Twitter

Sponsors

~Demonstrasi dalam pandangan Islam~

Posted by Hilyat Hasan - -


Salah satu aktivitas yang cukup sering dilakukan oleh beberapa kalangan aktivis Islam dalam merespon beberapa permaslahan di dunia Islam salah satunya dengan aksi turun ke jalan, atau yang lebih dikenal dengan istilah demonstrasi atau Muzhaharah.

Dan rupanya aktivitas ini mendapat kritikan dari jamaah tertentu yang mengatakan bahwa aktvitas Muzharah tersebut merupakan suatu bid’ah, karena tidak ada tuntunannya di dalam Islam, baik dari nash al qur’an maupun al hadist. Mereka yang mengatakan bahwa demonstrasi tersebut merupakan suatu bid’ah dengan berdalil pada al hadist,

“Siapa saja yang membuat ajaran baru dalam agama ini dan bukan termasuk bagian darinya maka akan tertolak” [HR Muttafaqun Alaih]

Diriwayatkan oleh Muslim dan Bukhari secara mu’allaq.

“Artinya : Siapa saja yang melakukan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak”.

Mereka juga berdalil dengan argument bahwa di dalam demonstrasi ada tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang-orang kafir, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Siapa saja yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka” [HR Abu Dawud dengan sanad yang hasan]

Itulah beberapa argument yang dijadikan oleh para penentang aksi demonstrasi yang dilakukan oleh beberapa gerakan Islam di belahan bumi ini.

Nah, bagaimanakah sikap kita? Tentu dengan tidak bermaksud ingin mempertahankan pendapat atau ingin menunjukan sikap ashobiyyah terhadap pendapat kelompok, karena ashobiyyah haram hukumnya di dalam Islam. Tulisan ini hanya ingin memberikan gambaran tentang fakta tentang demonstrasi serta menyuguhkan dalil-dalil terkait dengan akvtivitas tersebut.

Islam mengajarkan bagaimana menghukumi sesuatu apakah halal, ataukah haram, sunah, makruh ataukah mubah. Yakni pertama adalah melakukan tahqiqul manath atau (penelaahan terhadap fakta), baru kemudian menetapkan hukum syara’nya.

Fakta tentang demonstrasi

Di dalam terminologi bahasa Arab, demonstrasi terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

1. Muzhaharah (demonstrasi), yaitu aksi sekelompok masyarakat di tempat-tempat umum untuk menuntut perkara-perkara tertentu yang sudah menjadi tugas negara atau para penanggung jawabnya. Para demonstran dalam aksinya tersebut biasanya melakukan pengrusakan, penghancuran, dan pembakaran barang-barang milik negara ataupun barang-barang milik individu.

2. Masirah (unjuk rasa), hampir sama dengan demonstrasi, yaitu aksi sekelompok masyarakat untuk mendukung atau menuntut sesuatu. Akan tetapi, tidak disertai pengrusakan, penghancuran, dan pembakaran atas barang-barang milik umum maupun khusus (milik individu).

Dengan demikian, muzhaharah (demonstrasi) tidak diperbolehkan (diharamkan) oleh Islam. Alasannya, di dalamnya disertai beberapa aktivitas yang diharamkan oleh syariat Islam, seperti: mengganggu ketertiban umum; merusak, menghancurkan, dan membakar fasilitas umum maupun barang-barang milik individu masyarakat. Tidak jarang pula, demonstrasi mengakibatkan perkelahian, penganiayaan, bahkan pembunuhan. Pengharamannya di dasarkan pada fakta bahwa di dalam demonstrasi terdapat sejumlah tindakan yang diharamkan oleh syariat Islam.

Aktivitas seperti ini adalah aktivitas meniru para sosialis yang terbiasa melakukan aksi pengrusakan disela-sela aksi mereka. Hal ini bisa dianggap sebagai aktivitas bertasyabuh dengan golongan tertentu. “Siapa saja yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka” [HR Abu Dawud dengan sanad yang hasan]

Meskipun demikian, ‘demonstrasi’ yang dilakukan dengan tertib; memperhatikan syariat Islam, termasuk menyangkut pendapat/aspirasi yang disampaikan; tanpa kekerasan; tidak mengganggu ketertiban umum dan hak-hak masyarakat; tidak membakar, merusak, dan menghancurkan barang-barang milik umum, negara, maupun milik individu adalah diperbolehkan. Inilah yang disebut dengan masirah (unjuk rasa).

Masîrah (unjuk rasa) merupakan salah satu cara (uslub) di antara berbagai cara pengungkapan aspirasi atau pendapat (ta‘bir ar-ra’yi). Oleh karena itu, aktivitas masîrah (unjuk rasa) bukanlah metode (tharîqah)—menurut Islam—dalam melakukan proses perubahan di masyarakat. Apabila kondisinya memungkinkan, masirah (unjuk rasa) dapat dilakukan. Sebaliknya, apabila kondisinya tidak memungkinkan, masîrah (unjuk rasa) tidak perlu dilakukan. Hal ini sesuai dengan hukum kebolehannya.
Masirah bukanlah metode dalam sebuah aktvitas dakwah. Ia hanya bersifat sebagai sebuah uslub dakwah, dan sebagai uslub dakwah ia bersifat mubah, bukan wajib.

