikutnya (1804) berhasil menduduki Madinah dan merobohkan kubah-kubah  besar yang menaungi kuburan Rasulullah SAW. Setelah menguasai Hijaz,  mereka menuju ke utara (Syam) dan mendekati Hims. Mereka berhasil  menguasai banyak wilayah di Siria hingga Halb (Aleppo). (Muwaffaq Bani  Al-Marjih, &lt;em&gt;Shahwah ar-Rajul Al-Maridh&lt;/em&gt;, hal. 285).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  Zallum, serangan militer ini sebenarnya adalah aksi imperialis Inggris,  karena sudah diketahui bahwa penguasa Saudi adalah antek-anek Inggris.  Jadi, Inggris telah memanfatkan penguasa Saudi yang selanjutnya juga  memanfaatkan gerakan Wahabi untuk memukul Khilafah dari dalam dan  mengobarkan perang saudara antar mazhab dalam tubuh Khilafah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya  saja, seperti telah disebut di depan, para pengikut gerakan Wahabi  tidak begitu menyadari kenyataan bahwa penguasa Saudi adalah antek  Inggris. Mengapa? Karena menurut Zallum, hubungan yang terjadi bukanlah  antara Inggris dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, melainkan antara  Inggris dengan Abdul Aziz, lalu antara Inggris dengan anak Abdul Aziz,  yaitu Saud bin Abdul Aziz. (&lt;em&gt;Kaifa Hudimat Al-Khilafah&lt;/em&gt;, hal. 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin  karena sebab itulah, banyak para penganut gerakan Wahabi --mereka lebih  senang menyebut dirinya Salafi-- menolak anggapan bahwa Muhammad bin  Abdul Wahhab telah memberontak kepada Khilafah Utsmaniyah. Banyak kitab  telah ditulis untuk membersihkan nama Muhammad bin Abdul Wahhab dari  tuduhan yang menurut mereka tidak benar itu. Contohnya kitab &lt;em&gt;Tashih Khathta` Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah&lt;/em&gt; karya Asy-Syuwai'ir; lalu kitab &lt;em&gt;Bara`ah Da`wah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab min Tuhmah Al-Khuruj 'Ala Ad-Daulah Al-Utsmaniyah&lt;/em&gt; karya Al-Gharib, juga kitab &lt;em&gt;Kasyfu Al-Akadzib wa al-Syubuhat 'an Da'wah Al-Mushlih Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab&lt;/em&gt; karya Shalahudin Al Syaikh. Termasuk juga kitab yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yang berjudul &lt;em&gt;Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah&lt;/em&gt; karya Ash-Shalabi. (Pustaka Al-Kautsar, 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan  dalam buku yang terakhir ini, Ash-Shalabi mencoba membangun konstruksi  persepsi sejarah yang justru mengaburkan fakta sejarah yang  sesungguhnya. Ash-Shalabi mengatakan bahwa perang antara Khilafah (yang  diwakili oleh Muhammad Ali, yakni Wali Mesir) melawan gerakan Wahabi  pertengahan abad ke-19, adalah &lt;strong&gt;Perang Salib yang berbaju Islam&lt;/strong&gt;. (Ash-Shalabi, &lt;em&gt;Ad-Daulah Al-Utsmaniyah Awamil An-Nuhudh wa Asbab As-Suquth&lt;/em&gt;, hal. 623).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya,  Muhammad Ali dianggap representasi pihak Salib karena dia dianggap  antek Inggris dan Perancis, sementara gerakan Wahabi dianggap  representasi tentara Islam. &lt;em&gt;Subhanallah, hadza buhtanun 'azhim&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal,  Muhammad Ali meski benar dia adalah antek Perancis menurut Zallum tapi  dia memerangi Wahabi karena menjalankan perintah Khalifah, bukan  menjalankan perintah kaum Salib. Jadi, perang yang terjadi sebenarnya  adalah perang antara Khilafah dan kaum pemberontak yang didukung  Inggris, bukan antara kaum Salib melawan pasukan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada  satu fakta sejarah yang diabaikan oleh para penulis sejarah apologetik  itu, yang mencoba membela posisi Wahabi atau penguasa Saudi yang  memberontak kepada Khilafah. Mereka nampaknya lupa bahwa wilayah Hijaz  telah lama masuk ke dalam wilayah Khilafah Utsmaniyah. Sejak tahun 1517  M, Hijaz telah secara resmi menjadi bagian Khilafah pada masa Khalifah  Salim I yang berkuasa 1512-1520. Peristiwa ini ditandai dengan  pernyerahan kunci Makkah dan Madinah kepada penguasa Khilafah  Utsmaniyah. (Abdur Rauf Sinnu, &lt;em&gt;An-Naz'at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah&lt;/em&gt;, hal. 89; &lt;em&gt;Tarikh Ibnu Yusuf&lt;/em&gt;, hal. 16; Abdul Halim Uwais, &lt;em&gt;Dirasah li Suquth Tsalatsina Daulah Islamiyyah&lt;/em&gt;, hal. 88).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi,  kalau Hijaz adalah bagian Khilafah, maka upaya mendirikan kekuasaan  dalam tubuh Khilafah, seperti yang dilakukan penguasa Saudi dan Wahabi,  tak lain adalah upaya ilegal untuk membangun negara di dalam negara.  Lalu kalau mereka berperang melawan Khalifah, apa namanya kalau bukan  pemberontakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penulis sejarah apologetik itu  semestinya bersikap objektif dan adil, tidak secara apriori berpihak  kepada penguasa Saudi atau gerakan Wahabi. Atau secara apriori membenci  Khilafah atau aktivis pejuang Khilafah saat ini. Allah SWT berfirman  (artinya) : &lt;em&gt;"Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu  kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena  adil itu lebih dekat kepada takwa."&lt;/em&gt; (QS Al-Maaidah : 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun  nampaknya justru bersikap adil sepertilah yang paling sulit dilakukan  oleh sejarawan, sejarawan manapun, khususnya penulis sejarah sezaman (&lt;em&gt;l'histoire contemporaine, contemporary history&lt;/em&gt;). Dalam ilmu sejarah, menulis sejarah sezaman ini adalah paling sulit bagi ahli sejarah untuk tidak memihak (&lt;em&gt;non partisan&lt;/em&gt;).  Namun meski sulit, sejarawan seharusnya menulis secara obyektif,  sekalipun menulis tentang penguasa yang sedang berkuasa. (Poeradisastra,  2008). &lt;em&gt;Wallahu a'lam&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR BACAAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aal Syaikh, Shalahudin bin Muhammad bin Abdurrahman&lt;em&gt;, Kasyfu Al-Akadzib wa al-Syubuhat 'an Da'wah Al-Mushlih Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab&lt;/em&gt;, (ttp : tp), tt.&lt;br /&gt;Abu Al-As'ad, Muhammad, &lt;em&gt;As-Su'udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun&lt;/em&gt;, (Kairo : Markaz Ad-Dirasat wa Al-Ma'lumat al-Qanuniyah li Huquq al-Insan), 1996.&lt;br /&gt;Al-Fakhiri, &lt;em&gt;Tarikh Al-Fakhiri&lt;/em&gt;, tahqiq Abdullah bin Yusuf Asy-Syibl, (Riyadh : Maktabah Al-Malik Fahd), 1999.&lt;br /&gt;Al-Gharib, Abdul Basith bin Yusuf&lt;em&gt;, Bara`ah Da`wah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab&lt;/em&gt;, (Amman : tp), tt.&lt;br /&gt;Al-Ja'bari, Hafizh Muhammad, &lt;em&gt;Gerakan Kebangkitan Islam (Harakah Al-Ba'ts Al-Islami)&lt;/em&gt;, Penerjemah Abu Ayyub Al-Anshari, (Solo : Duta Rohmah), 1996.&lt;br /&gt;Al-Marjih, Muwaffaq Bani, &lt;em&gt;Shahwah ar-Rajul Al-Maridh&lt;/em&gt;, (Kuwait : Muasasah Shaqr Al-Khalij), 1984.&lt;br /&gt;An-Nabhani, Taqiyuddin, &lt;em&gt;Ad-Daulah Al-Islamiyyah&lt;/em&gt;, (Beirut : Darul Ummah), 2002.&lt;br /&gt;Ash-Shallabi, Ali Muhammad, &lt;em&gt;Ad-Daulah al-Utsmaniyah 'Awamil an-Nuhudh wa Asbab as-Suquth&lt;/em&gt;, (ttp : tp), tt.&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syuwai'ir, Muhammad Saad, &lt;em&gt;Tashih Khathta` Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah&lt;/em&gt;, (Ttp : Darul Habib), 2000.&lt;br /&gt;El-Ibrahimy, M. Nur, &lt;em&gt;Inggris dalam Pergolakan Timur Tengah&lt;/em&gt;, (Bandung : NV Almaarif), 1955.&lt;br /&gt;Ibnu Yusuf, &lt;em&gt;Tarikh Ibnu Yusuf&lt;/em&gt;, tahqiq Uwaidhah Al-Juhni, (Riyadh : Maktabah Al-Malik Fahd), 1999.&lt;br /&gt;Imam, Hammadah, &lt;em&gt;Daur Al-Usrah As-Su'udiyah fi Iqamah Ad-Daulah Al-Israiliyyah&lt;/em&gt;, (ttp : tp), 1997.&lt;br /&gt;Muhammad, Jamal Abdul Hadi, &lt;em&gt;Akhtha` Yajibu an Tushahhah fi Tarikh Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah&lt;/em&gt;, Juz II, (Al-Manshurah : Darul Wafa`), 1995.&lt;br /&gt;Poeradisastra, S.I., &lt;em&gt;Sumbangan Islam Kepada Ilmu dan Peradaban Modern&lt;/em&gt;, (Depok : Komunitas Bambu), 2008.&lt;br /&gt;Sinnu, Abdur Rauf, &lt;em&gt;An-Naz'at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah 1877-1881&lt;/em&gt;, (Beirut : Baisan), 1998.&lt;br /&gt;Uwais, Abdul Halim, &lt;em&gt;Dirasah li Suquth Tsalatsina Daulah Islamiyyah&lt;/em&gt;, (ttp : tp), tt.&lt;br /&gt;Yaghi, Ismail Ahmad, &lt;em&gt;Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah fi At-Tarikh Al-Islami al-Hadits&lt;/em&gt;, (Ttp : Maktabah Al-'Abikan), 1998.&lt;br /&gt;Zallum, Abdul Qadim, &lt;em&gt;Kaifa Hudimat Al-Khilafah&lt;/em&gt;, (Beirut : Darul Ummah), 1990.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.khilafah1924.org/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://www.khilafah1924.org/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1421106775419&amp;amp;set=o.489352556256"&gt;&lt;img class="img" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs823.snc4/68322_1421106775419_1465184588_30964706_1428446_n.jpg" style="width: 420px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3493988676080638915-7654838360788886635?l=hilyathasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=489352556256&amp;id=1465184588' title='MENGUNGKAP PERSEKONGKOLAN WAHABI DAN PENGUASA SAUDI DALAM MENGHANCURKAN KHILAFAH'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hilyathasan.blogspot.com/feeds/7654838360788886635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3493988676080638915&amp;postID=7654838360788886635&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/7654838360788886635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/7654838360788886635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hilyathasan.blogspot.com/2010/10/mengungkap-persekongkolan-wahabi-dan.html' title='MENGUNGKAP PERSEKONGKOLAN WAHABI DAN PENGUASA SAUDI DALAM MENGHANCURKAN KHILAFAH'/><author><name>Hilyat Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04153284808943762507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/SoiPx06Vm7I/AAAAAAAAADU/BEKY3rsSXO8/S220/Image0112.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3493988676080638915.post-3632063902611590641</id><published>2010-08-10T22:07:00.000+07:00</published><updated>2010-08-10T22:07:43.153+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='about me'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kuliah Ramadlan'/><title type='text'>Ahlan Wa Sahlan ya Ramadhan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://4.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/TGFptP9YipI/AAAAAAAAAOE/7aI-W_zuXGA/s400/ahlan+wa+sahlan.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="400" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/TGFptP9YipI/AAAAAAAAAOE/7aI-W_zuXGA/s1600/ahlan+wa+sahlan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ahlan Wa Sahlan ya Ramadhan, bulan seribu bulan, bulan yang penuh dan  Rahmat dan ampunan, bulan dirindukan seluruh umat muslim, akhirnya tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثَلَاثَةٌ  لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ  الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada tiga golongan yang doa  mereka tidak ditolak: (1) orang yang berpuasa hingga ia berbuka, (2)  imam yang adil dan (3) doa orang yang dizalimi.” (HR Tirmidzi 3522)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perbanyaklah  berdoa dan memohon ampun pada bulan suci ramadhon, InsyaAllah doa kita  dikabulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terlebih lagi saat menjelang berbuka ketika  menanti tibanya azan Magrib. Kita harus memanfaatkan waktu sebaiknya  untuk berdoa saat itu. Maka, saudaraku, manfaatkan kesempatan emas  menjelang berbuka dengan mengajukan berbagai permintaan kepada Allah  ta'aala. Sebab sebagian masyarakat kita malah menghabiskan waktu dengan  ngobrol tidak karuan menjelang magrib di bulan Ramadhan. Padahal coba  perhatikan hadits berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو  بْنِ الْعَاصِ يَقُولُقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya  orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak pada saat  berbuka.” (HR Ibnu Majah 1743)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apakah lafal khusus Nabi  shollallahu ’alaih wa sallam menjelang ifthor berbuka puasa? Beliau  membaca sebagaimana dijelaskan dalam hadits di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ  رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ  ذَهَبَ الظَّمَأُ&lt;br /&gt;وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ  شَاءَ اللَّهُ&lt;br /&gt;“Jika Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam  berbuka, ia berdoa: Dhahabazh-zhoma-u wab tallatil-'uruq wa  tsabbatal-ajru insyaa Allah “Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat  dan semoga ganjaran didapatkan, insya Allah.” (HR Abu Dawud 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa  di dalam doa berbuka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan:  ”...dan semoga ganjaran didapatkan, insya Allah.”?&lt;br /&gt;Karena  sesungguhnya yang sangat diharapkan bukan semata kegembiraan pertama  sewaktu berbuka di dunia, melainkan yang lebih diharapkan orang beriman  ialah kegembiraan kedua yaitu saat bertemu Allah ta’aala di hari  berbangkit kelak. Orang beriman ketika itu bergembira berjumpa Allah  ta’aala karena puasanya sewaktu di dunia diterima olehNya. Demikianlah  Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda dalam hadits sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لِلصَّائِمِ  فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ  فَرِحَ بِصَوْمِهِ&lt;br /&gt;Bagi orang yang berpuasa terdapat dua kegembiraan.  Kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat kelak perjumpaannya dengan  Allah ta’aala karena ibadah puasanya.” (HR Bukhary 1771)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup  manusia di dunia adalah pergantian antara susah dan senang. Maka selama  bulan Ramadhan khususnya, marilah kita membaca yang Nabi shollallahu  ’alaih wa sallam biasa baca ketika menghadapi keadaan susah maupun  menerima karunia. Untuk mengantisipasi kesusahan Nabi shollallahu ’alaih  wa sallam melazimkan kalimat istighfar sebagaimana hadits berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ  رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَزِمَ  الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ  كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ&lt;br /&gt;“Barangsiapa  yang tetap melakukan istighfar, maka Allah subhaanahu wa ta’aala akan  membebaskannya dari segala kesusahan dan melapangkannya dari setiap  kesempitan serta akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak  diduganya.” (HR Abu Dawud 1297)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan ketika menerima  karunia, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menganjurkan kita membaca  sebagaimana hadits berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فَقَالَ  الْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا كَانَ الَّذِي أَعْطَاهُ أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ&lt;br /&gt;“Setiap  orang yang diberi karunia Allah ta'aala lalu ia membaca  ‘Alhamdulillah’, maka Allah ta’aala akan berikan yang lebih utama  daripada apa yang telah ia terima.” (HR Ibnu Majah 3795)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3493988676080638915-3632063902611590641?l=hilyathasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hilyathasan.blogspot.com/feeds/3632063902611590641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3493988676080638915&amp;postID=3632063902611590641&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/3632063902611590641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/3632063902611590641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hilyathasan.blogspot.com/2010/08/ahlan-wa-sahlan-ya-ramadhan.html' title='Ahlan Wa Sahlan ya Ramadhan'/><author><name>Hilyat Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04153284808943762507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/SoiPx06Vm7I/AAAAAAAAADU/BEKY3rsSXO8/S220/Image0112.