Twitter

Sponsors

Negeri yang Pandai Menghibur Diri

Posted by Hilyat Hasan - -

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Kalau dipikir-pikir, apa sih manfaatnya infotainment? Dari namanya saja sudah jelas betapa kejinya : infotainment = information + entertainment. Apa artinya ini? Apakah info-info tertentu dianggap sebagai hiburan?

Informasi mengenai perang saudara yang berhenti berkecamuk jelas menghibur. Lokalisasi digusur adalah sebuah berita bagus. Ditangkapnya koruptor kelas kakap juga membuat hati rakyat terhibur. Tapi apa gerangan kandungan infotainment itu sebenarnya?
• Perceraian.
• Perselingkuhan.
• Pacar baru kaum selebriti.
• Sengketa antar artis.
• dan hal-hal tidak penting lainnya.
Perceraian artis. Benarkah hal itu adalah sebuah hiburan? Betulkah perselingkuhan itu nampak manis jika dilakukan oleh orang-orang terkenal? Apakah seorang selebriti yang punya pacar baru memang sebuah berita yang penting untuk diketahui? Apakah sengketa antar artis itu memang enak ditonton?

Information + entertainment. Sebuah formula yang menakjubkan.

Informasi yang menghibur! Duhai, betapa kejamnya orang yang menganggap penderitaan orang lain sebagai hiburan! Seberapa kejikah mereka yang menganggap perceraian sebagai bumbu yang menarik untuk diceritakan? Sesedap apakah berita buruk itu terdengar di telinga mereka?

Hiburan! Entah bagaimana keadaan moral sebuah bangsa yang menganggap kemalangan pribadi orang lain sebagai hiburan. Tidak heran rasanya jika bangsa ini semakin bobrok seperti kursi yang dilahap rayap. Tanya kenapa! Tanya pada siapa?

Jangan bingung jika ada massa berkerumun mengelilingi sebuah mobil yang terbalik karena kecelakaan di jalan raya, namun sedikit sekali yang benar-benar menolong. Jangan heran kalau banyak yang mengurut dada menyaksikan bencana di depan layar televisi, namun menyumbang doa pun tidak. Jangan salahkan siapa-siapa jika korupsi merambah sampai ke tingkat lurah atau bahkan hansip. Janganlah marah melihat orang tua memaki anaknya di depan umum, guru yang menempeleng siswanya di depan kelas, atau preman yang minta duit seenaknya pada para pedagang kaki lima. Jangan penasaran! Semua ini hanya hiburan.

Kenyataannya, memang banyak yang menikmati hiburan celaka semacam ini. Apa yang terjadi jika berita buruk sampai ke telinga? Mengurut dada sambil berujar, “Aduh, kasihan sekali mereka... Andai saya bisa membantu...”

Andai, andai dan andai. Seolah ada saja alternatif atas takdir Allah. Kenyataannya, semua yang diandaikan tidak pernah terwujud, karena memang tidak ada usaha untuk mewujudkannya. Tidak bisa membantu itu wajar dan manusiawi. Tapi lantas bagaimana? Setelah wajah berpaling, tidak ada lagi bekas dari simpati yang tadi membuncah. Jangan lagi membicarakan empati.

Semua orang hanya mengasihani dirinya sendiri. Masalahnya sendiri adalah masalah terbesar di dunia, dan tak ada yang bisa menandinginya dalam kompetisi orang tersial sedunia. Seolah lupa bahwa ucapan itu sebenarnya bisa menjerumuskannya dalam kekafiran, lantaran berani menghujat jalan hidup yang telah Allah pilihkan. Maka, sebagai orang tersial di dunia, satu-satunya hiburan adalah menikmati kemalangan orang lain. Mengapa harus merasa bersalah, jika memang merasa paling susah sejagat?

Jangan pusing-pusing memikirkan mentalitas kacung bangsa kita. Sebabnya sudah jelas. Tidak ada pemimpin yang kuat, karena memang tidak ada yang cukup bernyali. Semua orang sibuk dengan kesulitannya masing-masing. Tidak ada lagi sisa empati untuk orang lain. Kesusahan orang lain adalah makanan lezat yang telah tersaji di atas meja, menunggu tangan-tangan untuk berebut mengambilnya.

Jika engkau mampu menahankan jijik, santaplah bangkai saudaramu itu. Nikmatilah penderitaannya. Saksikan baik-baik! Bagaimana? Lezatkah? Ingin tambah?

Wassalaamu’alaikum wr. wb.
copied from Abdullah Ibnu Abdullah's Note
_________________________________________________________________

One Response so far.

  1. So simply does not happen