Kita bisa melihat fakta bahwa Rasulullah saw tidak pernah menjadikan dan menggunakan unjuk rasa sebagai metode untuk mengubah masyarakat jahiliah di kota Makkah menjadi masyarakat Islam. Memang, beliau pernah melakukan aktivitas masîrah satu kali di kota Makkah. Beliau memerintahkan kaum Muslim keluar dan berjalan membentuk dua shaf barisan. Satu dipimpin oleh ‘Umar ibn al-Khaththab dan lainnya dipimpin oleh Hamzah ibn ‘Abdul Muthalib r.a. Dengan diiringi suara takbir, kaum Muslim berjalan mengelilingi Ka’bah. Yang dilakukan Rasulullah saw adalah mengambil salah satu cara (uslûb) yang tidak pernah dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat lain sebelumnya, yang ditujukan dalam rangka mengekspose dakwah Islam.

Pandangan Islam yang menjadikan masirah (unjuk rasa) sebagai uslub mengungkapkan aspirasi atau pendapat, yang bisa dilakukan bisa juga tidak, sangat berbeda dengan pandangan masyarakat Sosialis dan Komunis. Mereka menganggap muzhaharah (demonstrasi) sebagai salah satu metode baku (thariqah) dalam melakukan perubahan masyarakat. Bagi mereka, demonstrasi adalah semacam antitesa untuk menggerakkan proses perubahan masyarakat ke arah yang mereka inginkan. Oleh karena itu, apa pun akan mereka lakukan; termasuk dengan jalan merusak, menghancurkan, dan membakar fasilitas-fasilitas umum, negara, maupun barang-barang milik individu.

Berdasarkan hal ini, masyarakat Sosialis atau Komunis telah menjadikan muzhaharah (demonstrasi) sebagai metode baku dan ciri khas masyarakat mereka dalam melakukan perubahan di tengah-tengah masyarakat. Keberadaan demonstrasi adalah keharusan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi agar proses perubahan dapat bergulir. Dalam skala yang lebih luas lagi, mereka menyebutnya dengan revolusi rakyat. Dengan mengatasnamakan rakyat, mereka berhak menghancurkan, merusak, dan membakar fasilitas dan milik umum maupun milik individu. Tujuannya adalah untuk menghasilkan sebuah sintesa, yaitu sebuah masyarakat Sosialis atau Komunis yang mereka angan-angankan.

Bagi kaum Muslim, haram hukumnya melakukan demonstrasi (muzhaharah) seperti yang dilakukan oleh kaum Sosialis maupun Komunis; yakni dengan cara merusak, menghancurkan, dan membakar barang-barang milik masyarakat, negara, maupun milik individu. Bagi kita, kaum Muslim, darah seorang Muslim, harta kekayaan yang dimilikinya, dan kehormatannya haram ditumpahkan, dirampas, dan dilanggar oleh Muslim lainnya. Syariat Islam bahkan menjaga tiga perkara tersebut dalam pagar yang sangat rapat. Pelanggaran terhadap tiga perkara itu digolongkan ke dalam hukum-hukum hudûd, yaitu hukum yang bentuk pelanggaran dan sanksinya hanya ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Di samping itu, kita, kaum Muslim, tidak mengenal prinsip dan kaidah ‘menghalalkan segala cara’ (al-ghayah lâ tubarriru al-washilah), sebagaimana yang dianut oleh masyarakat Sosialis, Komunis, dan Kapitalis. Tindak-tanduk seorang Muslim, masyarakat Muslim, dan penguasa Muslim wajib terikat dengan syariat Islam; termasuk dalam mengungkapkan aspirasi atau pendapat dengan berunjuk rasa maupun dalam melakukan proses perubahan di tengah-tengah masyarakat. Tidak pantas seorang Muslim mengaku beriman kepada Allah Swt dan Rasul-Nya, sementara dalam mengungkapkan aspirasi/pendapat dan melakukan proses perubahan masyarakat agar menjadi masyarakat Islam, mereka lakukan dengan menghalalkan segala cara, mencampakkan tolok ukur halal-haram, dan membuang tuntunan syariat Islam. Allah Swt berfirman:

]وَمَا كَانَ لِمُـؤْمِنٍ وَلاَ مُـؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا
أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ[

Tidaklah patut bagi laki-laki Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada pilihan (selain hukum Islam) tentang urusan mereka. (QS al-Ahzab [33]: 36)

Itulah sekilas fakta dan hukum tentang demonstrasi yang sedikit bisa dijabarkan. adapun terkait dengan beberapa dalil yang menentang aksi demonstrasi tersebut akan diraikan di bawah ini.