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/TGFptP9YipI/AAAAAAAAAOE/7aI-W_zuXGA/s72-c/ahlan+wa+sahlan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3493988676080638915.post-4582118379771188234</id><published>2010-07-31T05:08:00.000+07:00</published><updated>2010-07-31T05:08:41.064+07:00</updated><title type='text'>Hukum-Hukum Seputar Puasa (IV)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Dalil kewajiban shaum&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: right; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Siapa saja di antara kalian yang melihat hilal bulan Ramadhan, maka berpuasalah.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;strong&gt;(QS al-Baqarah [2]: 185).&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Dalil shaum juga didasarkan pada hadis penuturan Ibn Umar ra. yang menyatakan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«اَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;:&lt;span&gt; &lt;/span&gt;بُنِيَ اْلاِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهاَدَةِ اَنْ لاَ الَهَ اِلاَّ اللهُ، وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَاِقاَمِ الصَّلاَةِ، وَاِيْتاَءِ الزَّكاَةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضاَنَ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Sesungguhnya Nabi saw. pernah bersabda&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt; line-height: 140%;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt; line-height: 140%;"&gt; “&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Islam itu dibangun di atas lima perkara: kesaksian bahwa tidak Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; mendirikan shalat; menunaikan zakat; beribadah haji; dan shaum Ramadhan.” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Shaum&lt;span&gt; &lt;/span&gt;wajib Bagi yang Balig dan Berakal &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Karena itu, secara pasti shaum merupakan kewajiban setiap Muslim yang telah balig dan berakal. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Dalam hal ini, anak-anak dan orang gila tidak wajib untuk berpuasa. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Hal ini didasarkan pada sabda Nabi saw.:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 3pt 0in 3pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ الصَّبِي حَتَّى يَبْلُغَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Telah diangkat pena (taklif hukum) atas tiga orang: dari anak kecil hingga balig; dari orang yang tidur hingga dia bangun; dan dari orang gila hingga ia waras. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(HR Abu Dawud).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Wanita Haid dan Nifas Tidak Wajib Puasa&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Wanita haid dan nifas juga tidak wajib berpuasa, karena puasa bagi mereka adalah tidak sah. Jika mereka telah suci dari haid maka mereka wajib meng-&lt;em&gt;qadha’&lt;/em&gt; puasa yang ditinggalkannya. Ketentuan ini didasarkan pada hadis penuturan Aisyah ra. yang menyatakan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 3pt 0in 3pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«فِي الْحَيْضِ كُنَّا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Karena haid, kami telah diperintahkan untuk meng-qadha’ shaum, tetapi kami tidak diperintahkan untuk meng-qadha’ shalat.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;strong&gt;(HR Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud, Ibn Majah dan Ahmad).&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Siapa Yang Diwajibkan Mambayar Fidyah ? &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Siapa saja yang tidak kuasa untuk berpuasa karena suatu kondisi tertentu, seperti orang yang sudah sangat tua/lanjut usia, yang menjadikan shaum baginya sangat berat, lalu orang yang sakit yang penyakitnya tidak mungkin disembuhkan, maka mereka juga tidak wajib untuk berpuasa; tetapi mereka wajib untuk membayar &lt;em&gt;fidyah&lt;/em&gt; sebagai gantinya. Ketetapan ini didasarkan pada firman Allah SWT:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: right; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Tidaklah Allah menjadikan di dalam agama ini suatu hal yang berat/kesempitan bagi kalian. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(QS al-Hajj [22]: 78).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Allah SWT juga berfirman:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Bagi orang-orang yang menanggung beban berat dalam berpuasa, mereka wajib memberikan fidyah, yakni memberi makan orang miskin&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;. &lt;strong&gt;&lt;span&gt;(QS al-Baqarah [2]: 184).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Ada juga hadis penuturan Ibn Abbas bahwa Nabi saw. pernah bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«وَمَنْ اَدْرَكَهُ الْكِبَرُ فَلَمْ يَسْتَطِعْ صِيَامَ رَمَضاَنَ فَعَلَيْهِ لِكُلِّ يَوْمٍ مُدًّ مِنْ قَمْحٍ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Siapa saja yang telah mencapai usia lanjut, lalu dia tidak kuasa untuk melaksanakan puasa Ramadhan, maka ia wajib untuk mengeluarkan satu mud gandum setiap hari.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;strong&gt;(HR al-Baihaqi dan ad-Daruquthni).&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Ibn Umar ra. juga menuturkan hadis:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«اِذَا ضَعُفَ عَنِ الصَّوْمِ اَطْعِمْ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مُدًّا»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Jika seseorang lemah dalam melaksanakn shaum, hendaknya ia memberikan makan kepada orang miskin satu mud setiap hari. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(HR al-Baihaqi dan ad-Daruquthni).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Dari Anas ra. juga dikatakan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«أَنَّهُ ضَعُفَ عَنِ الصَّوْمِ عَامًا قَبْلَ وَفاَتِهِ فَافْطَرَ وَاَطْعَمَ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Ia tidak berdaya untuk melaksanakan shaum sepanjang tahun sebelum wafatnya, lalu ia berbuka dan memberi makan makan orang miskin. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(HR ath-Thabrani dan al-Haitasmi).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Siapa Yang diwajibkan Qodho Puasa ? &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Jika seseorang tidak kuasa untuk berpuasa karena sakit dan ia khawatir sakitnya bertambah parah, ia juga tidak wajib untuk berpuasa, karena di dalamnya ada rasa berat sehingga dia boleh berbuka. Kemudian, jika dia sembuh maka dia wajib untuk meng-&lt;em&gt;qadha’&lt;/em&gt;-nya. Ketentuan ini didasarkan pada firman Allah SWT:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: right; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Siapa saja di antara kalian yang sakit, atau dalam perjalanan, maka hendaknya ia mengganti puasanya pada hari yang lain sejumlah yang ditinggalkannya.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;strong&gt;&lt;span&gt;(QS al-Baqarah [2]: 184).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Jika seseorang sedang berpuasa, lalu ia jatuh sakit, ia boleh berbuka, karena keadaan sakit memang membolehkan seseorang yang berpuasa untuk berbuka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Bagaimana Shaum Bagi yang Safar (melakukan Perjalanan ) ?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Sementara itu, berkaitan dengan seorang musafir, jika safar yang dilakukannya tidak mencapai empat &lt;em&gt;barid &lt;/em&gt;atau 80 kilometer, ia wajib tetap berpuasa; ia tidak boleh berbuka. Alasannya, karena safar/perjalanan yang menghasilkan adanya &lt;em&gt;rukhshah&lt;/em&gt; (keringanan) untuk berbuka adalah safar &lt;em&gt;syar‘i&lt;/em&gt; (bukan semata-mata safar, &lt;em&gt;peny&lt;/em&gt;.), yakni empat &lt;em&gt;barid&lt;/em&gt;, yang setara dengan 80 km. Jika seorang musafir melakukan safar sejauh 80 km atau lebih maka ia boleh untuk tetap berpuasa dan boleh juga berbuka. Ketentuan ini didasarkan pada hadis penuturan Aisyah ra.:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;`&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«اِنَّ حَمْزَةَ اِبْنِ عَمْرُوْ اْلاَسْلَمِي قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَأَصُوْمُ فِي السَّفَرِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِنْ شِئْتَ فَصُمْ وَاِنْ شِئْتَ فَاَفْطِرْ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Sesungguhnya Hamzah bin Amr al-Islami pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, “Perlukah aku berpuasa di dalam perjalanan?” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Jika engkau mau, berpuasalah. Jika engkau mau, berbukalah.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;strong&gt;(HR al-Bukhari, Muslim, dan Ashab as-Sunan).&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Berpuasa Bagi Yang Safar Lebih Utama ? &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Bagi musafir yang puasanya tidak menjadikan dirinya merasa berat/sempit maka tetap berpuasa adalah lebih utama. Sebab, Allah SWT telah berfirman:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: right; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Berpuasa itu adalah lebih baik bagi kalian. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(QS al-Baqarah [2]: 184).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Sebaliknya, jika puasanya ternyata telah membebani dirinya, maka dia lebih utama untuk berbuka. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Jabir ra. sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«مَرَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ بِرَجُلٍ تَحْتَ شَجَرَةٍ يُرَشُ عَلَيْهِ الْماَءُ فَقَالَ: مَا بَالَ هَذَا؟ قَاُلْوا: صَائِمٌ. فَقَالَ: لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصِّيَامُ فِي السَّفَرِ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Dalam sebuah perjalanan Rasulullah saw. pernah melewati seorang laki-laki yang sedang berteduh di bawah pohon sambil menyiramkan air ke tubuhnya. Beliau lalu bertanya, “Mengapa orang ini?” Para Sahabat menjawab, “Dia sedang berpuasa.” Mendengar itu, Beliau kemudian bersabda, “Tidak baik berpuasa dalam perjalanan.” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(HR an-Nasa’i).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Bagaimana Qodho Wanita Hamil ?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Adapun wanita hamil dan menyusui, mereka boleh untuk berbuka, lalu meng-&lt;em&gt;qadha’&lt;/em&gt;-nya di luar bulan Ramadhan, baik karena ia khawatir atas dirinya, khawatir atas dirinya dan bayinya, atau semata-mata khawatir atas bayinya; atau bahkan ia tidak memiliki kekhawatiran apapun. Pasalnya, kebolehan wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa semata-mata didasarkan pada statusnya sebagai wanita hamil dan menyusui, tanpa memandang apakah yang bersangkutan memiliki kekhawatiran ataukah tidak (akan kondisi dirinya dan bayinya, &lt;em&gt;peny&lt;/em&gt;.). Ketentuan ini didasarkan pada apa yang telah dikukuhkan oleh hadis Nabi saw. dalam &lt;em&gt;Ash-Shahihayn&lt;/em&gt;, sebagaimana dituturkan oleh Anas bin Malik al-Ka‘bi. Ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ الصَوْمَ وَشَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْحاَمِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan keringanan bagi musafir dalam shaum dan sebagian shalatnya, sementara keringanan bagi wanita hamil dan menyusui adalah dalam shaumnya.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;strong&gt;(HR al-Bukhari dan Muslim).&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Hadis di atas tidak memberikan batasan tertentu terkait dengan kebolehan seseorang untuk tidak berpuasa. Hadis tersebut bahkan menyebutkan kebolehan itu secara mutlak bagi wanita hamil dan menyusui, semata-mata karena statusnya sebagai wanita hamil dan menyusui.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Lalu terkait dengan kewajiban wanita hamil dan menyusui untuk meng-&lt;em&gt;qadha’&lt;/em&gt; shaum yang ditinggalkannya, hal itu didasarkan pada alasan bahwa mereka memang wajib untuk berpuasa. Ketika mereka memutuskan untuk tidak berpuasa, maka puasa menjadi utang bagi mereka, yang tentu wajib dibayar dengan cara di-&lt;em&gt;qadha’&lt;/em&gt;. Ketetapan ini didasarkan pada hadis penuturan Ibn Abbas ra. yang menyatakan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 3pt 0in 3pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«اِنَّ اِمْرَأَةً قاَلَتْ: يَارَسُوْلَ اللهِ، اَنِّ اُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ نَذَرٍ، أَفَاَصُوْمُ عَنْهَا؟ فَقاَلَ: اَرَأَيْتَ لَوْكاَنَ عَلَى اُمِّكِ دَيْنٌ فَقَضَيْتِهِ اَكَانَ يُؤَدِّي ذَلِكَ عَنْهَا؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: فَصُوْمِي عَنْ اُمِّكِ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Seorang wanita pernah berkata kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah saw., ibuku telah meninggal, sementara ia masih memiliki kewajiban berpuasa nadzar. Perlukah aku berpuasa untuk membayarkannya?” Rasul menjawab, “Bagaimana pendapatmu seandainya ibumu memiliki utang, lalu engkau membayarnya, apakah hal itu dapat melunasi utangnya?” Wanita itu menjawab, “Tentu saja.” Rasul lalu bersabda, “Karena itu, berpuasalah engkau untuk membayar utang puasa ibumu.” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(HR Muslim).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Kemudian, tidak adanya kewajiban atas wanita hamil dan menyusui untuk membayar &lt;em&gt;fidyah&lt;/em&gt;, hal itu karena dalam hal ini memang tidak ada nash yang menunjukkannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Bagaimana Keharusan merukyat hilal bulan Ramadhan.?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Shaum Ramadhan hanya diwajibkan atas kaum Muslim saat sudah terlihat hilal (bulan sabit tanggal 1) bulan Ramadhan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Jika pada saatnya hilal Ramadhan terhalang dari pandangan manusia, maka kaum Muslim wajib menggenapkan bilangan bulan Sya‘ban (menjadi 30 hari), lalu besoknya mereka harus sudah mulai berpuasa. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Ketentuan ini didasarkan pada hadis penuturan Ibn Abbas ra. bahwa Nabi saw. pernah bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«اَنَّ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَاَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ، فَاِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاَكْمِلُوْا الْعِدَّةَ، وَلاَ تَسْتَقْبِلُوْا الشَّهْرَ اسْتِقْبَالاً»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Berpuasalah kalian karena merukyat hilal dan berbukalah kalian (mengakhiri puasa Ramadhan, &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;peny&lt;em&gt;.) juga karena melihat hilal (bulan sabit tanggal 1 Syawal, peny.). &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Jika hilal terhalang dari pandangan kalian maka genapkanlah bilangan bulan Sya‘ban. Janganlah kalian kalian menyambut bulan itu (dengan berpuasa, &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;peny&lt;em&gt;.).&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ahmad, dan ad-Darimi).&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Haruskah Shaum didahului niat ?.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Shaum Ramadhan, sebagaimana juga shaum-shaum lainnya, hanya dipandang absah jika didahului dengan niat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Dasarnya adalah sabda Nabi saw.:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«اِنَّمَا اْلاَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Sesungguhnya amal ibadah itu bergantung pada niatnya. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(HR Muslim). &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Niat wajib dilakukan setiap hari selama bulan Ramadhan. Pasalnya, shaum pada masing-masing hari merupakan ibadah yang berdiri sendiri, yang waktunya dimulai dari terbit fajar dan diakhiri saat matahari terbenam. Shaum pada hari ini tidak bisa ikut-ikutan rusak oleh rusaknya puasa pada hari-hari sebelumnya maupun hari-hari sesudahnya. Karena itulah, tidak cukup satu niat untuk berpuasa sebulan penuh. Akan tetapi, niat harus dilakukan setiap hari. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Kapan Niat Dilakukan &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin: 6pt 0in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Sahum Ramadhan ataupun shaum-shaum wajib lainnya tidak sah dilakukan jika niatnya baru dilakukan siang hari. Niat shaum wajib dilakukan pada malam hari. Ketentuan ini didasarkan pada hadis penuturan Hafshah:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«اَنَّ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ لَمْ يَبِيْتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda, “Siapa saja yang tidak berniat puasa pada malam hari maka tidak ada puasa baginya.” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(HR an-Nasa’i dan ad-Darimi).&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Niat boleh dilakukan pada bagian malam manapun sejak terbenamnya matahari hingga terbitnya fajar karena seluruhnya termasuk bagian dari malam hari. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Bagaimana Dengan Niat Shaum Sunnah ?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Adapun niat shaum sunnah boleh dilakukan setelah terbit fajar sebelum matahari tergelincir. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Aisyah ra.:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«اَنَّ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَصْبَحَ اليَوْمُ، عِنْدَكُمْ شَيْءٌ تُطْعِمُوْنَ؟ فَقَالَتْ: لاَ. فَقَالَ: اِنِّي إِذًا صَائِمٌ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Sesungguhnya Nabi saw. pernah bertanya, “Apakah pagi ini ada sesuatu (makanan) untuk kalian makan?” Aisyah menjawab, “Tidak ada.” Nabi saw. kemudian berkata, “Kalau begitu, aku akan berpuasa saja.” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(HR Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Niat shaum Ramadhan juga harus ditentukan. Artinya, seseorang yang hendak berpuasa harus menyatakan diri bahwa ia memang berniat untuk shaum Ramadhan pada hari itu, karena ia merupakan bentuk &lt;em&gt;taqarrub&lt;/em&gt; kepada Allah yang terkait dengan waktu pelaksanaannya. Hanya saja, niat tidak mesti dinyatakan secara verbal, tetapi cukup dengan adanya maksud di dalam kalbu. Niat juga hanya dianggap sah jika secara pasti dimaksudkan untuk melaksanakan shaum Ramadhan pada hari tertentu karena menentukan niat pada masing-masing hari adalah wajib.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Kapan Waktu pelaksanaan shaum?.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Waktu pelaksanaan shaum dimulai sejak terbit fajar, yakni fajar &lt;em&gt;shâdiq&lt;/em&gt; (waktu subuh) dan diakhiri dengan terbenamnya matahari (saat magrib). Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Umar ra:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«اَنَّ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِذاَ أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا وَاَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا وَغَابَتِ الشَّمْسُ مِنْ هَاهُنَا فَقَدْ اَفْطَرَ الصَّائِمُ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Sesungguhnya Nabi saw. pernah bersabda, “Jika malam telah datang dari sini, siang telah berakhir dari sini, dan matahari pun sudah tenggelam, maka orang-orang yang berpuasa berbuka saat itu.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;strong&gt;(HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad).&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Allah SWT juga berfirman:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: HQPB5; font-size: 14pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Makan dan minumlah kalian hingga jelas bagi kalian putih-hitamnya sang fajar, lalu sempurnakanlah shaum hingga tiba waktu malam.&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(QS al-Baqarah [2]: 187).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Jika seseorang yang sedang berpuasa makan dan minum, sementara dia ingat bahwa dia sedang berpuasa, dan dia pun tahu bahwa makan-minum itu haram saat puasa, maka batallah puasanya, karena ia melakukan perkara yang dilarang dalam puasa tanpa ada uzur. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Bagaimana Meneteskan Obat Ke Dalam Hidung ? &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Jika orang yang sedang berpuasa meneteskan obat ke dalam hidung atau memasukkan air ke lubang telinganya hingga sampai ke otaknya, batallah puasanya. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Luqaith bin Shabrah ra. yang menyatakan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«قُلْتُ: يَارَسُوْلَ اللهِ، اَخْبِرْنِي عَنِ الْوُضُوْءِ. قَالَ: اَسْبِغِ الْوُضُوْءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ اْلاَصَابِعِ وَبَالِغْ فِي اْلاِسْتِنْشاَقِ اِلاَّ اَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 28.35pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Aku berkata, “Wahai Rasulullah saw., beritahulah aku tentang cara berwudhu.” Beliau bersabda, “Sempurnakanlah wudhu, renggangkalah jari-jemari, optimalkanlah menghirup air lewat hidung (ber-istinsyâq), kecuali jika engkau sedang berpuasa.” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(HR at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Abu Dawud, Ibn Majah dan Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Berkaitan dengan hadis di atas, pemahaman kebalikan (&lt;em&gt;mafhûm mukhâlafah&lt;/em&gt;)-nya adalah larangan untuk tidak secara optimal (banyak-banyak) ber-&lt;em&gt;istinsyâq&lt;/em&gt; saat berpuasa hingga tidak ada sedikit pun air yang sampai ke otak. Ini berarti, adanya air yang sampai ke otak adalah haram bagi orang yang berpuasa dan membatalkan puasanya. Makan, minum, menghirup sesuatu melalui hidung, dan meneteskan air ke dalam lubang telinga pengertiannya meliputi memasukkan apa saja; baik yang biasa dimakan dan diminum seperti nasi, air, tembakau, dan sejenisnya; ataupun yang biasa diteteskan melalui hidung, telinga, dan sejenisnya. Semua ini membatalkan puasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Bagaimana Hubungan Suami Istri Saat Shaum ? &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Orang yang sedang berpuasa juga dilarang melakukan hubungan suami-istri. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: right; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Sekarang, campurilah mereka. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(QS al-Baqarah [2]: 187).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Ayat ini menunjukkan, bahwa mencampuri istri tidak dibolehkan sebelum sekarang ini, yakni pada siang hari bulan Ramadhan. Apabila yang dicampuri itu kemaluan maka batallah puasa. Jika yang dicampurinya selain kemaluan, atau sekadar mencium tetapi sampai membuat keluar air mani (sperma), maka batal pula puasa seseorang; tetapi jika tidak sampai membuat keluar sperma maka puasanya tidak batal. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Jabir ra. sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«قَبَلْتُ وَاَنَا صَائِمٌ، فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: قَبَلْتُ، وَاَنَا صَائِمٌ. فَقاَلَ: اَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ وَاَنْتَ صَائِمٌ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Aku pernah mencium (istriku) saat sedang berpuasa. Aku lalu menjumpai Nabi saw., kemudian bertanya, “Aku telah mencium (istriku), sementara aku sedang berpuasa.” Rasul saw. lalu bersabda, “Bagaimana pendapatmu jika engkau berkumur pada waktu engkau berpuasa?” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(HR Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Dalam hadis ini. Nabi saw. telah menyerupakan aktivitas &lt;em&gt;mencium&lt;/em&gt; dengan &lt;em&gt;berkumur&lt;/em&gt;; jika air sampai tertelan, batallah puasa seseorang; sedangkan jika tidak maka puasanya tidak menjadi batal. Demikian pula halnya dengan mencampuri istri pada selain kemaluan atau sekadar menciumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Batalkah Orang Yang Sengaja Muntah ? &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Jika seorang yang sedang berpuasa dengan sengaja membuat dirinya muntah maka batallah puasanya. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Abu Hurairah ra.:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنِ اسْتَقَاءَ عَامِدًا فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ، وَمَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Sesungguhnya Nabi saw. pernah bersabda, “Siapa saja yang telah memancing dirinya agar muntah dengan sengaja, ia wajib meng-qadha’ puasanya. Siapa saja yang muntah (tanpa disengaja), ia tidak wajib mengqadha’ puasanya.’” &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; font-style: normal; line-height: 140%;"&gt;(HR at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibn Majah dan Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Bagaimana Kalau Lupa ? &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Semua hal di atas jika dilakukan/terjadi dengan catatan, yakni jika orang yang berpuasa melakukannya dengan sengaja. Adapun jika ia melakukakannya karena lupa maka puasanya tidak menjadi batal. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Abu Hurairah ra. yang menyatakan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«مَنْ اَفْطَرَ فِي شَّهْرِ رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلاَ قَضاَءَ عَلَيْهِ وَلاَ كَفاَرَةَ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Siapa saja yang berbuka pada bulan Ramadhan karena lupa, ia tidak wajib meng-qadha’ dan tidak wajib pula membayar kafarah.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;strong&gt;(HR at-Tirmidzi).&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Ketentuan di atas juga dirdasarkan pada hadis riwayat al-Bukhari dari Nabi saw. yang pernah bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«اِذَا نَسِيَ فَأَكَلَ اَوْشَرَبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَاِنَّمَا اَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Jika seseorang yang sedang berpuasa lupa sehingga dia makan atau minum maka sempurnakanlah (lanjutkanlah) puasanya. Sebab, itu hanyalah kehendak Allah yang (dengan sengaja) telah memberinya makan dan minum. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(HR al-Bukhari Muslim, Ibn Majah dan Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Bagaimana Melakukan Hubungan Suami Istri Padahal Sudah Terbit Fajar ?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Jika seseorang makan atau melakukan hubungan suami-istri dengan alasan karena dia menduga bahwa fajar belum terbit, padahal ternyata fajar telah terbit, atau ia mengira bahwa matahari telah terbenam, padahal matahari belum terbenam, maka batallah puasanya dan ia wajib meng-&lt;em&gt;qadha’&lt;/em&gt;-nya. Ketetapan ini didasarkan pada hadis penuturan Hanzhalah ra. yang mengatakan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«كُنَّا بِالْمَدِيْنَةِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَفِي السَّمَاءِ شَيْءٌ مِنَ السَّحَابِ. فَظَنَّناَ أَنَّ الشَّمْسَ قَدْ غَابَتْ فَاَفْطَرَ بَعْضُ النَّاسِ فَاَمَرَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ كَانَ قَدْ اَفْطَرَ اَنْ يَصُوْمَ يَوْمًا مَكَانَهُ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Saat kami berada di Madinah pada bulan Ramadhan, ketika langit dalam keadaan berawan, kami mengira matahari telah terbenam. Lalu sebagian orang berbuka. Karena itu, Umar ra. menyuruh agar orang yang terlanjur berbuka untuk berpuasa pada hari lain sebagai penggantinya. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(HR al-Baihaqi dan al-Haitsami).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Ketetapan ini juga didasarkan pada hadis penuturan Hisyam bin Urwah dari Fathimah, istrinya, dari Asma’ yang mengatakan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«اَفْطَرْنَا عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَوْمِ غَيْمٍ، ثُمَّ طَلَعَتِ الشَّمْسُ. قِيْلَ لِهِشاَمِ: اُمِرُوْا بِالْقَضَاءِ. قَالَ: لاَ بُدَّ مِنْ قَضَاءٍ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Pada masa Rasulullah saw. kami pernah berbuka saat langit dalam keadaan mendung, kemudian matahari masih tampakt. Kepada Hisyam dikatakan, “Mereka disuruh meng-qadha’ puasa.” Dia lalu berkata, “Tentu saja harus meng-qadha’ puasa.” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(HR al-Bukhari, Abu Dawud, Ibn Majah dan Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Bagaimana Orang yang Berbuka Tanpa Uzur ? &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Siapa saja yang berbuka pada siang hari bulan Ramadhan tanpa uzur, ia wajib meng-&lt;em&gt;qadha’&lt;/em&gt; puasanya. Ketentuan ini didasarkan pada sabda Nabi saw.:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«مَنِ اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Siapa saja yang memancing dirinya agar muntah, ia wajib meng-qadha’-nya. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(HR at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibn Majah dan Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Nabi saw. juga pernah bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«فَدَيْنُ اللهِ اَحَقُّ بِالْقَضَاءِ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Utang kepada Allah lebih layak untuk dibayar. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;(HR Muslim).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Bagaimana yang melakukan hubungan suami istri tanpa uzur ?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Adapun orang yang berbuka karena melakukan hubungan suami-istri tanpa uzur, maka di samping wajib meng-qadha’ puasanya, ia juga wajib membayar &lt;em&gt;kafarah&lt;/em&gt;. Pasalnya, Nabi saw. sendiri telah menyuruh orang yang menyetubuhi istrinya pada siang hari bulan Ramadhan agar meng-&lt;em&gt;qadha’&lt;/em&gt; puasanya. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Abu Hurairah ra.:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoHeading7" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; font-style: normal; line-height: 140%;"&gt;«جَاءَ رَجُلٌ اِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: هَلَكْتُ، يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: وَمَا اَهْلَكَكَ؟ قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى اِمْرَأَتِي فِي رَمَضَانَ. فَقَالَ: هَلْ تَجِدُ مَا تَعْتِقُ رَقَبَةً؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: فَهَلْ تَسْتَطِيْعُ اَنْ تَصُوْمَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ؟ قَالَ: لاَ،.قَالَ: فَهَلْ تَجِدُ ماَ تُطْعِمُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا؟ قَالَ: لاَ. ثُمَّ جَلَسَ فَاَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقِ فِيْهِ تَمَرٌ فَقَالَ: تَصَدَّقْ بِهَذَا. فَقَالَ: أَعَلَى اَفْقَرِ مِنَّا فَمَا بَيْنَ ِلاِبْتِيْهَا اَهْلَ بَيْتِ اَحْوَجَ اِلَيْهِ مِنَّا؟ فَضَحَكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ, ثُمَّ قَالَ: اِذْهَبْ فَاَطْعِمْهُ اَهْلَكَ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Seorang laki-laki pernah menjumpai Nabi saw. Ia lalu berkata, “Celakalah aku, wahai Rasulullah!” Rasul kemudian bertanya, “Apa yang telah mencelakaknmu?” Dia menjawab, “Aku telah bersetubuh dengan istriku saat siang hari pada bulan Ramadhan.” Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memiliki harta yang dapat memerdekakan hamba sahaya?” Dia menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Dia menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memiliki harta yang bisa memberi makan kepada enam puluh orang miskin?” Dia menjawab, “Tidak juga.” Kemudian dia duduk, sementara Nabi saw. datang dengan membawa bakul besar yang penuh dengan kurma. Setelah itu, Nabi saw. bersabda, “Bersedekalah engkau dengan kurma ini!” Namun, orang itu berkata, “Apakah kepada orang yang paling fakir di antara kami? Sungguh, tidak ada di daerah kami penduduk yang lebih membutuhkan kurma ini daripada kami sekeluarga.” Mendengar itu, Nabi saw. tertawa hingga gigi taringnya tampak. Beliau kemudian bersabda, “Kalau begitu, pulanglah. Lalu beri makanlah keluargamu dengan kurma ini!” &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; font-style: normal; line-height: 140%;"&gt;(HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibn Majah dan Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Inilah &lt;em&gt;kafarah&lt;/em&gt; wajib yang harus ditunaikan oleh orang yang berbuka pada siang hari bulan Ramadhan dengan menggauli istrinya secara sengaja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Bagaimana Hukum Makan Sahur ?