Twitter

Sponsors

Merindukan Aki

Posted by Hilyat Hasan - -

by Hilyat Hasan
"Poot......poot.......", dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara itu. Sangat khas, cukup lantang dan jelas untuk orang seumuran "aki". Aku dan anak-anak biasa memanggil beliau "Aki pot" karena profesinya sebagai penjual pot bunga dari tanah liat. Usianya entah berapa, karena beliau sendiri tidak tahu tahun berapa kelahirannya. Biasalah mungkin untuk orang-orang jaman dulu jarang ada yang mencatat tanggal kelahiran anak-anak mereka akan tetapi menandainya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari itu. Aki hanya ingat bahwa beliau merasakan pahitnya masa penjajahan belanda dan jepang.
Menilik sosok beliau yang sudah renta dimakan usia dan "kesusahan hidup" kami memperkirkan usia beliau sudah di atas 75an. Saya katakan kesusahan hidup karena Aki pernah menceritakan kondisi beliau padaku dan suami bahwa sudah lama ditinggal wafat sang istri dan tidak memiliki anak, karena anak satu-satunya pun juga sudah menyusul ibunya. Untuk makan sehari-hari, Aki mengandalkan hasil keuntungan penjualan dari pot yang tentu tidak seberapa. Kadangkala tetangga berbaik hati mengantarkan gula dan kopi serta kue atau nasi dan lauk seadanya.....
Begitulah Aki, setiap hari lewat depan rumahku sambil mendorong gerobak berisi pot berbagai ukuran dengan suaranya yang khas. Kadang beliau berhenti di depan rumah sekedar untuk menyapa kami dan anak-anak sekalian istirahat sebentar melepas lelah. Maklum beliau sudah menempuh jarak yang jauh dengan berjalan kaki....15 km dari tempat tinggalnya ke komplek kami.
Bila Aki mampir, anak-anak yang rame memanggilku yang lagi di dalam rumah agar membawakan Aki minuman penghilang haus, meski cuma air putih. Kadang kala (tanpa bermaksud tasmi' ; menyebut-nyebut kebajikan) suamiku menitipkan uang sekedarnya untuk beliau. Disinilah kami melihat sosok Aki sebagai pribadi yang sholeh. Setiap kali menerima titipan suami, maka beliau dengan fasih dan jelas mendo'akan kami berbagai kebaikan. Anak-anak pun dengan perhatian mendengarkan do'a Aki, duduk di dekat beliau di depan pintu rumah kami (Aki tak pernah mau masuk ke rumah kami meski suamiku sedang ada di rumah dengan alasan sungkan dan malu....o betapa lugu dan bersahajanya Aki).Setelah itu anak-anak pasti seru bertanya pada Aki apa saja, rumahnya dimana, jauh nggak, cape nggak jalan jauh......hmm anak-anak melihat mereka sangat menyukai Aki aku heran juga. Karena siapa Aki? kami tidak memiliki pertalian darah atau hubungan apapun kecuali ikatan aqidah.
Sejak kapan keluargaku mengenal Aki? Sepertinya tidak terlalu lama. Awalnya di tahun 2003 atau 2004 waktu aku sakit dan membutuhkan therapy serta perlu rileks tidak kepikiran dengan itu penyakit, dokter menyarankan untuk mencari kesibukan yang ringan dan tidak melelahkan. Salah satunya mengurus tanaman. Entah kebetulan atau memang Aki sudah sering lewat depan rumah menjajakan pot, mulai itulah pertemanan keluarga kami dengan beliau. Mulai dari anakku baru dua orang hingga bertambah jadi lima. Aki rajin menyambangi kami dan menawariku pot yang kuperlukan untuk  bunga-bunga yang kutaruh diteras rumah kami yang tidak seberapa luas. Hingga aku sembuh dari penyakitku (dengan kehamilan anakku yang ketiga) dan pot bungaku sudah terlalu banyak sampai kutitipkan tetangga sebelah rumah ^___^ , Aki tetap rajin lewat atau mampir ke rumah kami, meski aku sudah tidak beli pot beliau lagi.
Terakhir Aki mampir, kupanggil sewaktu lewat dengan dagangannya sepertinya bulan kemarin, tiga minggu sebelum puasa. Kala itu anak-anak yang langsung 'menodong' Aki berdo'a. Maka terdengarlah beliau mendo'akan kami. Terasa sejuk hatiku mendengarkan do'a beliau. Saat itu aku berharap agar pada Ramadlan nanti, Aki mampir lagi ke rumah kami.......
Ini sudah hari ke 9 Ramadlan, tapi kami belum melihat sosok Aki atau sekedar mendengar suaranya sayup-sayup menjajakan dagangannya. "Pooot......pooot....". Ada rindu terselip di dada kami untuk bertemu Aki, berbagi rezeki ala kadarnya untuk beliau, mendengarkan do'a beliau juga melihat sosok beliau. Meski sudah tua dan tentu tidak memiliki tenaga yang kuat, beliau tetap gigih mencari nafkah dengan menjual pot-pot bunga yang bebannya berat tersebut. Aki....mestinya anak-anak muda mesti malu karena tidak seperti Aki. Meski sudah tidak muda lagi, Aki tetap berupaya menafkahi dirinya sendiri walaupun dirasakan sangat berat. Anak-anak muda sekarang yang tidak punya pekerjaan (atau tidak mau susah jadi kuli) hanya menjadi pengamen atau parahnya 'pengemis' dan lebih parah lagi jadi maling, jambret, preman dsb. 
Kala jiwa Islam melekat pada seseorang, maka bisa kita saksikan sosok "Aki" yang tetap gigih diusia senjanya mencari nafkah, tidak bergantung pada orang lain....Aki kami rindu padamu, semoga engkau baik-baik saja dimanapun berada.