Mereka yang mengatakan bahwa demonstrasi tersebut merupakan suatu Bid’ah

Dalil :

“Siapa saja yang membuat ajaran baru dalam agama ini dan bukan termasuk bagian darinya maka akan tertolak” [HR Muttafaqun Alaih]

Diriwayatkan oleh Muslim dan Bukhari secara mu’allaq.

“Artinya : Siapa saja yang melakukan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak”.

Jadi, menurut mereka bahwa aktvitas tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah maupun para sahabat. Padahal jika kita kaji sirah nabawiyah akan kita temui bahwa Beliau pernah memerintahkan kaum Muslim keluar dan berjalan membentuk dua shaf barisan. Satu dipimpin oleh ‘Umar ibn al-Khaththab dan lainnya dipimpin oleh Hamzah ibn ‘Abdul Muthalib r.a. Dengan diiringi suara takbir, kaum Muslim berjalan mengelilingi Ka’bah.

hukum asal masirah itu sendiri mengikuti hukum uslub yang status asalnya adalah mubah. Sebagaimana uslub (cara) yang lain, masirah sebagai salah satu uslub juga bisa digunakan untuk melaksanakan kewajiban, seperti menyampaikan seruan kepada para penguasa yang zalim atau mengoreksi kebijakan mereka. Hal ini dalam rangka melaksanakan sabda Nabi saw.:

«أَلاَ وَأَنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ»

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya jihad yang paling baik adalah (menyatakan) pernyataan hak kepada penguasa yang zalim. (HR al-Hakim).

Mereka yang mengatakan bahwa menasehati penguasa di tempat umum itu haram karena membuka aib.

Dalil :

Bersabda Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : “Janganlah kalian mencela pemimpin kalian dan janganlah kalian mendengki mereka, janganlah kalian membenci mereka, bertakwalah kepada Allah, bersabarlah karena urusan ini sudah dekat.” (HR. Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Al Albani)
“Penguasa adalah naungan Allah di muka bumi maka barangsiapa yang menghinakan penguasa maka Allah akan menghinakannya, barangsiapa yang memuliakan penguasa maka Allah akan memuliakannya.” (HR. Ibnu Abi Ashim, Ahmad, At Thayalisi, At Tirmidzi, dan Ibnu Hibban. Dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)

“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa maka janganlah melakukannya dengan terang-terangan di hadapan umum. Akan tetapi dengan cara mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri. Jika ia menerimanya maka inilah yang diharapkan, jika tidak menerimanya maka ia telah melakukan kewajibannya.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al Hakim, dan Baihaqi. Dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)

“Aku mendatangi Usamah bin Zaid radliyallahu 'anhu dan aku katakan : “Kenapa engkau tidak menasihati Utsman bin Affan untuk menegakkan hukum had atas Al Walid?” Maka Usamah berkata : “Apakah kamu mengira aku tidak menasihatinya kecuali harus dihadapanmu? Demi Allah sungguh aku telah menasihatinya secara sembunyi-sembunyi antara aku dan ia saja. Dan aku tidak ingin membuka pintu kejelekan dan aku bukanlah orang yang pertama kali membukanya.” (Atsar yang shahih diriwayatkan Bukhari dan Muslim)

Hadist-hadist diatas tidak tepat jika ditujukan untuk melarang aktivitas mengoreksi penguasa yang telah berlaku zalim terhadap rakyatnya. Hadist tersebut baru tepat digunakan jika aktvitas kemaksiatan itu bersifat individu yang tidak ada dampak terhadap kemaslahatan atau kemudharatan kepada masyarakat.

Apa yang dilakukan oleh para aktivis Islam bukanlah dalam rangka membongkar aib penguasa, namun adalah menasehati para penguasa agar kembali ke jalan yang benar.

Nasehat adalah hak setiap orang, mulai dari rakyat jelata hingga para penguasa. Artinya, mereka mempunyai hak untuk dinasehati, dan sebaliknya menjadi kewajiban bagi setiap orang Mukallaf, tatkala menyaksikan kemungkaran atau kezaliman yang dilakukan oleh orang lain; baik pelakunya penguasa maupun rakyat jelata. Inilah yang dinyatakan dalam hadits Nabi:

“Agama adalah nasehat, untuk Allah, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslim, dan orang-orang awam.” (H.r. al-Bukhari dan Muslim)

Karena itu, nasehat sebagai upaya mengubah perilaku munkar atau zalim orang lain —baik penguasa maupun rakyat jelata— sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari konteks dakwah bi al-lisan (melalui lisan maupun tulisan), sebagaimana sabda Nabi:

“Siapa saja yang menyaksikan kemunkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya.” (H.r. Muslim)

Inilah yang dilakukan oleh para ulama Salaf as-Shalih terdahulu, seperti Abdullah bin Yahya an-Nawawi kepada Sultan Badruddin. Dalam Tahdzib al-Asma’, karya Abu Yahya Muhyiddin bin Hazzam disebutkan, tatkala Abdullah bin Yahya an-Nawawi mengirim surat kepada Sultan Badruddin, dan baginda menjawab suratnya dengan marah dan nada ancaman, ulama’ ini pun menulis surat kembali kepada baginda, “Bagiku, ancaman itu tidak akan mengancam diriku sedikitpun. Akupun tidak akan mempedulikan-nya, dan upaya tersebut tidak akan menghalangiku untuk mena-sehati Sultan. Karena saya berkeyakinan, bahwa ini adalah ke-wajibanku dan orang lain, selain aku. Adapun apa yang menjadi konsekuensi dari kewajiban ini merupakan kebaikan dan tambahan kebajikan.” (H.r. al-Bukhari dan Muslim, Shahihayn, hadits no. 4520 dan 4976.)