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Orang yang berpuasa disunnahkan untuk makan sahur. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Anas ra.:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; page-break-after: avoid; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;تَسَحَّرُوْا فَإِنًّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةٌ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Sesungguhnya Nabi saw. pernah bersabda, “Makan sahurlah kalian karena dalam sahur itu terkandung berkah.” &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; font-style: normal; line-height: 140%;"&gt;(HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibn Majah, Ahmad dan ad-Darimi).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Apa Sunnah Berbuka ?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Orang yang berpuasa juga disunnahkan berbuka dengan makan kurma. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Jika kurma tidak ada, ia disunnahkan berbuka dengan minum air. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Salman bin Amir yang mengatakan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِذَا اَفْطَرَ اَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمَرٍ فَاِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ فَاِنَّهُ طَهُوْرٌ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.5in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Rasulullah saw. pernah bersabda, “Jika seseorang di antara kalian berbuka, berbukalah dengan kurma; jika ia tidak mendapatkannya, berbukalah dengan air karena air itu suci.” &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; font-style: normal; line-height: 140%;"&gt;(HR at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibn Majah, Ahmad dan ad-Darimi).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Bagaimana Sunnah Doa Berbuka ? &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Selanjutnya, saat berbuka puasa seseorang disunnahkan untuk membaca doa berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan berkat rezeki-Mu aku berbuka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Abu Hurairah ra. yang mengatakan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 6pt 0in 6pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَذَا صَامَ ثُمَّ اَفْطَرَ قَالَ: اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Rasulullah saw. itu, jika berpuasa, lalu berbuka, Beliau biasa mengucapkan, “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan berkat rezeki-Mu aku berbuka.” &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; font-style: normal; line-height: 140%;"&gt;(HR Abu Dawud).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Orang yang berpuasa Ramadhan juga disunnahkan untuk menyambung puasanya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Abu Ayyub ra. berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 3pt 0in 3pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ اَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَالٍ كَانَ كَصِياَمِ الدَّهْرِ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Rasulullah saw. pernah bersabda, “Siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadhan, kemudian menyambungnya dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka ia seperti telah berpuasa sepanjang tahun. &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; font-style: normal; line-height: 140%;"&gt;(HR Muslim).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Pada hari Arafah, selain jamaah haji disunnahkan berpuasa. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Abu Qatadah ra.:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 3pt 0in 3pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَوْمُ عَاشُوْرَاءَ كَفاَرَةُ سَنَةٍ وَصَوْمُ يَوْمَ عَرَفَةٍ كَفَارَةُ سَنَتَيْنِ سَنَةٌ قَبْلَهَا مَاضِيَةً وَسَنَةٌ بَعْدَهَا مُسْتَقْبَلَةً»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Rasulullah saw. pernah bersabda, “Puasa Asyura adalah kafarah (dari dosa) satu tahun. Puasa Arafah adalah kafarah (dari dosa) dua tahun; satu tahun sebelumnya dan satu tahun berikutnya.” &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; font-style: normal; line-height: 140%;"&gt;(HR Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Puasa Asyura disunnahkan berdasarkan hadis Abu Qatadah di atas. Disunnahkan pula puasa pada hari sebelum Asyura, yakni tanggal sembilan Muharram. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Ibnu Abbas ra.:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 3pt 0in 3pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَئِنْ بَقَيْتُ اِلَى قَابِلٍ َلأَصُوْمَنَّ الْيَوْمَ التَّاسِعَ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Rasulullah saw. pernah bersabda, “Andai aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada tanggal sembilan (bulan Muharram). &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; font-style: normal; line-height: 140%;"&gt;(HR Ibn Majah dan Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Dalam hadis riwayat Muslim, hadis di atas ditambah dengan kalimat berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 3pt 0in 3pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«فَلَمْ يَأْتِ الْعَامَ الْمُقْبِلَ حَتَّى تُوُفِيَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Tahun depan belum juga tiba, Rasulullah saw. telah terlebih dulu wafat. &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; font-style: normal; line-height: 140%;"&gt;(HR Muslim).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Hari Asyura adalah hari kesepuluh dari bulan Muharram dan hari Tasu’a’ adalah hari kesembilan dari bulan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Disunnahkan pula untuk berpuasa pada hari-hari putih (&lt;em&gt;al-baydh&lt;/em&gt;), yakni puasa tiga hari pada tiap-tiap bulan. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Abu Hurairah ra. sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 3pt 0in 3pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«اَوْصَانِي خَلِيْلِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ اَيَّامٍ كُلَّ شَهْرٍ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Kekasihku (Rasulullah) saw. pernah berwasiat kepadaku agar berpuasa tiga hari pada setiap bulan. &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; font-style: normal; line-height: 140%;"&gt;(HR Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Puasa tiga hari ini boleh dilakukan pada hari apa saja tanpa harus ditentukan. Hanya saja, yang dianggap utama adalah pada tanggal 13, 14 dan 15. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Abu Dzarr ra.:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 3pt 0in 3pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثًا، فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَاَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشَرَةَ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Rasulullah saw pernah bersabda, “Jika engkau berpuasa tiga hari dalam sebulan, berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15.” &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; font-style: normal; line-height: 140%;"&gt;(HR at-Tirmidzi dan Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Ketetapan di atas juga didasarkan pada hadis penuturan Jarir bin Abdillah dari Nabi saw. yang pernah bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 3pt 0in 3pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«صِيَامُ ثَلاَثَةِ اَيَّامٍ مِِنْ كُلِّ شَهْرٍ صِيَامُ الدَّهْرِ، اَيَّامُ البَيْضِ، ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَاَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Puasa tiga hari pada setiap bulan adalah puasa sepanjang tahun, yakni puasa hari-hari putih, adalah: tanggal 13, 14, dan 15. &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; font-style: normal; line-height: 140%;"&gt;(HR Muslim, an-Nasa’i, Ahmad dan ad-Darimi).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Disunnahkan pula untuk berpuasa pada hari Senin dan Kamis. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Aisyah ra. yang mengatakan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-top: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="line-height: 140%; margin: 3pt 0in 3pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 18pt; line-height: 140%;"&gt;«اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ اْلاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ»&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 140%; margin-left: 0.5in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Sesungguhnya Nabi saw. telah memilih waktu untuk berpuasa pada hari Senin dan Kamis. &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; font-style: normal; line-height: 140%;"&gt;(HR at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr /&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; line-height: 140%; margin-right: 17pt; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Sumber : &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Ahkâm ash-Shalâh&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 140%;"&gt;Mesir: Dar an-Nahdhah al-Islamiyyah, Cet. 1, 1991, Karya al-Ustadz Ali Ragib, Guru Besar Universitas al-Azhar asy-Syaried Kairo, Mesir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3493988676080638915-4582118379771188234?l=hilyathasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hilyathasan.blogspot.com/feeds/4582118379771188234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3493988676080638915&amp;postID=4582118379771188234&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/4582118379771188234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/4582118379771188234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hilyathasan.blogspot.com/2010/07/hukum-hukum-seputar-puasa-iv.html' title='Hukum-Hukum Seputar Puasa (IV)'/><author><name>Hilyat Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04153284808943762507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/SoiPx06Vm7I/AAAAAAAAADU/BEKY3rsSXO8/S220/Image0112.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3493988676080638915.post-7368056468452502195</id><published>2010-07-31T05:02:00.002+07:00</published><updated>2010-07-31T05:02:46.420+07:00</updated><title type='text'>Hukum-Hukum Seputar Puasa (III)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Niat Puasa&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;              &lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Niat dalam melaksanakan puasa merupakan rukun yang harus dipenuhi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Rasulullah saw bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;إنّمَا الأَعْمَالُ بالنِّيّاتِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Sesungguhnya amal itu ditentukan oleh niatnya.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; (HR.Bukhari)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Namun demikian para ulama berbeda pendapat tentang pelaksanaan niat dalam ibadah puasa. Abdullah bin Umar, Jabin bin Zaid dari kalangan sahabat, Malik, al-Laits dan Ibnu Abi Zi’bin berpendapat bahwa niat puasa baik yang wajib dan sunnah adalah di malam hari mulai dari pasca terbenamnya matahari hingga sebelum terbitnya fajar. Abu Hanifah. Syafi’I, Ahmad berpendapat bahwa wajib berniat di malam hari untuk puasa wajib (puasa Ramadlan, nadzar dan kaffarat) sementara puasa sunnah tidak wajib di malam hari dan boleh di siang hari. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Pendapat ini adalah yang rajih dengan dalil:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ حَفْصَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Hafsah istri Rasulullah saw dari Rasulullah saw beliau bersabda: “Barangsiapa yang tidak berniat sebelum fajar maka tidak ada puasa atasnya.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; (HR. Ibnu Khuzaimah dan ia menshahihkannya demikian pula dengan al-A’dzamy)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Hadits ini berlaku umum baik puasa wajib ataupan sunnah. Namun terdapat riwayat lain yang menjelaskan bahwa Rasulullah berniat puasa setelah terbit fajar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ فَقُلْنَا لَا قَالَ فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ فَقَالَ أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا فَأَكَل&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Aisyah Ummul Mu’minin ia berkata: pada suatu hari Nabi saw masuk menemui saya&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dan berkata: “Apakah engkau memiliki sesuatu?” Kami berkata: “Tidak ada.” Beliau lalu bersabda: “(kalau begitu) saya berpuasa.” Kemudian di hari lain beliau mendatangi kami dan kami berkata: “Ya Rasulullah saw kami diberi hadiah hais.” Ia lalu bersabda: “Perlihatkan kepadaku meski sejak pagi saya berpuasa.” Lalu beliau memakannya. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(HR. Muslim). Hais adalah makanan yang terbuat dari minyak samin dan keju yang kadang diganti dengan tepung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Konteks hadits di atas adalah puasa sunnah. Hal ini karena tidak mungkin bagi Rasulullah mencari makanan jika ia wajib berpuasa pada hari itu. Dengan demikian maka hadits sebelumnya telah ditakhsis oleh riwayat diatas sehingga puasa yang harus diniatkan sebelum fajar adalah puasa wajib sementara puasa sunnah dapat dilakukan setelah terbit fajar dengan catatan sebelumnya ia melakukan hal-hal yang membatalkan puasa yaitu makan, minum dan melakukan hubungan seksual.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Hal tersebut senada juga sejalan dengan sikap Ibnu Abbas &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا أَنَّهُ كَانَ يُصْبِحُ حَتَّى يُظْهِرَ ، ثُمَّ يَقُوْلُ : وَاللهِ لَقَدْ أَصْبَحْتُ وَمَا أُرِيْدُ الصَّوْمَ ، وَمَا أَكَلْتُ مِنْ طَعَامٍ وَلَا شَرَابٍ مُنْذُ الْيَوْمِ وَلَأَصُوْمَنَّ يَوْمِي هَذَا &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas r.a. ba&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;hwa beliau dari pagi sampai dzhur kemudian berkata: demi Allah saya tidak menginginkan puasa namun pada hari ini saya belum makan dan minum. Maka saya akan puasa pada hari ini. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(HR. at-Thahawy dalam kitab &lt;em&gt;Syarh Ma’ani al-Atsar&lt;/em&gt;) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Meski hadits di atas merupakan atsar sahabat sehingga tidak dapat dijadikan dalil namun ia adalah hukum syara’ yang boleh diadopsi apalagi tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa hal tersebut telah ditentang oleh sahabat yang lain. Riwayat tersebut juga menyatakan bahwa niat puasa dapat dilakukan meski telah masuk waktu dhuhur selama sebelumnya belum makan dan minum. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Niat dalam puasa Ramadhan wajib ditunaikan setiap hari karena ibadah tersebut adalah berdiri sendiri yang waktunya mulai dari terbit fajar dan berakhir ketika matahari terbenam. Puasa hari ini tidak rusak karena rusaknya puasa sebelum dan setelahnya. Dengan demikian niat tidak cukup hanya dengan niat berpuasa sebulan penuh namun harus ditunaikan setiap malam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Menahan diri dari yang membatalkan puasa&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Orang yang berpuasa wajib menahan diri dari makan dan minum serta memasukkan sesuatu ke dalam rongga otaknya &lt;em&gt;(dimagh)&lt;/em&gt; seperti memasukkan air lewat hidung dan telinga. Allah swt berfirman: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Dan makan dan minumlah hingga jelas bagi kalian antara benang putih dan benang hitam dari fajar dan sempurnakanlah puasa kalian hingga malam.” (QS. Al-Baqarah: 187)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Rasulullah saw bersabda: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ عَاصِمِ بْنِ لَقِيطِ بْنِ صَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ لَقِيطِ بْنِ صَبْرَةَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِى عَنِ الْوُضُوءِ. قَالَ « أَسْبِغِ الْوُضُوءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ الأَصَابِعِ وَبَالِغْ فِى الاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ صَائِمًا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Ashi bin Laqith bin Shabrah dari Bapaknya ia berkata: Ya Rasulullah terangkanlah kepadaku tentang wudlu. Beliau bersabda: sempurnakanlah wudlu, silanglah bagian jari-jemari dan hiruplah air kuat-kuat kehidung kecuali engkau dalam keadaan puasa.