Twitter

Sponsors

Asma binti Yazid bin As Sakan

Posted by Hilyat Hasan - -

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah utusan bagi seluruh wanita di belakangku. Seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan, apa yang kutanyakan sama dengan pernyataan mereka dan pendapat mereka sama dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah Ta'ala mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan perempuan, kemudian kami beriman kepadamu dan membai'atmu. Adapun kami para perempuan terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami hanyalah tiang penyangga (pengurus) rumah tangga kaum laki-laki, dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka. Kamilah yang mengandung anak-anak mereka, akan tetapi kaum laki-laki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat jum'at, mengantar jenazah dan berjihad. Apabila mereka keluar rumah untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka dan mendidik anak-anak mereka. Maka apakah kami juga mendapat pahala sebagimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?"
Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah SAW tertawa dan menoleh kepada para shahabat seraya bersabda, " Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang Dien yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?". Para shahabat menjawab, "Benar, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah!" Kemudian Rasulullah SAW bersabda, "Kembalilah wahai Asma' dan beritahukanlah kepada para wanita yang berada di belakangmu (mengutusmu) bahwa perlakuan baik salah seorang di antara mereka kepada suaminya, dan meminta keridhaan suaminya, mengikuti (patuh terhadap) apa yang disetujuinya, itu semua setimpal (dapat menyamai pahala) dari seluruh amal laki-laki yang kamu sebutkan tadi".
Maka Asma kembali kepada kaumnya sambil bertahlil dan bertakbir karena merasa gembira dengan apa yang disampaikan Rasulullah SAW kepadanya.

Hadist di atas adalah hadist tentang Asma binti Yazid bin Sakan bin Rafi bin Imri'il Qais bin Abdul Asyhal bin Haris al-Anshariyyah, al-Ausiyyah al-Asyhaliyyah. sosok cerdas dan tegas juga pandai dalam menyampaikan pendapat sehingga beliau dijuluki juru bicara wanita.pada masa hidup Rasulullah. Beliau juga dikenal sebagai ahlul hadist dan meriwayatkan 80 hadist. Didorong keinginannya yang begitu besar untuk ikut berjihad bersama kaum laki-laki itulah maka beliau bertanya kepada Rasul sebagaimana hadist yang telah disebutkan di atas.


Asma binti Yazid bersama suaminya termasuk rombongan yang berhijrah ke Habasyah demi menghindari makin sengitnya kaum Quraisy memusuhi kaum Muslimin. Setelah kondisi di Mekkah membaik maka mereka kembali ke Mekkah. Pada hijrah berikutnya ketika kaum Muslimin diperintahkan untuk bergerak menuju Madinah, beliau terpaksa merelakan suaminya hijrah tanpa dirinya karena dipersulit oleh keluarganya dengan menyandera anak mereka. Hal ini berlangsung selama setahun hingga dengan tekad yang bulat dan ketegaran serta kepasrahan kepada Allah, beliau bersama anaknya berhasil meloloskan diri dari tawanan keluarga dan menyusul suaminya ke Madinah.

Asma binti Yazid adalah wanita yang disebut Allah dalam surat Al Mumtahanah dengan kedatangan beliau bersama rombongan para wanita di tahun pertama hijrah kepada Rasul SAW untuk melakukan bai'at islam.
"Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS al Mumtahanah : 12).

Bai'at Asma' adalah untuk jujur dan ikhlas, sebagimana yang disebutkan riwayatnya dalam sirah bahwa Asma' mengenakan dua gelang emas yang besar, lalu Nabi memerintahkan beliau untuk menanggalkannya, "Tanggalkanlah kedua gelangmu wahai Asma', tidakkah kamu takut jika Allah mengenakan gelang kepadamu dengan gelang dari api neraka?". Maka tanpa ragu-ragu Asma' melepaskan gelangnya dan meletakkannya di depan Rasulullah SAW.

Setelah itu Asma' rajin dan tekun mendengarkan hadist-hadist Rasul SAW dan pelajaran dari beliau. Sesuatu yang spesial dari sosok Asma' adalah kepekaan dan kehalusan budi bahasanya namun tidak malu untuk bertanya tentang persoalan-persoalan haq yang membuat beliau faham terhadap masalah dien. Beliaulah wanita yang bertanya kepada Rasul SAW tentang tata cara thaharah bagi wanita yang sudah bersih dari haidh.

Asma' binti Yazid selain sosok yang cerdas dan bagus dien-nya juga adalah mujahidah tangguh dan pemberani. Dalam kitab al Bidayah wa an Nihayah, al Hafizh Ibnu Katsir disebutkan bahwa pada perang Yarmuk yang terjadi di tahun 13 Hijriyah setelah kematian Rasul, para wanita muslimah banyak yang ikut andil dan berperan di medan jihad. Beliau, Ibnu Katsir berkata : "Mereka berperang dengan perang besar-besaran hingga para wanita turut berperang di belakang mereka dengan gagah berani". Dalam perang besar itu Asma' bersama wanita mukminah lainnya berada di barisan belakang laki-laki. Semuanya berusaha mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatan untuk mensuplai persenjataan pasukan laki-laki. Memberi minum dan mengurus mereka yang terluka serta mengobarkan semangat jihad pasukan. Ibnu Katsir berkata : "Para wanita menghadang mujahidin yang lari dari berkecamuknya perang dan memukul mereka dengan kayu dan melempari mereka dengan batu.". Khaulah binti Tsa'labah berkata, "Wahai kalian yang lari dari wanita yang bertakwa. Tidak akan kalian lihat tawanan. Tidak pula perlindungan. Tidak juga keridhaan.". Ibnu Katsir juga berkata, "Pada hari itu kaum muslimah berperang dan berhasil membunuh banyak tentara Romawi, akan tetapi mereka memukul kaum muslimin yang lari dari kancah peperangan hingga mereka kembali untuk berperang". Ketika Asma' menyaksikan peperangan semakin berkecamuk dan suasana panas membara, beliau menyadari dirinya adalah seorang muslimah mukminah dan mampu berjihad dengan sekuat tenaga dan kesungguhan. Meskipun tidak berbekal senjata yang sesungguhnya, Asma dengan kecerdasan dan keberaniannya melihat tiang penyangga kemah yang dapat digunakan untuk menyerang musuh. Dan dengan izin Allah beliau membunuh sembilan tentara Romawi dengan tiang kemah sebagaimana yang dikisahkan Imam Ibnu Hajar, "Dialah Asma' binti Yazid bin Sakan yang menyertai perang Yarmuk dan membunuh sembilan tentara Romawi dengan tiang kemah, kemudian beliau masih hidup selama beberapa tahun setelah peperangan tersebut".

Asma' keluar dari medan perang dengan luka parah sebagaimana yang dialami pasukan kaum muslimin lainnya. Akan tetapi Allah berkehendak beliau tetap hidup hingga 17 tahun kemudian dan wafat di tahun 30 Hijriyah setelah meninggalkan banyak kebaikan. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada Asma' binti Yazid bin as-Sakan dan memuliakannya disisi Allah SWT atas berbagai hadist yang telah diriwayatkan dan atas segala pengorbanannya berupa kerelaan dan dan tekadnya yang kuat untuk membela dan mempertahankan agama Allah hingga agama Allah tegak di muka bumi.