Adapun jenis kemunkaran yang hendak diubah, dilihat dari aspek bagaimana pelakunya melakukan kemunkaran tersebut dapat diklasifi-kasikan menjadi dua:
Pertama, kemunkaran yang dilakukansecara diam-diam, rahasia dan pelakunya berusaha merahasiakannya;

Kedua, kemunkaran yang dilakukansecara terbuka, demonstratif dan pelakunya tidak berusaha untuk merahasiakannya, justru sebaliknya.

Jenis kemunkaran yang pertama, dan bagaimana cara mengubah kemunkaran tersebut dari pelakunya, tentu berbeda dengan kemunkaran yang kedua. Orang yang tahu perkara tersebut hendaknya menasehatinya secara diam-diam, dan kemunkaran yang dilakukannya pun tidak boleh dibongkar di depan umum. Aktivitas seperti inilah yang baru bisa dikenakan dengan dalil-dalil yang melarang untuk menasehati penguasa ditempat umum.

Berbeda dengan jenis kemunkaran yang kedua, yaitu kemunkaran yang dilakukan secara terbuka, dan terang-terangan. Dalam kasus seperti ini, pelaku kemunkaran tersebut sama saja dengan menelanjangi dirinya sendiri dengan kemunkaran yang dilakukannya. Untuk menyikapi jenis kemunkaran yang kedua ini, sikap orang Muslim terhadapnya dapat dipilah menjadi dua:

1- Jika kemaksiatan atau kemunkaran tersebut pengaruhnya terbatas pada individu pelakunya, dan tidak mempengaruhi publik, maka kemaksiatan atau kemunkaran seperti ini tidak boleh dibahas atau dijadikan perbincangan. Tujuannya agar kemunkaran tersebut tidak merusak pikiran dan perasaan kaum Muslim, dan untuk menjaga lisan mereka dari perkara yang sia-sia. Kecuali, jika kemaksiatan atau kemunkaran tersebut diungkapkan untuk mengingatkan masyarakat akan bahaya orang fasik yang melakukan kemaksiatan tersebut. Maka, pengungkapan seperti ini boleh.

2- Jika kemaksiatan atau kemunkaran tersebut pengaruhnya tidak terbatas pada individu pelakunya, sebaliknya telah mempengaruhi publik, misalnya seperti kemunkaran yang dilakukan oleh sebuah institusi, baik negara, organisasi, kelompok atau komunitas tertentu, maka kemaksiatan atau kemunkaran seperti ini justru wajib dibongkar dan diungkapkan kepada publik agar mereka mengetahui bahayanya untuk dijauhi dan ditinggalkan supaya mereka terhindar dari bahaya tersebut. Inilah yang biasanya disebut kasyf al-khuthath wa al-mu’amarah (membongkar rancangan dan konspirasi jahat) atau kasyf al-munkarat (membongkar kemunkaran).

Ini didasarkan pada sebuah hadits Zaid bin al-Arqam yang menga-takan, “Ketika aku dalam suatu peperangan, aku mendengar Abdullah bin ‘Ubay bin Salul berkata: ‘Janganlah kalian membelanjakan (harta kali an) kepada orang-orang yang berada di sekitar Rasulullah, agar mereka meninggal-kannya. Kalau kita nanti sudah kembali ke Madinah, pasti orang yang lebih mulia di antara kita akan mengusir yang lebih hina. Aku pun menceritakannya kepada pamanku atau ‘Umar, lalu beliau menceritakan-nya kepada Nabi saw. Beliau saw. pun memanggilku, dan aku pun menceritakannya kepada beliau.”(Ibn Hazzam, Tahdzib al-Asma’, Dar al-Fikr, Beirut, cet. Pertama, 1996, juz I, hal. 22.)

Apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Ubay, dan diketahui oleh Zaid bin al-Arqam, kemudian disampaikan kepada Rasulullah saw. adalah kemunkaran (kemaksiatan) yang membahayakan kemaslahatan Islam dan kaum Muslim, bukan hanya diri pelakunya. Abdullah bin Ubay sendiri ketika ditanya, dia mengelak tindakannya, yang berarti masuk kategori perbuatan yang ingin dirahasiakan oleh pelakunya, tetapi tindakan Zaid bin al-Arqam yang membongkar ihwal dan rahasia Abdullah bin Ubay tersebut ternyata dibenarkan oleh Nabi. Padahal, seharusnya tindakan memata-matai dan membongkar rahasia orang lain hukum asalnya tidak boleh. Perubahan status dari larangan menjadi boleh ini menjadi indikasi, bahwa hukum membeberkan dan membongkar rahasia seperti ini wajib, karena dampak bahayanya bersifat umum. (Hizbut Tahrir, Min Muqawwimat an-Nafsiyah al-Islamiyyah, Dar al-Ummah, Beirut, cet. Pertama, 2004, hal. 112-113).