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;(HR. Abu Daud. Al-Albany menshahihkan hads ini)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Ini merupakan &lt;em&gt;mafhum mubalaghah&lt;/em&gt; agar orang yang berpuasa tidak menghisap air ke hidung dengan kuat sehingga air masuk ke rongga otak. Ini berarti memasukkan sesuatu ke rongga otak dalam keadaan berpuasa mengakibatkan batalnya puasa. Oleh karena itu makan, minum, menghirup sesuatu lewat hidung, meneteskan sesuatu ke telinga baik yang dimakan, diminum, seperti nasi, air, tembakau, atau yang biasa diteteskan ke hidung dan telinga membatalkan puasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Orang yang berpuasa juga dilarang untuk melakukan hubungan seks baik mengeluarkan sperma atau tidak. Firman Allah swt:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Maka sekarang gaulilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah atas kalian dan makan dan minumlah hingga jelas benang putih atas benang hitam dari fajar.” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;(QS. Al- Baqarah [2] : 187)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Ayat tersebut menjelaskan bahwa dimalam hari diperbolehkan untuk menjima’ istri hingga terbit fajar. &lt;em&gt;Mafhum mukhalafah&lt;/em&gt; ayat ini &lt;em&gt;(mafhum al-ghayah)&lt;/em&gt; adalah setelah fajar maka kalian tidak boleh menjima’ mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Demikian pula bersenang-senang dengan istri tanpa jima’ pada saat berpuasa maka puasanya tetap sah. Hal ini didasarkan pada hadits riwayat :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ هَشِشْتُ فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْرًا عَظِيمًا قَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ. قَالَ&lt;span&gt; &lt;/span&gt;أَرَأَيْتَ لَوْ مَضْمَضْتَ مِنَ الْمَاءِ وَأَنْتَ صَائِمٌ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Jabir bin Abdullah berkata: Umar bin Khattab berkata: saya merasa …..maka saya mencium istri saya maka saya berkata: Ya Rasulullah hari saya membuat sesuatu yang besar sementara saya berpuasa. Beliau bersabda: bagaimana jika kamu berkumur dari air sementara kamu berpuasa?”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; (HR. Abu Daud. Al-Albany menshahihkan hadits ini)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Berkumur dalam keadaan berpuasa jelas tidak batal. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Namun jika sampai menelannya maka puasanya batal. Demikian pula dengan mencium istri dan aktivitas selain jima’, tidak membatalkan puasa. Sebagian ulama mengatakan bahwa mencium wanita sampai mengeluarkan air mani maka puasanya batal berdasarkan hadits di atas. Alasannya berkumur-kumur dapat menyebabkan air masuk ke tenggorokan demikian pula dengan mencium dapat menggerakkan syahwat. Namun pendapat tersebut ditolak oleh Uwaidhah karena takwilnya dianggap lemah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dengan demikian bersenang-senang dengan istri tanpa jima’ menurut beliau tidak membatalkan puasa.&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-iii/#_edn1" name="_ednref1"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[i]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Orang yang sengaja muntah ketika berpuasa juga membatalkan puasa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: مَنْ اسْتَقَاءَ عَامِدًا فَعَلَيْهِ القَضَاءَ وَمَنْ ذَرَعَهُ القَيْءُ فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: &lt;em&gt;“Barangsiapa yang muntah dengan sengaja maka hendaknya ia mengqadha puasanya dan barangsiapa yang muntah tanpa sengaja maka tidak ada qadla atasnya.&lt;/em&gt;” (HR. Ad- Daruqthny. Seluruh perawinya tsiqah)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Orang yang berpuasa kemudian melakukan hal-hal yang membatalkan puasa dalam keadaan lupa maka ia tidak wajib mengqadla puasanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: مَنْ أَفْطَرَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ وَ لَا كَفَّارَةَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Ummu Salamah dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: barangsiapa yang berbuka di bulan Ramadlan dalam keadaan lupa maka tidak ada qadha dan kaffarat. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(HR. Ibnu Hibban. Menurut al-Arnauth sanad hadits ini hasan)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Orang-orang yang tidak wajib berpuasa&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;a. Musafir&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Orang yang sedang melakukan perjalanan diperbolehkan untuk tidak berpuasa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها أَنَّهَا قَالَتْ سَأَلَ حَمْزَةُ بْنُ عَمْرٍو الأَسْلَمِىُّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الصِّيَامِ فِى السَّفَرِ فَقَالَ إِنْ شِئْتَ فَصُمْ وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Aisyah r.a. ia berkata: Hamzah bin ‘Amr al-Aslamy bertanya kepada Rasulullah tentang puasa dalam perjalanan maka belia bersabda: Jika engkau mau berpuasalah dan jika engkau mau berbukalah.” (HR. Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Para ulama berbeda pendapat tentang manakah yang lebih utama apakah berpuasa atau berbuka di dalam perjalanan. Namun menurut Ali Raghib jika ia tidak merasa berat berpuasa dalam perjalanan maka lebih utama baginya untuk berpuasa. Allah swt berfirman:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Maka barangsiapa diantara kalian yang sakit atau dalam perjalanan maka hendaklah ia menggantinya di hari lain dan orang-orang yang merasa berat maka hendaklah mereka membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin dan barangsiapa yang melebihkan kebaikan maka itu adalah kebaikana baginya dan berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;.” (QS. al-Baqarah: 184)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Namun jika dengan berpuasa membuat dirinya kesulitan maka lebih utama baginya berbuka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى نَاسًا مُجْتَمِعِينَ عَلَى رَجُلٍ فَسَأَلَ فَقَالُوا رَجُلٌ أَجْهَدَهُ الصَّوْمُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصِّيَامُ فِي السَّفَرِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah saw melihat orang-orang berkumpul pada seseorang. Beliau lalu bertanya, maka orang-orang menjawab bahwa orang tersebut merasa berat dengan puasanya maka Rasulullah saw bersabda: bukanlah bagian dari kebaikan berpuasa dalam perjalanan.” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(HR. an-Nasai dan al-Albany mensahihkannya)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;b. Orang Sakit &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Bagi orang yang sakit yang masih diharapkan untuk sembuh maka ia diperkenankan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain. Adapun jika sakitnya diperkirakan sulit untuk sembuh maka ia diberi keringanan untuk tidak berpuasa dan menggantinya dengan fidyah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Allah swt berfirman:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Dan Allah tidak menjadikan bagi kalian kesulitan dalam agama ini.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(QS. Al-Haj: 78)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Dan orang-orang yang tidak mampu melakukannya maka mereka harus mengeluarkan fidyah dengan memberi makan orang-orang miskin.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;c. Orang Tua&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Orang yang lanjut usia yang merasa berat untuk berpuasa juga diberi keringanan untuk tidak berpuasa dan menggantinya dengan membayar fidyah. Dalilnya firman Allah swt:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Dan orang-orang yang tidak mampu melakukannya maka mereka harus mengeluarkan fidyah dengan memberi makan orang-orang miskin.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; (al-Baqarah: 184).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Ibnu Abbas berkata tentang ayat (&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;وَعَلَى الذين يُطِيقُونَهُ&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;) &lt;em&gt;“yakni fidyah dimana mereka yang tidak mampu berpuasa yakni orang tua dan orang yang lemah yang tua dan tidak mampu berpuasa maka atas mereka membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin …”&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-iii/#_edn2" name="_ednref2"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[ii]&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;d. Orang hamil dan menyusui&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Bagi wanita hamil dan menyusui maka mereka mendapatkan rukhsah untuk tidak berpuasa sebagaimana halnya seorang musafir namun mereka wajib mengqadla puasa yang mereka tinggalkan di hari lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عن أنس بن مالك- رجل من بني عبد الله بن كعب إخوة بني قُشَيْرٍ - قال:أغارت علينا خَيْل لرسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فانتهيت- أو فانطلقت- إلى رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وهو يأكل، فقال:” اجلس فأصب من طعامنا هذا “. فقلت: إني صائم!. قال: ” اجلس أُحَدثكَ عن الصلاة وعن الصيام: إن الله تعالى وضع شَطْرَ الصلاةِ- أو نصفَ الصلاة- والصومَ عن المسافر وعن المرضع والحُبْلَى “؛ والله! لقد قالهما جميعاً أو أحدهما. قال: فتَلَهفَتْ نَفْسِي أن لا أكونَ أكلتُ من طعام رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Anas bin Malik bahwa seseorang dari Abdullah bin Ka’ab saudara Bani Qusyair berkata: kami mencari kuda Rasulullah saw lalu saya pergi menemui Rasulullah saw sementara beliau sedang makan. Beliau bersabda kepadaku: duduklah dan makan makanan kami. Saya berkata: saya sedang berpuasa. Duduklah saya akan memberitahukan engkau tentang shalat dan puasa. Sesungguhnya Allah telah meletakkan separuh shalat dan puasa orang yang dalam perjalanan, orang menyusui dan orang hamil. Demi Allah Ia telah mengatakan semuanya atau salah satunya. Ia berkata: maka saya menyesal tidak memakan makanan Rasulullah saw. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(HR. Tirmidzy dan menurutnya hadits ini hasan, sementara Ibnu Khuzaimah menshahihkannya)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari hadits tersebut Rasulullah saw menjelasakan bahwa musafir, orang hamil dan orang yang menyusui dapat meninggalkan puasa. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Adapun pendapat yang mengatakan bahwa rukhsah bagi orang yang hamil dan menyusui hanya berlaku jika dikhawatirkan membahayakan ibu dan atau anaknya mendasarkan pendapat mereka pada hadits:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ رَخَّصَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْحُبْلَى الَّتِي تَخَافُ عَلَى نَفْسِهَا أَنْ تُفْطِرَ وَلِلْمُرْضِعِ الَّتِي تَخَافُ عَلَى وَلَدِهَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Namun demikian hadits ini menurut al-Albany dhaif. Hadits ini diriwayatkan oleh Rabi’ bin Badar yang didhaifkan oleh Ibnu Hibban. Dengan demikian hadits ini tidak dapat digunakan untuk mentakhsis keumuman hadits pertama. Oleh&lt;em&gt; &lt;/em&gt;karena itu wanita hamil dan menyusui baik ia khawatir atas diri dan anaknya, atau anaknya saja atau tidak khawatir maka ia boleh tidak berpuasa secara mutlak. Adapun kewajiban untuk mengganti puasa dihari lain maka dalilnya adalah karena puasa merupakan kewajiban yang harus ditunaikan. Namun karena mereka diperbolehkan berbuka karena ada udzur maka menjadi utang yang harus ditunaikan dihari lain. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Sabda Rasulullah saw: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهما - قَالَ جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ نَذْرٍ أَفَأَصُومُ عَنْهَا قَالَ: أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ فَقَضَيْتِيهِ أَكَانَ يُؤَدِّى ذَلِكِ عَنْهَا. قَالَتْ نَعَمْ. قَالَ: فَصُومِى عَنْ أُمِّكِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata: seorang wanita datang kepada Rasulullah saw dan berkata: Wahai Rasulullah ibu saya telah meninggal sementara dia memiliki kewajiban untuk berpuasa nadzar, maka apakah saya harus berpuasa untuknya. Rasul bertanya: apakah jika ibumu memiliki utang lalu engkau membayarnya apakah itu dapat menebusnya? Wanita itu menjawab: iya. Lalu Rasul bersabda: maka berpuasalah untuk ibumu.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; (HR. Bukhari Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Orang yang hamil dan menyusui juga tidak diwajibkan membayar fidyah karena tidak ada dalil yang memerintahkan keduanya untuk melakukan hal tersebut.&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-iii/#_edn3" name="_ednref3"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[iii]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;e. Haid dan Nifas&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Keluarnya haid dan nifas merupakan salah satu yang membatalkan puasa. Oleh karena itu wanita yang mengalami haid dan nifas tidak diwajibkan untuk berpuasa di bulan Ramadlan namun wajib mengganti di hari lain ketika ia telah suci. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Berbeda halnya dengan shalat, maka wanita yang haid tidak diperintahkan untuk mengqada’ shalat mereka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;أَلَيْسَ إِذا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ: بَلى، قَالَ: فَذَلِكَ مِنْ نُقْصانِ دِينِها&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Bukankah jika wanita itu haid ia tidak shalat dan tidak puasa? Mereka menjawab betul. Beliau bersabda: demikianlah bentuk kekurangan agama mereka.” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(HR. Bukhari)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ مُعَاذَةَ قَالَتْ سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِى الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِى الصَّلاَةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّى أَسْأَلُ. قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Muadzah ia bertaka: saya bertanya kepada Rasulullah saw: mengapa orang yang haid wajib mengqadla puasanya sementara ia tidak wajib mengqadha shalatnya. Ia balik bertanya: apakah engkau seorang Haruriyyah? Saya menjawab: bukan namun saya bertanya. Ia berkata: kami telah mendapati haidh lalu kami diperintahkan untuk mengqadla puasa namun tidak diperintahkan untuk mengqadla shalat.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; (HR. Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Wanita yang haid dan nifas tidak melaksanakan puasa hingga darah berhenti mengalir dari diri mereka. Jika darahnya berhenti maka ia tidak lagi dikategorikan sebagai orang yang haid dan nifas sehingga wajib menunaikan puasa pada saat itu. Oleh karena itu jika seorang wanita berhenti haid atau nifas sebelum fajar namun ia belum sempat mandi maka ia wajib berpuasa. Hal ini karena syarat wajib berpuasa adalah suci dari haid dan nifas bukan bersuci dari keduanya. Namun demikian ia tetap wajib untuk mandi setelah masa haid dan nifas tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Puasa Orang Junub &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Hal yang sama juga berlaku bagi orang yang junub. Jika ia junub karena telah melakukan hubungan seks, mimpi atau sebab lain dan masuk waktu fajar sementara ia belum bersuci maka maka ia wajib untuk berpuasa dan tidak boleh mengqadha puasanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ أَبي بَكْرٍ أَنَّ مَرْوَانَ أَرْسَلَهُ إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا يَسْأَلُ عَنِ الرَّجُلِ يُصْبِحُ جُنُبًا أَيَصُومُ فَقَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ لاَ مِنْ حُلُمٍ ثُمَّ لاَ يُفْطِرُ وَلاَ يَقْضِى.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Abu Bakar bahwa ia telah diutus oleh Marwan menemui Ummu Salamah r.a. untuk bertanya tentang pria yang masuk waktu subuh dalam keadaaan junub apakah ia berpuasa. Ia menjawab: Rasulullah saw masuk diwaktu Subuh dalam keadaan junub karena jima bukan karena mimpu dan beliau tidak berbuka atau mengqadla puasanya.” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(HR. Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ عَائِشَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ زَوْجَيِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم , رَضِيَ الله عَنْهُمَا , أَنَّهُمَا قَالَتَا : كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم يُصْبِحُ جُنُبًا فِي رَمَضَانَ مِنْ جِمَاعِ غَيْرِ احْتِلاَمٍ ثُمَّ يَصُومُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Aisyah dan Ummu Salamah istri Nabi saw r.a. berkata: Rasulullah saw berada di waktu subuh dalam keadaan junub di bulan Ramadlan karena jima’ bukan karena mimpu kemudian beliau berpuasa.” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(HR. Ibnu Hibban. Menurut al-Arnauth sanadnya sahih berdasarkan syarat Bukhari-Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Berbuka tanpa udzur&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Ibadah puasa merupakan satu satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh mereka yang telah akil balilg dan tidak ada udzur syari yang meringankin dirinya untuk tidak berpuasa seperti dalam dalam perjalanan, sakit atau lanjut usia. Jika seseorang meninggalkan puasa secara sengaja maka ia akan mendapatkan azab yang pedih di akhirat kelak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ أَبِي&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَقُولُ: بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِى رَجُلاَنِ فَأَخَذَا بِضَبْعَىَّ فَأَتَيَا بِى جَبَلاً وَعْرًا فَقَالاَ لِىَ : اصْعَدْ فَقُلْتُ : إِنِّى لاَ أُطِيقُهُ فَقَالاَ : إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ فَصَعِدْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِى سَوَاءِ الْجَبَلِ إِذَا أَنَا بَأَصْوَاتٍ شَدِيدَةٍ فَقُلْتُ : مَا هَذِهِ الأَصْوَاتُ قَالُوا : هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ ، ثُمَّ انْطُلِقَ بِى فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ قُلْتُ : مَنْ هَؤُلاَءِ قَالَ : هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Abu Umamah al-Bahily ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Ketika saya tidur tiba-tiba saya didatangi oleh dua orang lalu menarik lengan saya dan membawa saya ke gunung yang berbenjol-benjol dan berkata kepada saya: “Naiklah.” Maka saya berkata: “Saya tidak mampu lalu mereka berkata lag:i”Kami akan memudahkan engkau.” lalu saya pun naik hingga saya berada di puncak gunung tersebut. Tiba-tiba saya mendengar suara yang keras maka saya bertanya: “Suara apakah itu? Mereka mnjawab: “Itu jeritan penduduk neraka.” Saya kemudian dibawa satu kaum yang digantung dengan urat di atas tumit belakang mereka sementara rahang mereka disobek-sobek sehingga mengeluarkan darah. Saya lalu bertanya:”Siapakah mereka?” Salah satu dari keduanya menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum sempurna puasa mereka.” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(HR. an-Nasai, Ibnu Hibban, al-Baihaqy. Alhakim mensahihkan hadits ini dan disetujui oleh ad-Dzahaby)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;!--[if !supportEndnotes]--&gt; &lt;hr size="1" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt; &lt;div id="edn1"&gt; &lt;div class="MsoEndnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-iii/#_ednref1" name="_edn1"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[i]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mahmud Latif ‘Uwaidhah, &lt;em&gt;al- Jâmi li ahkâm as-Shiyâm&lt;/em&gt;, hlm. 234&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn2"&gt; &lt;div class="MsoEndnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-iii/#_ednref2" name="_edn2"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[ii]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Ibnu Abbas, &lt;em&gt;Tafsir Ibnu Abbas&lt;/em&gt; hlm. 28&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn3"&gt; &lt;div class="MsoEndnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-iii/#_ednref3" name="_edn3"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[iii]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Ali Raghib, &lt;em&gt;Ahkâmu as-Shalâh&lt;/em&gt;, hlm. 57&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3493988676080638915-7368056468452502195?l=hilyathasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hilyathasan.blogspot.com/feeds/7368056468452502195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3493988676080638915&amp;postID=7368056468452502195&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/7368056468452502195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/7368056468452502195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hilyathasan.blogspot.com/2010/07/hukum-hukum-seputar-puasa-iii.html' title='Hukum-Hukum Seputar Puasa (III)'/><author><name>Hilyat Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04153284808943762507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/SoiPx06Vm7I/AAAAAAAAADU/BEKY3rsSXO8/S220/Image0112.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3493988676080638915.post-8585823609361260217</id><published>2010-07-31T04:49:00.000+07:00</published><updated>2010-07-31T04:49:42.444+07:00</updated><title type='text'>Hukum-Hukum Seputar Puasa (II)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Penentuan Awal dan Akhir Ramadlan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-ii/#_edn1" name="_ednref1"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Jumhur ulama berpendapat bahwa kesaksian melihat hilal bulan Ramadlan yakni permulaan bulan Ramadlan cukup satu orang. Jika disaksikan oleh seorang muslim yang adil bahwa ia telah melihat hilal Ramadlan maka seluruh kaum muslim wajib untuk berpuasa. Dari Ibnu Abbas r.a. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;جَاءَ أَعْرَابِيُّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَالَ : أَبْصَرْتُ الهِلاَلَ اللَّيْلَةَ فَقَالَ : أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ ؟ قَالَ : نَعَمْ قَالَ : قُمْ يَا فُلَانُ فَأَذِّنْ بِالنَّاسِ فَلْيَصُوْمُوْا غَدًا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Seorang orab datang kepada Rasulullah saw dan berkata: saya telah melihat hilal malam ini. Maka Rasul berkata kepadanya: “Apakah engkau berasaksi bahwa tiada tuhan selaian Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya?” Ia menjawab: “iya.” Rasul kemudian bersabda: “Berdirilah wahai Fulan dan serukan kepada manusia agar mereka berpuasa besok.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; (HR. Ibnu Khuzaimah. Al-A’dzamy menshahihkannya) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلَالَ، فَأَخْبَرْت رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي رَأَيْته، فَصَامَ، وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Ibnu Umar r.a. ia berkata: orang-orang melihat hilal lalu saya menginformasikan hal tersebut kepada Rasulullah saw bahwa saya telah melihatnya maka ia berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; (HR. Al-Hakim, Ibnu Hibban dan mereka menshahihkannya)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dengan demikian kesaksian seorang muslim yang adil bahwa ia telah melihat hilal telah cukup untuk menjadi dasar bagi seluruh kaum muslim untuk berpuasa. Hal yang sama juga berlaku dalam mengakhiri puasa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النََبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْبَحَ صَائِمًا لِتَمَامِ الثَّلاَثِيْنَ مِنْ رَمَضَانَ فَجَاءَ أَعْرَابِيَّانِ فَشَهِدَا أَنْ لَا إِلهَ إَلَّا اللهُ وَإِنَّهُمَا أَهْلَاهُ بِالأَمْسِ فَأَمَرَهُمْ فَأَفْطِرُوْا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari seorang sahabat Nabi saw ia berkata: “Bahwa Nabi saw di suatu pagi berpuasa untuk menyempurnakan 30 hari Ramadlan. Lalu datang dua orang Arab yang bersaksi bahwa bahwa tiada tuhan selain Allah dan keduanya telah melihat hilal kemarin maka Rasul memerintahkan orang-orang untuk berbuka.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; (HR. ad-Daruqthny dan ia menshahihkannya)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رضى اللهُ عَنْهُ يَقُوْلُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt; صُُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمِّىَ عَلَيْكُمُ الشَّهْرُ فَعُدُّوا ثَلاَثِينَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Muhammad bin Ziyad berkata saya mendengar Abu Hurairah berkata: “Rasulullah saw bersabda: berpuasalah karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya dan jika bulan tertutup awal awan maka sempurnakanlah 30 hari.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;” (HR. Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Pada hadits di atas Rasul menegaskan bahwa mengawali dan mengakhiri puasa ditentukan dari terlihatnya hilal. Sementara lafadz ‘melihat’ pada hadits berbentuk umum karena terdiri dari isim yang didhafahkan, sehingga mencakup penglihatan satu orang atau lebih. Adapun adanya dua orang Arab yang menyaksikan bahwa telah terlihat hilal Syawal maka hal tersebut merupakan gambaran terhadap realitas dan tidak menunjukkan bahwa jika dilihat oleh satu orang maka tidak diterima.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Penggunaan Metode Hisab Falak&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Jumhur ulama berpendapat bahwa hisab falak tidak dapat dijadikan sebagai landasan untuk menetapkan awal akhir Ramadlan. Alasannya jika manusia dibebankan untuk menggunakan hal tersebut maka akan membuat mereka kesulitan karena ilmu tidak diketahui kecuali oleh sekelompok orang sementara syara memerintahkan seseuatu yang diketahui oleh mayoritas dari mereka. Ibnu Surraij dikatakan sebagai salah satu ulama yang membolehkan menggunakan metode tersebut bagi orang-orang yang memiliki ilmu tersebut. Sabda Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;( فَاقْدُرُوْا لَهُ )&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; merupakan seruan kepada orang yang menguasai ilmu tersebut sementara hadits &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(فَأَكْمِلُوْا العِدَّةَ)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;merupakan seruan untuk seluruh ummat Islam. Pernyataan tersebut juga dinisbahkan kepada Ibnu Abdillah dan Ibnu Qutaibah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Namun demikian kalimat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;( فَاقْدُرُوْا لَهُ )&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;tidaklah berarti sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Surraij. &lt;em&gt;Pertama:&lt;/em&gt; perintah berpuasa dan berbuka dengan melihat hilal adalah perintah yang bersifat umum.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ وَلاَ تُفْطُرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda: bulan itu 29 hari. Jangalah kalian berpuasa hingga melihatnya dan janganlah kalian berbuka hingga kalian melihatnya dan jika kalian terhalang melihatnya maka perkirakanlah.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; (HR. Bukhari Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Hadits tersebut diserukan kepada seluruh ummat Islam baik melihat hilal, berpuasa, berbuka dan memperkirakannya. Jadi tidak ada pengkhususan untuk melakukan perkiraan yang khusus bagi orang yang memiliki ilmu falak saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;, sebagaimana diketahui bahwa hadits saling menafsirkan antara satu dengan yang lain. Terdapat sejumlah hadits yang menjelasakan bahwa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;( فَاقْدُرُوْا لَهُ )&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; tidaklah sebagaimana yang difahami oleh Ibnu Surraij antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله، قَالَ: قَالَ النَّبَيُّ صلى الله عليه وسلم، أَوْ قَالَ: قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صلى الله عليه وسلم صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Abu Hurairah ia berkata Rasulullah saw atau Abu Qasim bersabda: berpuasalah karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya dan jika kalian terhalangi melihatnya maka sempurnakanlah perhitungan bulan Sya’ban 30 hari.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; (HR. Bukhari, Muslim, Nasai, Ibnu Hibban)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَيْتُمُ الْهِلاَلَ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَصُومُوا ثَلاَثِينَ يَوْمًا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Jika kalian meliat hilal maka berpuasalah dan jika kalian melihatnya maka berbukalah dan jika kalian terhalangi melihatnya maka berpuasalah 30 hari.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; (HR. Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dengan demikian jelas bahwa maksud &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;( فَاقْدُرُوْا لَهُ )&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; adalah hitung dan sempurnakan menjadi 30 hari.&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-ii/#_edn2" name="_ednref2"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Hal ini tentu dapat dilakukan oleh semua orang tanpa membutuhkan adanya keahlian khusus. Bahkan terdapat sebuah hadits yang dengan jelas menyatakan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal dan janganlah kalian berbuka karena melihatnya….&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Hadits tersebut menyatakan bahwa perintah berpuasa tidak hanya terlebih dahulu&lt;span&gt; &lt;/span&gt;melihat hilal namun juga berisi larangan untuk tidak berpuasa hingga melihatnya. Oleh karena itu penentuan puasa hanya berdasarkan hisab falak jelas bertentangan dengan hadits tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Namun demikian perlu ditegaskan bahwa bukan berarti pemanfaatan ilmu falak tidak boleh dan tidak dibutuhkan. Penjelasan di atas hanya ingin menyatakan bahwa hisab falak bukan penentu untuk memulai awal dan akhir Ramadlan karena syara’ telah menegaskan bahwa memulai dan mengakhiri puasa Ramadlan harus dengan melihat hilal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Peran hisab falak saat ini sangat penting dalam memberikan petunjuk kapan waktu yang tepat untuk melihat hilal sehingga memudahkan bagi orang yang bermaksud menyaksikannya. Demikian pula keberadaan alat-alat yang dapat membantu memperbesar dan memperdekat jarak objek ketika mengintai munculnya hilal adalah hal yang mubah untuk digunakan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Memang metode hisab falak sangat akurat dalam menentukan awal dan akhir bulan hingga hitungan menit dan detik bahkan yang terjadi beberapa tahun yang akan datang sehingg peluang kesalahan dalam penetapan puasa sangat kecil. Meski demikian perlu difahami bahwa Allah swt tidak memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya dengan tingkat kebenaran yang pasti. Jika demikian maka tentu akan menyulitkan kaum muslim. Ia hanya memerintahkan kita untuk menyembahnya berdasarkan pendapat yang dianggap paling benar. Jika pendapat tersebut benar secara pasti maka demikianlah, namun jika salah maka ia tetap diterima dan mendapatkan pahala serta telah bebas dari hisab. Ibadah dalam Islam tidaklah dilakukan dengan dengan pendekatan hisab dan keilmuan. Ia adalah hukum syara’ yang diperintahkan kepada kaum muslim untuk diikuti bersarkan pemahaman&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dan ijtihad mereka. Dengan cara tersebut Allah swt menerima apa yang mereka lakukan baik yang mendapatkan benar ataupun salah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Syara’ telah menetapkan tata cara pelaksanaan ibadah puasa beserta metode untuk memulai dan mengakhirinya yakni dengan melihat hilal Ramadlan dan hilal Syawal dengan pandangan mata. Jika memang hisab merupakan metode maka tentu telah digunakan oleh Rasulullah dan para Sahabat namun yang terjadi justru sebaliknya metode tersebut diabaikan oleh beliau. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar dari Nabi saw bersabda: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عن بْن عُمَرَ رضى الله عنهما يُحَدِّثُ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا وَعَقَدَ الإِبْهَامَ فِى الثَّالِثَةِ وَالشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا. يَعْنِى تَمَامَ ثَلاَثِينَ.