Karena itu, tindakan mengkritik kebijakan zalim atau munkar yang dilakukan oleh penguasa, baik secara langsung ketika berada di hadapan-nya maupun tidak langsung, misalnya melalui tulisan, demonstrasi atau masirah, bukan saja boleh secara syar’i tetapi wajib. (Meski sebagai cara (uslub) menyampaikan pendapat, tulisan, demonstrasi atau ma-sirah tersebut statusnya tetap mubah, dan tidak berubah menjadi wajib. Yang wajib adalah menyampaikan nasehat dan kritik terhadap kebijakan zalim atau munkar yang dilakukan oleh penguasa)

Kewajiban ini bahkan pahalanya dinyatakan sebanding dengan pahala penghulu syuhada’, yaitu Hamzah bin Abdul Muthallib, seperti dalam hadits Nabi:

سَيِّدُالشُّهَدَاءِحَمْزَة
ُبْنُعَبْدِالمُطَلِّبِوَرَجُلٌقَالَإِلَىإِمَامٍجَائِرٍفَأَمَرَهُوَنَهَاهُفَقَتَلَهُ

“Penghulu syuhada’ adalah Hamzah bin Abdul Muthallib, dan orang yang berkata di hadapan seorang penguasa yang zalim, lalu dia memerintahkannya (pada kemakrufan) dan melarangnya (terhadap kemunkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya.” (H.r. al-Hakim)

Adapun pernyataan ‘Irbadh bin Ghanam yang menyatakan, “Siapa saja yang hendak menasehati seorang penguasa, maka dia tidak boleh mengemuka-kannya secara terbuka, tetapi hendaknya menarik tangannya dan menyendiri. Jika dia menerimanya, maka itu kebaikan baginya, dan jika tidak, pada dasarnya dia telah menunaikannya.” 5 pada dasarnya tidak menunjukkan adanya larangan mengkritik atau menasehati penguasa di depan publik, tetapi hanya menjelaskan salah satu cara (uslub) saja.

Dengan demikian, bisa disimpulkan, bahwa menasehati penguasa atau mengkritik kebijakan penguasa yang zalim, termasuk membongkar kemunkaran atau konspirasi jahat terhadap Islam dan kaum Muslim hukumnya wajib, hanya saja cara (uslub)-nya bisa beragam; bisa dilakukan langsung, dengan bertemu face to face, atau secara tidak langsung, dengan melalui tulisan, surat, demonstrasi atau masirah. Melakukan upaya dengan lisan, termasuk melalui tulisan, seperti surat terbuka, buletin, majalah, atau yang lain, baik langsung maupun tidak jelas lebih baik, ketimbang upaya bi al-qalb (dengan memendam ketidaksukaan), apalagi jika tidak melakukan apa-apa, sementara terus mengkritik orang lain yang telah melakukannya.

Pernyataan bahwa Wanita haram ikut masirah.

Mengenai boleh-tidaknya wanita melakukan masîrah, jelas hukumnya mubah:
Pertama, dilihat dari aspek keikutsertaan mereka dalam long march, atau rombongan perjalanan bersama kaum laki-laki di tempat terbuka. Keikutsertaan mereka dalam hal ini diperbolehkan, baik dengan atau tanpa mahram. Dalilnya, pada saat hijrah ke Habasyah, selain kaum laki-laki juga terdapat 16 kaum wanita yang ikut dalam rombongan perjalanan tersebut. (Ibn Hisyam, As-Sîrah an-Nabawiyyah, ed. Thaha ‘Abd ar-Ra’uf Sa’ad, Dar al-Jil, Beirut, cet. I, 1411, V/15.)
Kedua, dilihat dari aspek orasi, pidato atau penyampaian pendapat di tempat terbuka, hukumnya juga mubah; dilihat dari sisi bahwa suara wanita jelas bukan merupakan aurat. Ini dibuktikan dengan tindakan para sahabat laki-laki yang biasa bertanya kepada ‘Aisyah, jika mereka tidak memahami persoalan yang mereka hadapi, termasuk tentang kehidupan Rasulullah saw.

Di samping itu, bisa dilihat dari sisi penyampaian pendapat atau protes. Dalam hal ini, Ijma’ Sahabat telah menyatakan kemubahan sikap seorang wanita memprotes kebijakan penguasa, sebagaimana yang dilakukan oleh seorang wanita terhadap ‘Umar bin al-Khatthab selaku khalifah dalam kasus penetapan mahar. (Lihat penuturan Abu Hatim al-Basti, dalam Musnad sahihnya, dari Abu al-Ajfa’ as-Salami).
Dalam hal ini, tak seorang sahabat pun yang mengingkari tindakan wanita tersebut; mereka justru mendiamkannya. Padahal, tindakan tersebut dilakukan di tempat terbuka, di hadapan semua orang, dan jika bertentangan dengan hukum, seharusnya perkara tersebut diingkari; tetapi kenyataannya tidak. (Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, ed. Ahmad ‘Abd al-’Alim al-Barduni, Dar as-Sya’b, Beirut, cet. II, 1372, V/99)

Tindakan muhasabah semacam ini juga telah dilakukan oleh para sahabat wanita, seperti yang dilakukan oleh Asma’ binti Abu Bakar ketika mengoreksi tindakan para penguasa Bani Umayah yang selalu menghina keluarga ‘Ali bin Abi Thalib di atas mimbar-mimbar masjid. (Al-Ya’qubi, Târîkh al-Ya’qûbi, Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, t.t. )

Dalil-dalil di atas dengan jelas membuktikan, bahwa masirah (long march) sebagai sebuah uslûb (cara) untuk berdakwah dan menyampaikan pandangan hukum syariat atau protes terhadap pelanggaran hukum syariat jelas mubah. Kemubahan tersebut juga berlaku bukan hanya untuk kaum pria, tetapi juga untuk para wanita. Sebagaimana dalil-dalil dan alasan yang dikemukakan di atas.
Kesimpulan.

Hukum demonstrasi adalah mubah sebagai sebuah uslub dakwah, dalam hal ini adalah demonstrasi yang sesuai dengan syariah Islam, tidak bertasyabuh dengan golongan tertentu semisal masyarakat sosialis yang melakukan aksi dengan disertai pengrusakan. Adapun aktivitas mengkritik dan menasehati penguasa tersebut adalah wajib (Meski sebagai cara (uslub) menyampaikan pendapat, tulisan, demonstrasi atau ma-sirah tersebut statusnya tetap mubah, dan tidak berubah menjadi wajib. Yang wajib adalah menyampaikan nasehat dan kritik terhadap kebijakan zalim atau munkar yang dilakukan oleh penguasa)

Wallahu’alam bis showab.

bahan bacaan :
http://wisnusudibjo.wordpress.com/2008/10/29/demonstrasi-yang-boleh-dan-yang-terlarang/
http://hizbut-tahrir.or.id/2008/12/15/bolehkah-muslimah-melakukan-masirah/
http://www.almanhaj.or.id/content/2141/slash/0

4 Responses so far.

  1. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjelaskan petunjuk kepada umat manusia melalui ayat-ayat Qur’an dan sunnah Nabi-Nya dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Shalawat dan salam semoga terlimpah untuk Rasulullah yang memperjuangk...an kebenaran, menolongnya dan terus menyeru umatnya untuk memperjuangkan Dienullah hingga hari kiamat, juga kepada keluarga dan para sahabatnya.

    Menyampaikan kebenaran merupakan kewajiban bagi umat muslim, khususnya pada zaman sekarang ini, dimana kejahatan dan kezaliman begitu luar biasa. Sedangkan umat yang jumlahnya besar ini dalam posisi yang tertindas dan lemah secara politik. Akibatnya, sendirian memaklumatkan kebenaran beresiko tinggi dan kurang mengena. Sehingga perlunya kerja kolektif dan aksi masa untuk menyuarakannya, seperti mudhaharah, show of force, ataupun menyampaikan tuntutan secara bersama.

    Sebenarnya dalam syariat Islam kita (umat Islam) sudah dibimbing untuk melakukan mobilisasi masa, seperti dalam shalat Ied. Pada ibadah tahunan tersebut, umat Islam disunnahkan untuk keluar dan berkumpul di tempat terbuka. Bukan saja bagi yang disyariatkan shalat, orang-orang yang tidak wajib atau tidak disunnahkan shalat juga diperintahkan untuk ikut keluar supaya memperbanyak jumlah umat Islam. Di samping sebagai syi’ar ke-Islaman, juga sarana merayakan kesenangan mereka. Maka kenapa kita (umat Islam) tidak bersatu bersama saudara-saudara seiman untuk menyampaikan kebenaran dan menolak segala bentuk kezaliman, khususnya yang berkaitan dengan ajaran dien kita seperti aksi masa untuk menuntut pembubaran Ahmadiyah yang mengacak-acak dan membajak ajaran Islam.

    Kalau semua umat Islam Indonesia ini bersatu padu menyuarakan pembubaran Ahmadiyah, maka kekuatan tuntutan akan lebih besar. Dan pastinya, suara tersebut akan lebih diperhitungkan. Nilai preseur bagi pemerintah ini tentu lebih kuat, sehingga harapan umat agar kelompok yang menista kesucian ajaran Islam ditindak tegas dan dilarang dapat terealisir.

    Perlu diakui, bahwa umat Islam dalam kondisi yang lemah. Tidak ada kekuatan politik, militer dan persenjataan untuk melindungi ajaran Islam. Karena memang kepentingan negara ini bukan untuk menegakkan Islam. Namun kita masih punya leher, tubuh dan lisan untuk menyatakan penolakan terhadap ketidakadilan dan menodaan terhadap Islam. Maka inilah usaha minimal yang bisa kita perbuat.

    Sungguh tidak pantas di saat umat tidak menguasai persenjataan, ekonomi, pemerintahan, dan tokoh-tokoh yang bisa membela kehormatan Islam dan kaum muslimin, dan tidak tersisa kecuali suara dan tuntutan, lalu mereka tidak juga melakukan. Sungguh aneh dalam kondisi seperti ini ada sebagian umat yang menyerukan bakhil terhadap suara dan melarang umat menuntut hak mereka dengan aksi masa.

    Sungguh aneh sekali, di zaman penuh kebodohan dan kelaliman ini, ada sebagian kelompok umat Islam yang menunggu fatwa dari pemimpin zalim agar diizinkan mengingkari perbuatannya dan menunggu izin musuh untuk menolak segala kejahatannya.

    Sungguh aneh sekali, di zaman penuh kebodohan dan kelaliman ini, ada sebagian kelompok umat Islam yang menunggu fatwa dari pemimpin zalim agar diizinkan mengingkari perbuatannya dan menunggu izin musuh untuk menolak segala kejahatannya. Padahal aksi masa merupakan bagian dari sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, disepakati akal sehat, dan menjadi tradisi para ulama salaf. Sehingga mereka hanya bisa berteriak di kelompok pengajiannya tentang kesesatan Ahmadiyah dan kekurangajarannya, setelah itu mereka kembali ke rumahnya dan duduk bersama anak istrinya. Di mana bentuk pengingkaran mereka terhadap kesesatan? Di mana bentuk kecemburuan mereka terhadap dien mereka yang sudah diobok-obok dan dibajak?

  2. Berikut ini kami terangkan beberapa penjelasan untuk meluruskan paham orang yang menolak aksi masa dalam menyuarakan kebenaran dan menuntut dihinakannya kebatilan, salah satunya pembubaran dan pelarangan kegiatan Ahmadiyah di negeri mayorit...as muslim ini.

    Di saat suara tidak didengar kecuali bila didengungkan bersama-sama, maka menyuarakan kebenaran juga harus dilakukan serempak. Keluar bersama-sama untuk menunjukkan banyaknya masyarakat yang menuntut dan besarnya jumlah yang bersuara sangat dibutuhkan. Menurut Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq, aksi masa (mudhaharah/demo) pernah dijadikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai sarana untuk memperjuangkan Islam dan mendakwahkannya. Seperti yang diriwayatkan, kaum muslimin sesudah masuk Islamnya Umar radhiyallahu 'anhu, mereka keluar dengan perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam dua barisan (untuk menunjukkan kekuatan). Salah satunya diketuai oleh Hamzah, dan di barisan satunya lagi diketuai Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhu. Saat itu mereka sangat percaya diri sehingga mereka masuk masjid.

    Telah diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dengan sanad yang sampai kepada Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, di dalamnya disebutkan: Bahwa Umar bin Khathab pernah berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, “Wahai Rasululullah, bukankah kita ini berada di atas kebenaran walaupun kita mati atau tetap hidup? Beliau menjawab, “Benar, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya kalian berada di atas kebenaran walau kalian mati atau hidup.” Lalu Ibnu Abbas berkata, “Lalu kenapa kita harus sembunyi-sembunyi? Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, engkau harus keluar.” Lalu beliau memerintahkan kita keluar dalam dua barisan: Hamzah di salah satunya, sedangkan aku berada di barisan yang lain sehingga kami masuk masjid.” Lalu Umar menuturkan, babwa saat itu, kaum Quraisy tertimpa depresi (ketakutan) yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Sejak saat itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menggelari Umar dengan al-Faruq. Karena dengan melalui beliau, Allah memisahkan antara yang hak dan yang batil. (Lihat: Hilyah al-Auliya’: 1/40, al-Ishabah: 2/512, Fathul Baari: 7/59)

    Sebenarnya, bukti yang menguatkan absahnya aksi masa dalam menyuarakan kebenaran untuk keagungan Islam telah ditunjukkan oleh syi’ar dan syariatnya. Salah satunya shalat berjama’ah, shalat Jum’at, dan shalat dua hari raya. Bahkan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kepada para wanita haid dan dalam pingitan untuk tetap menghadiri tempat shalat Ied dengan tujuan, “Agar mereka menyaksikan kebaikan dan dakwah (khutbah) kaum muslimin.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, no. 1136) Kebaikan yang disaksikan di sini adalah banyaknya kaum muslimin dan menampakkan syi’ar keislaman.

    Sesungguhnya keterangan-keterangan di atas mengarah pada satu tujuan, yaitu menampakkan ‘izzah (kemuliaan) Islam dan memperbanyak jumlah kaum muslimin. Dan bab ini bagian dari dakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

    Sesungguhnya perkumpulan besar kaum muslimin di satu tempat, seperti shalat berjama’ah, shalat Jum’at, shalat ‘Ied untuk menunjukkan banyaknya orang yang memperoleh petunjuk dan besarnya jumlah kaum muslimin. Sunnah ini juga berlaku dalam peperangan, banyaknya jumlah personil dan lengkapnya persenjataan militer bisa membuat ciut nyali musuh dan menakut-nakuti musuh-musuh Allah serta bisa meninggikan kemuliaan Islam.

  3. Sesungguhnya kedudukan aksi masa atau protes masa (mudhaharah/demo) adalah bagian dari sarana. Dan asal hukum sarana adalah mubah. Dia mengikuti hukum tujuan/maksud yang ingin direalisasikan, jika itu baik maka hukumnya baik, begitu juga sebaliknya. Dan tujuan aksi bersama yang dilakukan kaum muslimin untuk memperjuangkan kebenaran, menolak kezaliman, menyingkap kedok dan kepentingan penguasa, membuka mata masyarakat, dan meluruskan opini mereka adalah bagian dari kebaikan dan dakwah. Bahkan bagian dari jihad yang paling utama, “Jihad paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan raja atau pemimpin yang lalim.” (HR. Abu Dawud dan lainnya dari Abu Sa’id al-Khudri. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam al-Shahihah, no. 491)

    Aksi demonstrasi juga pernah dilakukan seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan mendapat restu darinya. Pernah ada seseorang mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengadukan tetangganya. Lalu beliau menyuruhnya untuk menaruh perabot rumahnya di jalan. Lalu dilaksanakan nasihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tadi. Maka setiap orang yang melewatinya bertanya, “Apa yang terjadi denganmu?” Dia menjawab, “Tetanggaku mengganggu/menyakitiku.” Lalu orang yang lewat tadi mendoakan keburukan bagi tetangganya tadi. Kemudian datanglah tetangganya tadi kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberitahukan kondisinya, maka beliau bersabda, “Sungguh Allah telah melaknatmu sebelum manusia.” Kemudian dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Kemudian datanglah orang yang mengadu tadi kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau menyuruh untuk mengambil perabotnya. (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan al-Bazzar dengan sanad Hasan)

    Musuh-musuh Islam menebarkan syubhat di tengah-tengah masyarakat muslim, bahwa perbuatan tersebut sebagai tindakan haram, kegiatan para pemberontak, dan tasyabuh terhadap orang kafir.

    Jika umat Islam terkena syubhat tersebut, maka padamlah perlawanan kepada kebatilan.

    Musuh-musuh Islam menyadari bahwa aksi masa dan mudhaharah bagian dari strategi perang. Bahkan saat sekarang ini menjadi senjata yang paling menentukan. Mereka sangat khawatir akan kebangkitan umat Islam melalui aksi masa. Sehingga mereka menebarkan syubhat di tengah-tengah masyarakat muslim, bahwa perbuatan tersebut sebagai tindakan haram, kegiatan para pemberontak, dan tasyabuh terhadap orang kafir. Jika umat Islam terkena syubhat tersebut, maka padamlah perlawanan kepada kebatilan.

    Pada ringkasnya, bahwa aksi bersama untuk menyuarakan kebenaran dan menentang kebatilan merupakan sunnah yang disyariatkan dan senantiasa dibutuhkan. Allah telah menetapkannya sebagai sarana untuk menunjukkan keingkaran terhadap prilaku bejat, jahat dan merusak dalam firman-Nya,

    وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

    “Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Nuur: 2)

    Aksi masa juga disunnahkan untuk merayakan hari raya, menyambut Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, saat melepas pasukan dan merayakan kehadiran mereka. Aksi masa tersebut bertujuan untuk menunjukkan kekuatan umat Islam sehingga musuh atau pihak-pihak tertentu gentar dan ciut nyali sehingga tidak berani menghinakan Islam dan membea kebatilan. Aksi masa ini telah membuahkan hasilnya, seperti yang diakui Abu Sufyan sebelum memeluk Islam. Saat dia melihat besarnya jumlah umat muslim, maka dia tidak lagi berpikir membuat makar untuk melawan Islam.

    Maka jika saat ini umat Islam tidak menunjukkan aksi masa yang menampakkan besarnya jumlah dan persatuan mereka untuk menuntut hak-hak umat muslim, maka apa yang akan tersisa? Maka menampakkan kebenaran dan menumbangkan kebatilan dengan segenap sarana yang ada (mubah) telah dibenarkan oleh beberapa nash yang disebutkan di atas. Bahkan itu bagian dari sunnah yang ditegakkan oleh Islam. Wallahu Ta’ala a’lam.

  4. Komentar itu semua saya kopi dari sini

    Demo: Sarana Menghidupkan Sunnah & Merealisasikan Tujuan Syariah
    www.voa-islam.com