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Ibnu Umar r.a. ia mencerikatan dari Nabi saw berkata: “Kami adalah ummat yang ummi, tidak dapat menulis dan memperkirakan bulan. Bulan itu begini, begini dan begini—beliau menekuk telunjuknya yang ketiga—dan bulan itu begini, begini dan begini yakni disempurnakan 30 hari.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; (HR. Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Padahal Islam adalah agama yang sempurna sehingga ia tidak memerlukan ilmu baru atau kesimpulan-kesimpulan yang bersumber dari akal dalam mensyariatkan hukum berserta metodenya. Meski demikian hal tersebut boleh digunakan hanya sebagai sarana, uslub dan alat selama ia tidak menggantikan peranan hukum syara dan metodenya serta tidak mengubah hukum dan metodenya sedikitpun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Lalu mengapa dalam masalah puasa kita tidak dapat menggunakan hisab namun boleh igunakan untuk menetapkan waktu shalat? Jawabannya adalah karena metode penetapan pelaksanaan puasa dan haji telah ditetapkan oleh syara’. Untuk puasa sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya sementara untuk haji didasarkan pada hadits berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَارِثِ الْجَدَلِيُّ مِنْ جَدِيلَةَ قَيْسٍ أَنَّ أَمِيرَ مَكَّةَ خَطَبَ ثُمَّ قَالَ عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Abu Malik al-Asyja’iy, Husain bin Harits al-Jadaly dari Jadilah Qais menceritakan kami bahwa amir Makkah berkhutbah kemudian berkata. Rasulullah saw telah menetapkan atas kami agar kami melaksanakan ibadah haji berdasarkan ru’yat. Namun jika kami tidak melihatnya namun disaksikan oleh seorang saksi yang adil maka kami melaksanakan ibadah haji berdasarkan kesaksian tersebut. (HR. Ad-Daruqthny dan ia menshahihkannya).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Sementara itu syara tidak menetapkan metode penetapan waktu pelaksanaan shalat. Syara’ hanya menjelaskan tanda-tanda yang menunjukkan masuknya waktu masing-masing shalat sehingga kita menggunakan tanda-tanda tersebut untuk menetapkan kapan waktu-waktu tersebut. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Metode penetapan waktu puasa dan haji tidak dapat diqiyaskan dengan metode penetapan shalat karena dalam masalah ibadah qiyas tidak dapat diberlakukan kecuali memang terdapat dalil yang mengandung illat dalam masalah tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dengan demikian&lt;em&gt; &lt;/em&gt;penggunaan hisab falak tidak dapat dijadikan sebagai metode untuk menggantikan metode yang telah ditetapkan oleh syara yakni melihat dengan mata. Allah menghisab kita terhadap apa yang kita ketahui dan bukan yang tersembunya atas kita. Kita berpuasa dan berbuka dengan pandangan mata baik kita benar ataupun salah karena syara’ telah memerintahkan kita dengan cara tersebut. Namun sekali lagi ditekankan bahwa hisab falak tetap boleh digunakan sebagai alat bantu untuk mempermudah pelaksanaan rukyat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Perbedaan Matla’&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Para ulama berbeda pendapat apakah terlihatnya hilal di satu negeri juga berlaku bagi negeri lain. Ikrimah, Qasim bin Muhammad, Salim bin Abdullah bin Abdullah bin Umar dan Ishak bin Rahuwaih berpendapat bahwa penduduk satu negeri tidak wajib berpuasa karena telah terlihatnya hilal di negari yang lain sebagaimana yang dituturkan oleh at-Tirmidzy. Hal yang sama juga dinukil oleh al-Mawardy dari madzhab as-Syafii.&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-ii/#_edn3" name="_ednref3"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Abu Hanifah, Malik, Laits bin Sa’ad berpendapat bahwa jika hilal telah terlihat di satu negeri maka ia berlaku untuk seluruh negeri untuk berpuasa. Ibn Mundzir telah menukil hal tersebut dari banyak ulama termasuk dari sebagian ulama Syafii. Ibnu Qudamah menyatakan:&lt;em&gt; “Jika hilal telah terlihat di satu negeri maka ia berlaku untuk negeri yang lain&lt;/em&gt;.”&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-ii/#_edn4" name="_ednref4"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Al-Qurthuby dalam kitab al-Istidzkar menyatakan: para ulama berbeda mengenai hukum terlihatnya hilal Ramadlan atau Syawal oleh suatu negeri sementara tidak bagi yang lain. Malik sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Qasim, orang-orang Mesir berpendapat jika telah ditetapkan bahwa penduduk suatu negeri telah melihat hilal maka penduduk yang lain wajib mengqadla puasa dihari mereka tidak berpuasa pada hari lain. Pendapat ini merupakan pendapat al-Laits, as-Syafii, penduduk Kufah dan Ahmad.&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-ii/#_edn5" name="_ednref5"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Sementara itu ulama syafii sendiri yang berpendapat bahwa terlihatnya hilal di satu negeri tidak berlaku di negeri lain, berbeda pendapat tentang detail masalah tersebut. Diantara mereka ada yang berpendapat: jika kedua negeri tersebut berdekatan maka maka dihukumi satu negeri namun jika jarak keduanya jauh maka-yang paling kuat menurut Syekh Abu Hamid, Syekh Abu Ishak, Al Ghazaly dan kebanyakan dari mereka—tidak wajib berpuasa atas penduduk negeri lain yang tidak melihatnya. Pendapat yang lain menyatakan: ia wajib berpuasa sebagaimana yang dinyatakan oleh Abu Thayyib, ar-Rawyani. Ibnu Mundzir berkata: “Ia adalah madzhab yang dhahir dan dipilih oleh seluruh sahabat kami dan al-Baghawy juga mengutip hal tersebut dari imam as-Syafii sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Mereka juga berbeda pendapat dalam masalah batasan dekat dan jauh. Ada yang berpendapat jarak yang berjauhan itu adalah adanya perbedaan matla’ seperti Hijaz, Irak dan Khurasan. Dan yang saling berdekatan seperti Baghdad, Kufah, dan Ray. Ada pula yang berpendapat: ditentukan berdasarkan persamaan dan perbedaan daerahnya sementara yang lain tidak perlu ditentukan dengan hal tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Mereka yang berpendapat tentang perbedaan matla’ yakni orang yang telah melihat hilal di satu negeri tidak berlaku bagi negeri lain mendasarkan pendapat mereka pada hadits yang diriwayatkan oleh Kuraib.&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-ii/#_edn6" name="_ednref6"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ كُرَيْبٍ أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَىَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الْهِلاَلَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِى آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلاَلَ فَقَالَ مَتَى رَأَيْتُمُ الْهِلاَلَ فَقُلْتُ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ. فَقَالَ أَنْتَ رَأَيْتَهُ فَقُلْتُ نَعَمْ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ. فَقَالَ لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاَثِينَ أَوْ نَرَاهُ. فَقُلْتُ أَوَلاَ تَكْتَفِى بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ فَقَالَ لاَ هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Kuraib bahwa Ummu Fadhli binti al-Harits telah mengutusnya kepada Muawiyah di Syam ia berkata: “Saya tiba di Syam lalu menuniakan hajatnya dan di malam hari nampak pada saya hilal Ramadlan sementara saat itu saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam Jumat kemudian saya tiba di Madinah di akhir bulan lalu Ibnu Abbas bertanya kepada saya kemudian ia menyebut hilal dan berkata kapan engkau melihat hilal? Saya menjawab: “Kami melihatnya malam Jumat.” Ia bertanya lagi: “Engkau melihatnya?” Saya menjawab: “Betul dan orang-orang juga melihatnya lalu mereka berpuasa sebagaimana halnya Muawiyah.” Ia berkata: “Akan tetapi kami melihatnya&lt;span&gt; &lt;/span&gt;malam Sabtu lalu kami berpuasa hingga menyempurnakannya 30 hari atau kami melihatnya.” Saya bertanya: “Apakah tidak cukup dengan penglihatan Muawiyah dan puasanya? Ia berkata: “Tidak, demikianlah Rasulullah saw memerintahkan kami.” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;(HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzy dan Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Menurut penganut pendapat pertama riwayat di atas menujukkan bahwa sikap Ibnu Abbas r.a. yang tidak menjadikan penglihatan penduduk Syam merupakan ketetapan yang berasal dari Nabi saw. Dengan kata lain pendapat Ibnu Abbas yang menolak pernyataan &lt;em&gt;“apakah kita tidak mencukupkan penglihatan Muawiyah dan puasanya?”&lt;/em&gt; dengan ucapan: &lt;em&gt;“tidak demikianlah yang diperintahkan Rasulullah saw kepada kita,”&lt;/em&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;menunjukkan bahwa Rasulullah saw telah memerintahkan kaum muslim untuk tidak mengambil penglihatan orang-orang yang berada di negeri lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Pemahaman tersebut perlu didiskusikan. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, perlu dibedakan antara perintah Nabi saw. dengan pemahaman Ibnu Abbas terhadap perintah Nabi saw. Jika memang terdapat perintah dari Nabi saw maka itu adalah dalil syara’ yang wajib dijadikan sandaran. Namun hal tersebut merupakan hasil pemahaman seorang sahabat maka statusnya adalah ijtihad sebagaimana halnya hasil mujtahid lain yang merupakan hukum syara’ yang dapat diikuti atau ditinggalkan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; Ibnu Abbas telah mendengar sabda Rasulullah saw &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;( صُوْمُوا لِرُؤْيَتِهِ) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ )&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;dan memahami bahwa setiap masyarakat dari kaum muslim harus melihat hilal agar dapat berpuasa dan melihatnya lagi sehingga mereka berbuka. Sementara penglihatan selain masyarakat tersebut tidak cukup lalu ucapan beliau mengatakan &lt;em&gt;“demikianlah yang diperintahkan Rasul kepada kita.”&lt;/em&gt; Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ia merupakan hasil pemahaman Ibnu Abbas terhadap perintah Nabi saw di atas. Oleh karena itu yang harus dijadikan landasan adalah hadits yang berkaitan dengan &lt;em&gt;ru’yatul hilal&lt;/em&gt; yang salah satunya diriwayatkan oleh beliau bukan pemahaman beliau terhadap hadits tersebut&lt;em&gt;.&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-ii/#_edn7" name="_ednref7"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Adapun ulama yang menyatakan bahwa jika satu negeri telah melihat hilal maka ia berlaku untuk negeri yang lain untuk berpuasa, didasarkan pada sejumlah hadits yang memerintahkan untuk berpuasa dan berbuka karena melihat hilal. Mereka berpendapat bahwa terlihatnya hilal merupakan sebab terlaksananya puasa dan sebab terlaksananya berbuka. Jika terdapat sebab maka terdapat pula musabab yaitu puasa dan berbuka. Perkataan Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;( لِرُؤْيَتِهِ )&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; adalah isim jenis yang diidhafahkan sehingga ia termasuk lafadz umum. Demikian pula sabda beliau ‘hingga kalian melihatnya’ &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(حَتَّى تَرَوْا)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; , jika kalian melihatnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;( إذا رأيتم )&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; kata gantinya &lt;em&gt;(dhamir)&lt;/em&gt; adalah isim jama’. Isim jama’ merupakan lafadz umum sehingga berlaku umum bagi kaum muslim. Sehingga siapapun dari mereka yang telah melihatnya maka berlaku bagi seluruh kaum muslim yang lain sehingga mereka wajib berpuasa pada hari tersebut. Inilah pendapat yang benar terhadap hadits yang berkenaan dengan &lt;em&gt;ru’yatul hilal.&lt;/em&gt; Dengan demikian pendapat Ibnu Abbas yang dijadikan landasan pendapat pihak yang mengadopsi rukyat berdasarkan wilayah adalah pendapat yang &lt;em&gt;marjuh&lt;/em&gt;.&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-ii/#_edn8" name="_ednref8"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Pada tahun 1966 &lt;em&gt;Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyah&lt;/em&gt; di Kairo juga telah mengeluarkan keputusan bahwa ru’yatul hilal berdasarkan perbedaan matla’ meski negeri-negeri namun masih berada padaa malam yang sama tidak tepat. Oleh karena itu ketika hilal telah terlihat di salah satu negeri Arab maka hal tersebut juga berlalu bagi negeri-negeri lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Hal yang sama juga ditetapkan oleh &lt;em&gt;Majlis al-Fatwa al-A’la&lt;/em&gt; di Palestina yang menguatkan pendapat bahwa penglihatan di satu tempat berlaku bagi tempat yang lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Negara Bangsa&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Sayangnya pendapat para ulama di atas yang menyatakan bahwa rukyat hilal di satu negeri berlaku untuk negeri lain diabaikan oleh para penguasa mereka. Hal itu terjadi karena beberapa hal:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; margin-left: 36pt; margin-right: 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Seluruh negeri-negeri Islam saat ini telah mengadopsi faham sekularisme yang memisahkan urusan politik dengan agama. Akibatnya persoalan penetapan awal akhir Ramadlan tidak lagi didasarkan pada pendapat yang paling kuat dalilnya namun lebih didasarkan pada kemaslahatan mereka. Parahnya lagi mereka malah memintah kepada pada ulama untuk mendatangkan nash-nash yang mendukung pendapat mereka. Bukannya mereka menjadikan nash syara sebagai dasar keputusan mereka. Dengan demikian penguasalah yang membuat syariat sementara para ulama hanya menyetujui. Jika bertetangan maka yang dilaksanakan adalah pandangan penguasa.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; margin-left: 36pt; margin-right: 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Di samping itu umat Islam saat ini telah dibagi-bagi oleh negara-negara penjajah ke dalam puluhan negara bangsa yang terpisah antara satu dengan yang lain. Akibatnya masing-masing umat Islam di suatu negara menganggap dirinya bukan bagian dari ummat Islam yang secara syar’i harus bersatu. Akibatnya masing-masing negara menetapkan keputusan politik mereka termasuk dalam masalah keagamaan tanpa memperhatikan kaum muslim lainnya. Oleh karena itu dalam penentuan awal dan akhir Ramdlan masing-masing negara menetapkan sendiri keputusan mereka tanpa mempertimbangkan negeri-negeri yang lain apakah ada diantara mereka yang telah melihat hilal terlebih dahulu. Jika Malaysia telah melihat hilal namun Indonesia tidak melihatnya maka penduduk Malaysia berpuasa sementara penduduk Indonesia belum berpuasa termasuk mereka yang berada di daerah perbatasan meski jaraknya hanya sejengkal dan memiliki kesamaan matla’ berbeda dalam memulai dan mengakhiri puasa. Hal inilah yang sering dijumpai di negeri-negeri Islam. Jadi perbedaan tersebut bukan diakibatkan oleh perbedaan matla’ dimana para fuqaha berbeda pendapat namun lebih karena perbedaan batas negara, batas &lt;em&gt;imaginer&lt;/em&gt; buatan penjajah      yang telah mengkotak-kotakkan ummat Islam.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Inilah yang menjadi sebab bertahannya perbedaaan di negeri-negeri Islam khususnya yang berkenaan dengan awal dan akhir Ramadlan. Jika sekiranya neger-negeri tersebut menganggap diri mereka sebagai bagian dari ummat Islam yang lain maka akan dijumpai penyatuan sikap terhadap berbagai masalah termasuk dalam penetapan awal dan akhir Ramadlan. Di sinilah relevensi pentingnya eksistensi seorang khalifah yang menyatukan kaum muslim termasuk dalam penetapan awal dan akhir Ramadlan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; margin-bottom: 6pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Oleh karena itu setiap muslim di tempat manapun ia berada wajib untuk berpuasa jika telah mendengar pengumuman dari negeri muslim manapun selama masih dalam malam yang sama. Demikian pula dengan mengakhiri Ramadlan kecuali dari negeri yang menjadikan hisab falak sebagai sandaran keputusan mereka. Ini karena metode tersebut sebagaimana yang telah dijelaskan di atas adalah metode yang keliru. &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Wallahu a’lam bis shawab &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(muis)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;!--[if !supportEndnotes]--&gt; &lt;hr size="1" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt; &lt;div id="edn1"&gt; &lt;div class="MsoEndnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-ii/#_ednref1" name="_edn1"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Disadur dari Kitab &lt;em&gt;al-Jâmi’ li Ahkâmi as-Shiyâm&lt;/em&gt;, karya Mahmud Latif Uwaidhah dengan sejumlah penambahan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn2"&gt; &lt;div class="MsoEndnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-ii/#_ednref2" name="_edn2"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Lihat, Ibu Hajar, &lt;em&gt;Fath al-Bâry&lt;/em&gt;, I/121&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn3"&gt; &lt;div class="MsoEndnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-ii/#_ednref3" name="_edn3"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibid&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;, IV/123 &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn4"&gt; &lt;div class="MsoEndnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-ii/#_ednref4" name="_edn4"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Ibnu Qudamah, &lt;em&gt;al-Mughny&lt;/em&gt;, I/10&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn5"&gt; &lt;div class="MsoEndnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-ii/#_ednref5" name="_edn5"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Istidzkar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;, III/282&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn6"&gt; &lt;div class="MsoEndnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-ii/#_ednref6" name="_edn6"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;As-Syaukany, &lt;em&gt;Nailu al-Authâr&lt;/em&gt;, VI/267&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="edn7"&gt; &lt;div class="MsoEndnoteText" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-ii/#_ednref7" name="_edn7"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Ibid&lt;/em&gt;, VI/267&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-ii/#_ednref8" name="_edn8"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Lihat juga&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;as-Syaukany, &lt;em&gt;Nailu al-Authâr&lt;/em&gt;, VI/267&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3493988676080638915-8585823609361260217?l=hilyathasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hilyathasan.blogspot.com/feeds/8585823609361260217/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3493988676080638915&amp;postID=8585823609361260217&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/8585823609361260217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3493988676080638915/posts/default/8585823609361260217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hilyathasan.blogspot.com/2010/07/hukum-hukum-seputar-puasa-ii.html' title='Hukum-Hukum Seputar Puasa (II)'/><author><name>Hilyat Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04153284808943762507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_wh9C5gLrVJM/SoiPx06Vm7I/AAAAAAAAADU/BEKY3rsSXO8/S220/Image0112.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3493988676080638915.post-1547834618733422202</id><published>2010-07-31T04:45:00.002+07:00</published><updated>2010-07-31T04:45:56.292+07:00</updated><title type='text'>Hukum-Hukum Seputar Puasa (I)</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Keutamaan Puasa&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Definisi Puasa&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Puasa secara bahasa berarti: menahan (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;الِإمْسَاكُ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;, diam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;الصُمْتُ)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;, tidak bergerak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;الرُكُوْدُ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;dan yang semakna dengannya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Allah swt berfirman:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; (QS. Maryam [19]:26)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Adapun menurut syara’ puasa adalah: menahan diri dari segala yang membatalkan yakni makan, minum, hubungan seks’ memasukkan air ke tenggorokan melalui hidung &lt;em&gt;(isti’âth)&lt;/em&gt;, muntah dengan sengaja &lt;em&gt;(istiqâ)&lt;/em&gt; dengan niat bertaqarrub kepada Allah swt mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-i/#_edn1" name="_ednref1"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[i]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Keutamaan Puasa&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Banyak riwayat yang menjelaskan keutamaan ibadah puasa antara lain: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;1. Puasa merupakan ibadah yang memiliki keistimewaan dibandingkan dengan ibadah lainnya &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Setiap satu amal kebaikan anak Adam dilipatgandakan menjadi 10 kali lipat hingga 700 kali lipat. Allah swt ‘azza wa jalla berfirman: “Kecuali puasa karena ia untuk saya maka saya yang akan membalas untuknya karena ia telah mengabaikan syahwat dan makanannya demi saya. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kegembiraan: kegembiraan ketika ia berbuka dan kegembiraan ketika ia berjumpa dengan tuhannya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dibandingkan dengan bau minyak kasturi.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; (H.R. Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Salah satu keutamaan puasa menurut hadits di atas adalah bahwa untuk puasa Allah sendiri yang akan membalasnya. Kalimat tersebut menurut Ibnu Atsir telah dita’wilkan oleh para ulama dengan beragam. Namun inti dari makna tersebut adalah puasa merupakan rahasia antara Allah dengan seorang hamba dan tidak nampak dari orang lain.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Dengan demikian orang yang benar-benar berpuasa tidak mungkin melakukan kecuali ia ikhlas untuk taat.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Beliau juga menjelaskan bahw takwil yang menurutnya paling baik tentang hadits tersebut bahwa semua ibadah yang dijadikan sarana manusia untuk bertaqarrub kepada Allah swt seperti shalat, puasa, sedekah, i’tikaf, menyendiri, doa, kurban dll telah digunakan oleh orang-orang musyrik untuk menyembah tuhan-tuhan mereka dan apa-apa yang mereka jadikan sekutu atas Allah. Tidak terdengar satupun dari kelompok orang-orang musyrik di masa lampau yang menyembah dan bertaqarrub kepada tuhan-tuhan mereka dengan puasa.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Puasa tidak dikenal kecuali berasal dari syariat. Oleh karena itu Allah swt berfirman: puasa itu untukku dan aku yang akan membalasnya. Artinya tak seorang pun yang menyekutukan Aku dalam puasa dan selain Aku tidak ada yang disembah dengan puasa. Oleh karena itu hanya Aku yang membalasanya oleh diri-Ku dan tidak mewakilkan kepada seseorang yang disembah atau selainnya karena ia khusus untuk-Ku.&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-i/#_edn2" name="_ednref2"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[ii]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;An-Nawawy menambahkan bahwa frase “saya yang akan membalasnya” menunjukkan besarnya keutamaan puasa dan besarnya pahala yang diperoleh darinya. Hal ini karena jika Allah yang menginformasikan bahwa Ia sendiri yang akan membalasnya. Ini menunjukkan besarnya kadar pahala dan luasnya pemberian terhadapnya sebagaimana sabda Rasulullah saw:&lt;span&gt; &lt;/span&gt;“&lt;em&gt;bau mulut orang yang berpuasa di Hari Kiamat nanti lebih harum di sisi Allah dibandingkan dengan bau kasturi”&lt;/em&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-i/#_edn3" name="_ednref3"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[iii]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;2. Puasa dapat menghapuskan dosa. Dari Hudzifah bahwa beliau mendengar Rasulullah saw bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِى أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Dosa seseorang kepada istrinya, hartanya, dirinya, anaknya dan keluarganya dihapuskan oleh shalat, puasa, sedekah, amar ma’ruf dan nahi munkar.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; (HR. Bukhari Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;3. Puasa merupakan ibadah yang dapat melindungi seseorang dari siksa api neraka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عن &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;أبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَالَ اللهُ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائمٌ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Allah swt berfirman:&lt;em&gt; “Setiap perbuatan anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, maka ia adalah untuk saya dan saya yang akan membalasnya. Puasa itu adalah perisai. Jika seorang diantara kalian berpuasa maka janganlah ia berbicara cabul, berbuat gaduh. Jika ada yang mengejeknya atau memeranginya maka hendaklah ia berkata saya sedang berpuasa. Demi jiwa Muhammad yang berada di tangannya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau kasturi. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kegembiraan: ketika ia berbuka puasa maka ia bergembira dan ketika ia berjumpa dengan Tuhannya maka ia bergembira dengan puasanya.”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari, Muslim, an-Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Ibnu Hajar telah merangkum pendapat para ulama mengenai makna &lt;em&gt;junnah&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Junah&lt;/em&gt; menurut Ibnu Abdi al-Bâr adalah pelindung dari api neraka. Penulis kitab &lt;em&gt;an-Nihayah&lt;/em&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;mengartikannya sebagai pelindung bagi pelakunya dari hal-hal yang menyakiti dirinya akibat syahwat. Sementara al-Qurthuby berpendapat bahwa puasa merupakan pelindung jika dilakukan sesuai syariat sehingga orang yang berpuasa seharusnya melindungi dirinya dari hal-hal yang dapat merusak dan mengurangi pahalanya sebagaimana sabda Rasulullah saw: &lt;em&gt;“Jika kalian berpuasa maka janganlah kalian berkata keji…&lt;/em&gt;dst. Makna &lt;em&gt;junnah&lt;/em&gt; juga berarti pelindung berdasarkan faidahnya yaitu melemahkan syahwat. Kata tersebut juga dapat diartikan pelindung berdasarkan apa yang diperoleh berupa pahala dan dilipatgandakannya amal. Hal senada juga dinyatakan oleh Qadhi Iyyad dalam &lt;em&gt;al-Ikmal&lt;/em&gt; bahwa puasa merupakan pelindung dari dosa atau dari api neraka atau keduanya. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Makna yang terakhir juga dikuatkan oleh an-Nawawy. Ibnu al-Araby berpendapat puasa merupakan perisai dari api neraka karena ia menahan diri dari syahwat sementara neraka itu diliputi oleh syahwat. Dengan demikian jika seseorang menahan dirinya dari syahwat di dunia maka hal tersebut menjadi pelindung baginya dari api neraka di akhirat.”&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-i/#_edn4" name="_ednref4"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[iv]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Hal tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah saw:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;الصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنْ النَّارِ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنْ الْقِتَالِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Puasa adalah perisai api neraka sebagaimana perisai kalian dalam peperangan.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;” (HR. al-Khuzaimah. Al-’Adzmaiy berkata: sanadnya shahih)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Allah swt memberikan keistimewaan bagi orang-orang yang gemar berpuasa di Hari kiamat nanti.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عن سَهْلٍ رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ: الرَّيَّانُ، يدْخلُ مِنْهُ الصَّائمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائمُونَ، فَيَقُومُونَ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Sahal r.a. dari Nabi SAW beliau bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;em&gt;“Sesunguhnya di surga terdapat sebuah pintu yang dinamakan ar-Rayyan. Yang masuk di dalamnya adalah oran-orang yang berpuasa dan selain mereka tidak dapat masuk. Dikatakan: Dimana orang-orang yang berpuasa? Mereka pun berdiri dan tidak seorang pun dapat masuk ke dalamnya kecuali mereka. Ketika mereka masuk maka pintu itu pun tertutup sehingga tak seorang pun yang dapat masuk ke dalamnya.”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari, Muslim dan an-Nasai)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;4. Orang-orang yang berpuasa tidak akan ditolak doanya oleh Allah swt.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ تُحْمَلُ عَلَى الْغَمَامِ وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;“Tiga orang yang tidak akan ditolak doanya: Imam yang adil, orng yang berpuasa hingga ia berbuka dan dan orag orang yang didzalimi. Doanya diangkat ke awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Tuhan azza wa jalla berfirman: demi kemuliaanku saya pasti menolong engkau setelah ini.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; (H.R. Ahmad. Menurut al-Arnauth shahih, ibnu Hibban, al-Baihaqy)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;5. Puasa merupakan metode yang efektif untuk meredam gejolak syahwat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ بَيْنَا أَنَا أَمْشِي مَعَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari ‘Alqamah ia berkata: ketika saya berjalan bersama Abdullah r.a. ia berkata: Kami bersama Rasulullah saw lalu beliau bersabda: “Barangsiapa diantara kalian yang sanggup maka menikahlah karena ia dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu maka hendaknya ia berpuasa karena ia merupakan wijâ’.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, an-Nasai dan at-Tirmidzy). W&lt;em&gt;ijâ’&lt;/em&gt; artinya mengekang testis atau mengekang pembuluh darahnya sehingga menahan syahwat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Keutamaan Bulan Ramadlan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Berikut sejumlah riwayat yang menggambarkan keutamaan khusus dari bulan Ramadlan dan pelaksanaan ibadah puasa di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Apabila masuk bulan Ramadlan pintu rahmat dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Imam Nawawy mengatakan: &lt;em&gt;Me&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;nurut Qadhy Iyyad rahimahullah hadits ini bermakna lahir dan hakikat. Makna hakekatnya adalah pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu merupakan tanda masuknya bulan Ramdlan dan besarnya penghormatan atas bulan tersebut. Belenggu atas setan adalah mereka tercegah untuk menyakiti dan memperngaruhi orang-orang beriman. Makna Majaz hadits tersebut adalah isyarat atas banyaknya pahala dan pengampunan dan setan memiliki sedikit peluang untuk menggoda dan menghinakan kaum mu’min. dengan demkian mereka seperti terbelenggu dan belenggu mereka adalah sesuatu yang lain dan manusia. Pendapat ini dikuatkan oleh hadits di atas bahwa pintu rahmat dibuka dan dalam riwayat yang lain dikatakan kedurhakaan mereka dibelenggu. Al Qadli berkata: maksud pintu neraka dibuka adalah Allah membukakan bagi hamba-Nya berbagai ketaatan di bulan ini yang tidak terjadi dibulan lain secara umum seperti puasa, shalat malan dan berbagai kebaikan lainnya serta mencegah dari berbagai pelanggaran. Dan hal tersebut menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam surga dan pintunya demikian pula penutupan pintu neraka dan belenggu atas setan merupakan ungkapan atas tercegahnya seseorang dari berbagai pelanggaran.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/24/hukum-hukum-seputar-puasa-i/#_edn5" name="_ednref5"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[v]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed
